Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At Taubah: 100)

Jumat, 19 September 2025

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (16)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti



Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu'anha beliau berkata, 

Manusia di masa hidup nabi ﷺ apabila salah satu dari mereka berdiri shalat, pandangan matanya tidak melewati letak kedua kaki. 

Kemudian Rasulullah ﷺ wafat, dan manusia saat itu apabila salah satu dari mereka berdiri shalat, pandangan matanya tidak melewati letak pinggang.

Lalu wafatlah Umar, dan manusia saat itu apabila salah satu dari mereka berdiri shalat, pandangan matanya tidak melewati arah kiblat.

Lalu wafatlah Utsman, dan saat itulah terjadi fitnah. Manusia pun menoleh ke kanan dan ke kiri (ketika shalat).

Disebutkan di dalam Shahih Bukhari dari Aisyah radhiyallahu'anha, beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang menoleh ketika shalat? Beliau menjawab, 

هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ. 

"Itu adalah curian, yang syaithan mencurinya dari shalatnya hamba".

#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (15)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

MENOLEH DI DALAM SHALAT MENAFIKAN KEKHUSYUKAN

Dan termasuk dari perkara yang terlihat padanya khusyuk ketika shalat adalah tidak menoleh kepada selain tempat sujud.

Dan itu ada dua macam;

Pertama: tidak menoleh hatinya kepada sesuatu yang itu tidak diperbolehkan di dalam shalat, dan kemudian menfokuskan hatinya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Disebutkan di dalam Shahih Muslim dari Amr bin Anbasah radhiyallahu'anhu dari Nabi ﷺ bahwasannya beliau bersabda tentang keutamaan dan pahala berwudhu,

فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ 

"Dan bila ia berdiri dan shalat lalu memuji Allah serta menyanjung-Nya dan juga memuji-Nya dengan sesuatu yang memang Dialah yang berhak atasnya lalu mengkhusyukkan hatinya semata-semata hanya untuk Allah, maka niscaya akan pergi darinya dosa-dosanya sebagaimana hari ia dilahirkan oleh ibunya."

Kedua: tidak menoleh pandangan matanya ke kanan dan ke kiri, dan hanya mengarah ke tempat sujud.

Ini termasuk dari pengaruh khusyuknya hati, dan tidak menolehnya. Karenanya ketika sebagian salaf melihat seseorang yang shalat dan melakukan gerakan sia-sia di dalam shalatnya, ia berkata, "Seandainya hati orang ini khusyuk tentu anggota badannya akan ikut khusyuk". Dan telah lewat penyebutannya.

Ath-Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu berkata, "Dahulu Nabi ﷺ menoleh ke kanan dan ke kiri ketika shalat, kemudian Allah menurunkan firman-Nya, 

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۝١ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya". Qs. Al-Mukminun: 1-2.

Maka Rasulullah ﷺ pun khusyuk dan tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Atsar ini juga diriwayatkan oleh selain Ath-Thabrani dari Ibnu Sirin secara mursal, dan ini yang lebih shahih.

#TERJEMAH 
#Fawaid_Ibnu_Rajab 

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (14)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

GERAKAN SHALAT YANG MENAMPAKKAN KEKHUSYUKAN

Termasuk perkara yang nampak padanya khusyuk, dan merendahkan diri dari gerakan-gerakan shalat ialah meletakkan salah satu tangan di atas tangan yang lain ketika sedang berdiri.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah bahwasannya beliau pernah ditanya akan maksud dari bersedekap, beliau menjawab, "Itu sebagai bentuk merendahkan diri di hadapan Allah".

Ali bin Muhammad Al-Mishriy Al-Wa'izh rahimahullah berkomentar, "Aku belum pernah mendengar ilmu yang lebih bagus daripada pernyataan (Imam Ahmad) ini.

Diriwayatkan dari Bisyr Al-Hafiy rahimahullah, beliau berkata, "Sejak empat puluh tahun ini aku sangat ingin meletakkan tanganku di atas tangan yang lain di dalam shalat. Tiada yang menghalangiku melakukan itu melainkan karena dengan itu aku menampakkan kekhusyukan yang tidak muncul kekhusyukan semisalnya dalam hatiku".

Muhammad bin Nashr meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, beliau berkata, "Manusia dikumpulkan di padang mahsyar pada hari kiamat nanti sesuai dengan apa yang dilakukan di dalam shalat".

Sebagian perawi hadits tersebut menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah tangan kanan menggenggam tangan kiri dan menundukkan kepala.

Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Shalih As-Saman beliau berkata, "Manusia dibangkitkan pada hari kiamat seperti ini". Lalu beliau meletakkan salah satu tangannya di atas tangan yang lain.

Memperhatikan makna tentang meletakkan satu tangan di atas yang lain di dalam shalat tentunya mengharuskan orang yang sedang shalat supaya merenungkan keadaan dirinya saat berdiri di hadapan Allah untuk penghisaban.

Dzun Nun ketika menerangkan sifat para ahli ibadah berkata, "Kalau aku melihat salah satu mereka ketika ia berdiri untuk shalat dan berdiri di tempat shalatnya kemudian mulai membaca surat Al-Fatihah, terbetik dalam hatinya perasaan bahwa keadaan berdirinya itu seperti keadaan berdirinya manusia di hadapan Rabb semesta alam pada (hari kiamat), sehingga menjadi khusyuk hatinya dan fokus pikirannya". Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim rahimahullah.

#TERJEMAH KITAB
#Fawaid_Ibnu_Rajab 

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (13)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti


PENJELASAN MAKNA KHUSYUK DI DALAM SHALAT

Allah ta'ala telah mensyariatkan kepada para hamba-Nya berbagai macam ibadah yang menjadi tampak padanya khusyuknya badan yang lahir dari khusyuknya hati. 

Shalat merupakan termasuk ibadah yang memunculkan khusyuk padanya. Allah ta'ala juga memuji orang-orang yang khusyuk di dalam shalatnya. Allah berfirman,

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۝١ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya". Qs. Al-Mukminun: 1-2.

Dan telah lewat penyebutan ucapan para salaf terkait khusyuk di dalam shalat.

Berkata Ibnu Lahi'ah, dari Atha bin Yassar rahimahullah, dari Sa'id bin Jubair (berkata, "Firman-Nya) 

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

"(yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya", yaitu mereka adalah orang-orang yang menunduk sehingga tidak tahu siapa yang di samping kanannya, dan siapa yang di samping kirinya, dan tidak menoleh karena khusyuk kepada Allah Azza Wa Jalla".

Berkata Ibnul Mubarok, dari Abu Ja'far, dari Laits, dari Mujahid, "(Firman-Nya),

وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

"Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk." Qs. Al-Baqarah: 238, Mujahid menerangkan, "Al-Qunut adalah tenang, khusyuk, menundukkan pandangan, dan merendahkan sayap karena rahmat Allah".

Mujahid melanjutkan, "Para ulama dahulu apabila salah satu mereka melaksanakan shalat, mereka merasa takut kepada Allah ketika pandangannya melenceng, menoleh, bermain kerikil, melakukan perbuatan sia-sia, atau memikirkan dalam hatinya tentang perkara dunia selagi masih shalat, kecuali ketika dia lupa".

Berkata Mashur, dari Mujahid tentang firman-Nya,

سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗ

"Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud". Qs. Al-Fath: 29. Mujahid berkata, "Yaitu  khusyuk di dalam shalat".

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Utsman radhiyallahu'anhu dari Nabi ﷺ bersabda,

ما مِنَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ فيُحْسِنُ وُضُوءَها وخُشُوعَها ورُكُوعَها، إلَّا كانَتْ كَفَّارَةً لِما قَبْلَها مِنَ الذُّنُوبِ ما لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وذلكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ.

"Tidaklah ada seorang muslim ketika tiba waktunya shalat wajib lalu ia memperbagus wudhunya, khusyuknya, dan ruku'nya melainkan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu setiap masa semuanya".

#Fawaid_Ibnu_Rajab 
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (12)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

BERLINDUNG DARI HATI YANG TIDAK KHUSYUK DAN PENJELASAN SIFAT HAMBA AR RAHMAN


Sungguh Nabi ﷺ berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Muslim dari Zaid bin Arqam, bahwasannya Nabi ﷺ dahulu berdoa,

اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ منَ الأربعِ ، مِن عِلمٍ لا ينفَعُ ، ومِن قَلبٍ لا يخشَعُ ، ومِن نَفسٍ لا تَشبعُ ، ومِن دُعوة لا يستحاب له

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan". Diriwiyatkan juga hadits semisal, dari Nabi ﷺ dengan beragam bentuk rangkaian.

Diriwayatkan dari Ka'ab Al-Ahbar, beliau berkata, "Tertulis di dalam Injil; 

يا عيسى، قلب لا يخشى علمه لا ينفع و صوته لا يسمع و دعاؤه لا يرفع

"Wahai Isa, hati yang tidak takut kepada Allah itu ilmunya tiada bermanfaat, suaranya tiada didengar, dan doanya tiada terangkat".

Berkata Asad bin Musa di dalam kitab Al-Wara', "Telah menyampaikan kepadaku Mubarak bin Fadhalah, adalah Al-Hasan Al-Bashri beliau berkata,

"Sesungguhnya kaum mukminin (para Shahabat) ketika sampai kepada mereka dakwah ini dari Allah mereka membenarkannya, dan yakin (kemantapan) masuk ke dalam hati-hati mereka. Hati mereka pun khusyuk kepada Allah, begitu juga badan dan pandangan mata mereka.

Ketika aku melihat mereka, demi Allah! Aku melihat suatu kaum yang seakan-akan mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri (kebenaran berita yang dibawa oleh Rasul ﷺ) 

Demi Allah! Mereka bukanlah orang-orang yang suka debat maupun kebatilan. Tiadalah mereka tenang melainkan dengan kitabullah (Al-Qur'an).

Mereka tidak menampakkan sesuatu yang tidak ada pada hati mereka. Namun, datang kepada mereka perintah dari Allah mereka membenarkannya. Allah menyifati mereka di dalam Al-Qur'an dengan sebaik-baik sifat. 

Allah berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." Qs. Al-Furqan: 63.

Mereka orang-orang tabah lagi sabar dan tidak suka berbuat jahil. Apabila mereka dijahili mereka sabar menghadapinya. Pada siang hari mereka bergaul bersama para hamba Allah sesuai dengan mendapatkan apa yang mereka dengar.

Kemudian Allah menyebut perbuatan mereka di malam hari dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman,

وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا

"Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri." Qs. Al-Furqan: 64.

Mereka menegakkan kaki-kaki mereka untuk menghadap Allah, dan meletakkan wajah-wajah mereka untuk sujud kepada Tuhannya, berlinang air mata mengalir di pipi-pipi mereka karena takut kepada Tuhannya.

Berkata Al-Hasan rahimahullah, "Untuk suatu perkara besar, mereka bergadang pada waktu malam, dan khusyuk pada waktu siang. Allah berfirman,

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ۖ

"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal". Qs. Al-Furqan: 65.

Al-Hasan berkata, "Segala sesuatu yang menimpa anak Adam kemudian hilang, itu bukanlah gharām (kekal). Namun kekal itu ialah sesuatu yang terus menimpanya selama langit dan bumi masih ada".

Al-Hasan melanjutkan, "Benarlah kaum itu, demi Allah Yang tiada sesembahan yang haq melainkan Dia! Mereka beramal, sedang kalian berangan-angan. Karenanya, tinggalkanlah angan-angan kosong ini, semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya Allah tidaklah memberi kepada hamba karena angan-angan kosongnya kebaikan dunia dan akhirat".

Dan Al-Hasan berkata, "Aduhai, ini adalah mau'izhah (yang baik) sekiranya mencocoki hati yang masih hidup".

#Fawaid_Ibnu_Rajab
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (11)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

PENGARUH AL-QUR'AN TERHADAP HAMBA-HAMBA YANG SHALIH

Sungguh banyak dari kalangan  orang-orang shalih ketika mendengar ayat ini (Qs. Al-Hadid: 16) dibacakan, mereka terpengaruh oleh ayat ini dengan beragam bentuk. Di antara mereka ada sampai meninggal dunia saat itu juga karena terpecah hatinya, dan di antara mereka ada yang bertaubat dan keluar dari dosa yang ia berada di atasnya.

Dan aku telah menyebutkan kisah-kisah mereka di dalam kitab Al-Istighna bil Qur'an.

Dan Allah ta'ala berfirman,

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Qs. Al-Hasyr: 21

Berkata Abu Imran Al-Jauwni, "Allah telah memaparkan kepada kita yang seandainya hal itu dipaparkan kepada gunung niscaya akan meluluh lantakkannya". 

Malik bin Dinar pernah membaca ayat ini kemudian beliau berkata, "Aku bersumpah kepada kalian, bahwa tidaklah ada seorang hamba yang mengimani Al-Qur'an melainkan akan terpecah hatinya (ketika mendengar ayat ini)".

Diriwayatkan dari Al-Hasan rahimahullah berkata, "Wahai anak Adam! Apabila syaithan menggodamu atau membisiki jiwamu untuk berbuat dosa maka ingat-ingatlah apa yang Allah bebankan kepadamu di dalam kitab-Nya yang bila itu dibebankan kepada gunung-gunung yang tinggi menjulang niscaya akan tunduk dan terpecah belah. Tidakkah kamu mendengar firman-Nya,

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Qs. Al-Hasyr: 21

Sungguh, dibuatkan permisalan ini untukmu agar kamu merenungkannya dan mengambil ibrah dengannya, supaya kamu menahan diri dari bermaksiat kepada Allah.

Kamu wahai anak Adam! Lebih pantas untuk khusyuk mengingat Allah dan apa yang dibebankan kepadamu, serta hikmah-hikmah yang telah diberikan kepadamu, karena kamu akan dihisab, kemudian bagimu surga atau neraka.

#Fawaid_Ibnu_Rajab 
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (10)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti


KHASYYAH MERUPAKAN SIFAT ULAMA

Oleh karena ini, Allah menyifati ulama di dalam kitab-Nya dengan khasyyah (rasa takut yang dibangun di atas ilmu). Sebagaimana Allah berfirman,

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ 

"Sungguh, yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya adalah ulama". Qs. Fathir: 28.

Allah juga berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ 

"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah; "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Qs. Az-Zumar: 9

Dan Allah menyifati ulama ahlul kitab sebelum kita dengan khusyuk. Sebagaimana Allah berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ ۝ وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا ۝ وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩

"Sesungguhnya orang yang telah diberi ilmu sebelumnya, apabila (kitab Allah) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk". Qs. Al-Israa: 107-109

Firman-Nya dalam menyifati orang-orang yang diberi ilmu mereka menyungkurkan wajah, menangis dan bertambah khusyuk adalah sifat bagi siapa yang saat mendengarkan kitab Allah (dibacakan) tumbuh kekhusyukan dalam hati.

Dan Allah berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ۝ اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ

"Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lunak (tenang) kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah." Qs. Az-Zumar: 22-23

Dan lunaknya hati itu dengan hilang kerasnya hati karena tumbuhnya kekhusyukan dan kelembutan padanya. 

Allah mencela siapa yang tidak khusyuk hatinya kala mendengarkan atau merenungi kitab Allah. Allah Ta'ala berfirman,

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ

"Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras". Qs. Al-Hadid: 16

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata, "Jarak antara keislaman kami dengan teguran kepada kami dengan ayat ini adalah empat tahun". HR. Muslim (no. 3027). Imam Nasai juga meriwayatkan atsar ini dengan adanya tambahan, "Maka kaum mukminin (saat itu) saling menegur sebagian mereka kepada sebagian yang lain". 

Ibnu Majah juga meriwayatkan atsar serupa dari Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu'anhu berkata, "Jarak antara keislaman mereka dengan turunnya ayat ini yang Allah menegur mereka dengannya adalah empat tahun".

#Fawaid_Ibnu_Rajab 
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1