Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At Taubah: 100)

Selasa, 28 Oktober 2014

Rekaman Kajian Menganti-Cerme Gresik CD 02



Link Audio CD-2

01. Kitab Tauhid (tak seorangpun berhak disembah selain Allah) Ustad Agus Su'aidi
02. Kitab Tauhid (Hidayah adalah urusan Allah Ta'ala) Ustad Agus Su'aidi
03. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 19-20 Ustad Abul Hasan As Sidawy
04. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 21-22 Ustad Abul Hasan As Sidawy
05. Riyadhus Shalihin (kisah ashabul uhdud) Ustad Muhammad Irfan
06. Riyadhus Shalihin (kisah si belang, si botak, dan si buta) Ustad Muhammad Irfan
07. Manhajus Salikin (kewajiban2 suami) Ustad Abu Sufyan Al Musy
08. Manhajus Salikin (ketika terjadi nuzhus pada istri) Ustad Abu Sufyan Al Musy
09. Adabul Mufrod (birrul walidain 1) Ustad Abul Hasan As Sidawy
10. Adabul Mufrod (birrul walidain 2) Ustad Abul Hasan As Sidawy
11. Ushulus Sunnah (Muqaddimah) Ustad Abu Sufyan Al Musy
12. Ushulus Sunnah (Biografi Imam Ahmad) Ustad Abu Sufyan Al Musy
13. Bonus Track (Rukun Iman 1) Syaikh Khalid Adz Dzafirii
14. Bonus Track (Rukun Iman 2) Syaikh Khalid Adz Dzafirii

PENJELASAN SYARHUSSUNNAH LIL MUZANI (BAG 8.B)

Ditulis Oleh Ustadz Kharisman
HAKIKAT KEIMANAN
Tidak Ada Amal Kecuali dengan Iman

Al-Muzani menyatakan: dan tidak ada amal kecuali dengan Iman.
Tidak akan diterima amal baik perbuatan seseorang jika tidak beriman dengan keimanan yang benar.
Orang yang kafir dengan kufur akbar atau melakukan syirik akbar tidak akan diterima amalannya. Bahkan amalannya yang pernah dilakukan menjadi terhapus.
…وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu bahwa jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapus amalanmu dan sungguh engkau termasuk orang yang merugi (Q.S az-Zumar:65).
Seseorang harus memiliki keimanan yang benar terhadap seluruh rukun iman yang enam jika ingin amalannya diterima. Sebagai contoh, jika ia tidak beriman dengan takdir, amal perbuatannya tidak akan diterima.
وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ
Kalau seandainya engkau berinfaq emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, tidak akan Allah terima hingga engkau beriman dengan taqdir, dan engkau mengetahui bahwasanya apa yang menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu. Kalau engkau meninggal tidak dengan (akidah) ini, niscaya engkau masuk neraka (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)
Ada juga tidak diterimanya amalan tertentu dalam waktu tertentu karena perbuatan tertentu, seperti seseorang yang mendatangi paranormal/dukun; tukang ramal dan sekedar bertanya meski tidak meyakini jawabannya, maka akan tidak diterima sholatnya 40 malam. Mungkin saja sholatnya sah dan gugur kewajiban, namun tidak berbuah pahala sama sekali dalam jangka waktu itu.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barangsiapa mendatangi ‘Arrof (mengaku mengetahui perkara ghaib), kemudian ia bertanya tentang sesuatu, tidaklah diterima sholatnya 40 malam (H.R Muslim 4137).
Demikian juga orang yang meminum khamr atau mengkonsumsi hal-hal yang memabukkan seperti narkoba dan semisalnya, maka juga tidak diterima sholatnya selama 40 hari.
مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ وَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا وَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَإِنْ عَادَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ رَدَغَةِ الْخَبَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا رَدَغَةُ الْخَبَالِ قَالَ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ
Barangsiapa yang meminum khamr dan mabuk tidak diterima sholatnya 40 pagi, jika ia mati, maka masuk neraka. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Jika dia mengulangi, minum khamr dan mabuk, tidak diterima sholatnya 40 pagi. Jika ia mati, masuk neraka. Jika ia bertaubat, Allah akan terima taubatnya. Jika ia mengulangi, sehingga minum dan mabuk, tidak diterima sholatnya 40 pagi. Jika mati, masuk neraka. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Jika mengulangi lagi, maka hak bagi Allah untuk memberinya minum dari rodaghotul khobaal pada hari kiamat. Para Sahabat bertanya: Apakah rodaghotul khobaal itu wahai Rasulullah? Nabi menyatakan: ampas (sisa perasan) penduduk neraka (berupa darah, nanah, muntah, dan hal-hal yang menjijikkan dari penduduk neraka)(H.R Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Albany).
Keimanan Bertingkat-Tingkat

Al-Muzani menyatakan: Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya
Orang yang beriman memiliki tingkat keimanan yang berbeda-beda. Keimanan para Nabi dan Rasul tidak sama dan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keimanan orang beriman lainnya secara umum.
Dalam Surat Faathir ayat 32 Allah Subhaanahu Wa Ta’ala membagi orang beriman menjadi 3 bagian (tingkatan sesuai keimanannya), yaitu : dzhalimun li nafsihi (orang yang mendzhalimi diri sendiri), muqtashid (orang yang pertengahan), dansaabiqun bil khoiroot (orang yang bersemangat/ terdepan dalam kebaikan).
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar (Q.S Faathir:32)
Dzhalimun li nafsih adalah orang-orang beriman yang masih mengerjakan sebagian perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan sebagian hal yang diwajibkan. Muqtashid adalah orang-orang yang mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Sedangkan Saabiqun bil khoiroot adalah orang-orang yang tidak hanya mengerjakan kewajiban namun juga mengerjakan amalan-amalan nafilah (sunnah), tidak hanya meninggalkan hal yang diharamkan namun juga hal-hal yang makruh. Muqtashid dan Saabiqun bil khoiroot adalah para Wali Allah (disarikan dari atTuhfatul Iroqiyyah fil A’maalil Qolbiyyah karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah).
Setiap orang yang beriman dan bertaqwa adalah Wali Allah.
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)
Ingatlah bahwa para Wali Allah tidak ada perasaan takut pada mereka dan tidak pula mereka merasa bersedih. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa (Q.S Yunus:62)
Balasan kebaikan di surga juga bertingkat-tingkat. Secara umum, dalam surat al-Waaqi’ah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala membagi penduduk surga menjadi 2 bagian yaitu Ashaabul Yamiin dan al-Muqorrobuun. Fasilitas yang didapatkan di surga berbeda. Al-Muqorrobun tingkatnya lebih tinggi dan mendapat kenikmatan-kenikmatan yang lebih besar.
Surga bertingkat-tingkat. Antar tingkatan jauhnya antara langit dan bumi. Seratus tingkatan disediakan untuk orang yang berjihad di jalan Allah.
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Sesungguhnya di surga terdapat 100 tingkatan yang disediakan untuk orang yang berjihad di jalan Allah. Di antara tiap tingkatan (jaraknya) bagaikan langit dengan bumi (H.R al-Bukhari no 2581).
Sebagian riwayat (lebih dari satu) menunjukkan bahwa banyak tingkatan di surga seperti banyaknya jumlah ayat dalam al-Quran.
Sebagaimana surga bertingkat-tingkat, neraka juga bertingkat-tingkat. Semakin besar kekafiran, kejahatan dan dosanya di dunia, semakin rendah tingkatannya di neraka.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا…
Dan setiap (orang) mendapatkan tingkatan sesuai (amalan) yang dikerjakannya….(Q.S al-An’aam:132)
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (Q.S anNisaa’:145)

Amal Ketaatan Meningkatkan Keimanan

Al-Muzani menyatakan: Amalan sholeh meningkatkan keimanan

Keimanan seseorang bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Al-Imam al-Bukhari menuliskan bab tersendiri dalam Shahihnya berjudul Ziyaadatul Imaan wa Nuqshoonihi (Bertambah dan Berkurangnya Keimanan) pada Kitaabul Iman. Pada bagian itu al-Imam al-Bukhari menyebutkan 3 ayat al-Qur’an:
…وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
…dan Kami tambahkan untuk mereka petunjuk (Q.S al-Kahfi:13, penambahan petunjuk adalah berarti penambahan iman)
…وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا…
… dan bertambahlah keimanan pada orang yang beriman…(Q.S al-Muddatsir:31)
…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ…
…pada hari ini Aku sempurnakan agama untuk kalian…(Q.S al-Maaidah:3, sebagian Ulama menjelaskan bahwa pada tahun diturunkannya ayat ini, dilaksanakan ibadah haji yang pertama, sehingga menjadi sempurnalah rukun Islam, sekaligus menyempurnakan keimanan)

Penambahan iman juga bisa didapatkan dengan berserah diri tunduk dan patuh terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana pada saat perjanjian Hudaibiyah para Sahabat Nabi menerima ketentuan Allah dan Rasul-Nya, maka Allah tambah keimanan mereka karena mereka tenang menerima apa yang telah diputuskan.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ…
Dialah Allah yang menurunkan ketenangan pada hati orang-orang yang beriman, agar keimanan mereka bertambah….(Q.S alFath:4)
Seorang yang mengingkari kemungkaran dengan tangannya berbeda pengaruh penambahan imannya dibandingkan dengan yang mengingkari dengan lisannya. Pengingkaran dengan lisan lebih baik dan lebih berpengaruh pada peningkatan keimanan dibandingkan pengingkaran dengan hati. Pengingkaran dengan hati disebut oleh Nabi sebagai selemah-lemahnya iman (hadits riwayat Muslim no 70).
Meninggalkan kemaksiatan karena Allah bisa menambah keimanan dan semakin bersihnya hati. Jika suatu fitnah datang pada hati kemudian ditolak, akan menimbulkan bintik putih dalam hati. Sebaliknya, jika fitnah itu diikuti, maka akan timbul bintik hitam pada hati.
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
Fitnah-fitnah diunjukkan pada hati bagaikan anyaman tikar, selembar demi selembar. Hati yang menyerapnya akan diberi tanda titik hitam. Hati yang mengingkarinya akan diberi tanda titik putih. (Jika itu terjadi terus menerus), akan terjadi 2 hati (yang jauh berbeda). Satu hati putih cemerlang yang tidak akan terpengaruh fitnah selama masih ada langit dan bumi, yang satu lagi menjadi hitam legam, bagaikan mangkuk yang ditelungkupkan. Tidaklah bisa mengenal yang baik dan tidak mengingkari yang munkar, kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya (H.R Muslim no 207)
Itu semua menunjukkan bahwa keimanan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Sekedar Perbuatan Dosa (Selain Kufur atau Syirik Akbar) Tidak Mengeluarkan Seseorang dari Keimanan

Al-Muzani menyatakan: Tidaklah mengeluarkan dari keimanan (sekedar) perbuatan dosa. Tidaklah (seorang mukmin) dikafirkan dengan melakukan perbuatan dosa besar atau kemaksiatan

Perbuatan dosa yang di bawah kesyirikan seperti membunuh, mencuri, berzina, minum khomr, dan semisalnya, tidak menyebabkan seseorang menjadi kafir. Kecuali jika ia menghalalkan perbuatan tersebut.
Seorang yang berbuat dosa yang di bawah kesyirikan, jika dia meninggal sebelum sempat bertaubat, ada dua kemungkinan: Allah adzab ia dengan dosa itu atau Allah ampuni dosanya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni dosa kesyirikan, dan mengampuni dosa yang di bawah itu bagi orang-orang yang dikehendakiNya (Q.S anNisaa’:48 dan anNisaa’:116).
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا أَخَذَ عَلَى النِّسَاءِ أَنْ لَا نُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا نَسْرِقَ وَلَا نَزْنِيَ وَلَا نَقْتُلَ أَوْلَادَنَا وَلَا يَعْضَهَ بَعْضُنَا بَعْضًا فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَتَى مِنْكُمْ حَدًّا فَأُقِيمَ عَلَيْهِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ وَمَنْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ
Dari Ubadah bin as-Shoomit ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengambil perjanjian (baiat) kepada kami sebagaimana beliau mengambil perjanjian kepada para wanita, yaitu: agar kami tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, atau membunuh satu sama lain. Barangsiapa yang memenuhi perjanjian itu maka pahalanya ada di sisi Allah. Barangsiapa yang ditegakkan padanya hukum had, maka itu adalah penghapus dosanya. Barangsiapa yang Allah tutup kesalahannya (tidak diketahui oleh yang lain, dan tidak ditegakkan hukum had), maka urusannya (dikembalikan) kepada Allah. Jika Allah berkehendak, Allah adzab dia, jika Allah berkehendak, Allah ampuni dia (H.R al-Bukhari dan Muslim no 3224).

Karena itu, tidak benar anggapan yang menyatakan bahwa pezina adalah kafir, pemabuk adalah kafir, orang yang mati bunuh diri adalah mati kafir. Semua anggapan itu tidak benar. Segala perbuatan dosa yang berada di bawah kekufuran akbar atau kesyirikan tidaklah mengeluarkan seseorang dari keimanan. Kecuali jika ia menghalalkan atau menganggap kemaksiatan itu adalah halal setelah ditegakkan hujjah terhadapnya.

sumber: http://salafy.or.id/blog/2013/11/10/penjelasan-syarhussunnah-lil-muzani-bag-8-b/

Rekaman Kajian Menganti-Cerme Gresik CD 01

01. Kitab Tauhid (istiadhah) Ustad Agus Su'aidi
02. Kitab Tauhid (istighosah) Ustad Agus Su'aidi
03. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 13 Ustad Abul Hasan As Sidawy
04. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 14-15 Ustad Abul Hasan As Sidawy
05. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 16 Ustad Abul Hasan As Sidawy
06. Manhajus Salikin (wanita2 yg tdk boleh dinikahi) Ustad Abu Sufyan Al Musy
07. Manhajus Salikin (wanita2 yg tdk boleh dinikahi_02) Ustad Abu Sufyan Al Musy
08. Manhajus Salikin (Mahar) Ustad Abu Sufyan Al Musy
09. Manhajus Salikin (adab bergaul dengan istri) Ustad Abu Sufyan Al Musy
10. Adabul Mufrod (Muqaddimah) Ustad Abul Hasan As Sidawy
11. Adabul Mufrod (Birrul walidain) Ustad Abul Hasan As Sidawy
12. Riyadhus Shalihin (Syukur dan Sabar) Ustad Muhammad Irfan

Jumat, 24 Oktober 2014

Hal-hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran – Bagian 6

Hal-hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran-Cinta Kedudukan Dan Kepemimpinan
Asy-Syaikh Hamad bin Ibrahim Al-Utsman hafizhahullah
Tidak diragukan lagi bahwa bahwa jiwa memiliki keinginan-keinginan yang tercela berupa cinta dunia, ingin mendapatkan kemuliaan, berlomba-lomba mendapatkan harta, ingin memiliki kedudukan, dan hal-hal lainnya yang tercela menurut syari’at.
Tabiat dasar manusia adalah zhalim dan suka melanggar hak orang lain, sebagimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا.
“Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim dan bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Terkadang muncul sebab-sebab yang membangkitkan hal-hal yang tersembunyi dalam jiwa itu, lalu dengan sebab hawa nafsu hal itu menampakkan apa yang terpendam dalam jiwa yang sebelumnya tersembunyi, akhirnya seorang hamba pun menolak kebenaran dalam keadaan dia mengetahui bahwa hal itu sebagai kebenaran, karena dia lebih mengikuti hawa nafsunya dan karena ingin kedudukannya tidak hilang, atau karena ingin meraih kepentingan dunia.
Jadi engkau menjumpai orang-orang semacam mereka ini sengaja menyelisihi kebenaran dalam keadaan mereka mengetahuinya, karena mereka ingin meraih dunia. Kemudian bersamaan dengan itu, mereka menampakkan bahwa mereka membela kebenaran.
Abul Wafa’ Ali bin Aqil Al-Hanbaly rahimahullah berkata: “Cinta kepemimpinan, cenderung kepada dunia dan membanggakannya, menyibukkan diri dengan kelezatannya dan dengan hal-hal yang menyeret kepada syahwat yang tidak diperbolehkan menurut syari’at dan tidak dibenarkan oleh akal sehat, yang semacam ini termasuk sebab-sebab yang menjadi penghalang dan memalingkan dari kebenaran.” [1]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Orang yang ingin mendapatkan kepemimpinan walau dengan cara yang bathil, dia akan ridha dengan ucapan yang padanya terdapat sanjungan kepadanya walaupun bathil, dan sebaliknya dia akan membenci ucapan yang mengandung celaan kepadanya walaupun sesuai dengan fakta yang ada. Adapun seorang mu’min yang jujur keimanannya maka dia akan ridha dengan perkataan yang benar, baik yang menguntungkan dirinya maupun yang merugikannya. Dan dia akan membenci ucapan yang bathil, baik yang menguntungkan dirinya maupun yang merugikannya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai kebenaran, kejujuran, dan keadilan, dan Dia membenci kedustaan dan kezhaliman.” [2]
Asy-Syaikh Shalih bin Mahdy Al-Muqbily rahimahullah: “Kita tidak menjumpai perselisihan kecuali pada perkara yang kebenaran telah jelas padanya, sementara orang yang menyelisihi kebenaran melontarkan pendapat yang sebenarnya tidak layak untuk dijadikan sandaran. Jadi dia hanya menampakkan seakan-akan dia memiliki dalil, padahal pendorong sebenarnya adalah melanggar kebenaran karena ingin meraih kepentingan duniawi.” [3]
Al-Allamah Abdul Lathif bin Abdurrahman Alus Syaikh rahimahullah berkata ketika menjelaskan jenis-jenis orang-orang yang menentang kebenaran: “Jenis kedua: para pemimpin pemilik harta yang mereka terfitnah dengan dunia dan syahwat mereka, karena mereka menganggap bahwa kebenaran akan menghalangi kebanyakan yang mereka senangi dan syahwat menyimpang yang mereka sukai, sehingga mereka pun tidak mempedulikan orang yang mengajak kepada kebenaran dan tidak pula menerima darinya.” [4]
Siapa saja yang meninggalkan kebenaran dan berpaling darinya karena lebih mengutamakan kedudukan atau harta, maka pada dirinya terdapat keserupaan dengan orang-orang Yahudi, karena sesungguhnya ulama Bani Israil dahulu mereka mendapatkan penghasilan dengan memanfaatkan orang-orang yang kaya diantara mereka. Maka tatkala nabi kita Muhammad shallallahu alaihi was sallam diutus, mereka mengetahui bahwa beliau benar-benar seorang rasul yang membawa kebenaran, namun mereka mengingkarinya dan kafir kepada beliau serta menyembunyikan apa yang mereka ketahui tentang Bani Israil. Itu semua mereka lakukan karena khawatir kehilangan harta yang telah diberikan untuk mereka oleh orang-orang kaya mereka. Jadi mereka menyembunyikan kebenaran agar harta tersebut tetap mereka dapatkan.
Abul Muzhaffar As-Sam’any rahimahullah berkata: “Firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَشْتَرُوْا بِآيَاتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا.
(Dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.” (QS. Al-Baqarah: 41
Maksudnya para ulama dan ahbar mereka dahulu mendapatkan penghasilan dari orang-orang yang kaya dan bodoh diantara mereka. Jadi mereka pun takut akan hilang penghasilan mereka itu jika mereka beriman kepada Muhammad shallallahu alaihi was sallam. Maka mereka pun merubah-merubah sifat beliau (dalam Taurat –pent) dan menyembunyikan nama beliau. Inilah makna menjual ayat-ayat dengan harga yang rendah.” [5]
Kedudukan, kemuliaan, dan kepemimpinan, ini semua telah menyeret para tokoh Arab untuk kafir terhadap nabi kita Muhammad shallallahu alaihi was sallam, memerangi, dan memusuhi beliau, padahal mereka mengetahui dan mengakui kebenaran dari apa yang beliau dakwahkan.
Al-Miswar bin Makhramah radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Jahl yang merupakan saudara dari ibunya: “Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad telah berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dia katakan (sebelum mengaku nabi –pent)?”
Abu Jahl menjawab: “Wahai keponakanku, demi Allah dahulu Muhammad di tengah-tengah kami ketika dia masih muda, dia dijuluki sebagai orang yang terpercaya, kami tidak pernah mendapatinya berdusta sama sekali. Maka tatkala dia telah ditumbuhi oleh uban, dia tidak mungkin akan berdusta atas nama Allah.”
Maka Al-Miswar bertanya lagi: “Wahai pamanku, kalau demikian kenapa kalian tidak mengikutinya?”
Abu Jahl menjelaskan: “Wahai keponakanku, kami dan Bani Hasyim saling memperebutkan kemuliaan. Mereka memberi makan (orang yang berhaji ke Baitullah –pent) dan kami pun memberi makan, mereka memberi minum dan kami pun memberi minum, mereka memberi perlindungan dan kami pun memberi perlindungan. Maka ketika kami sedang dalam puncak persaingan dan kami seperti dua ekor kuda yang tengah berlomba, tiba-tiba mereka mengatakan, ‘Diantara kami ada yang menjadi seorang nabi’, maka bagaimana mungkin hal ini bisa dikalahkan?!” [6]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Abu Thalib walaupun dia mengetahui bahwa Muhammad adalah rasul utusan Allah dan dia mencintai beliau, namun kecintaannya kepada beliau bukanlah kecintaan karena Allah, tetapi dia mencintai beliau semata-mata karena beliau adalah keponakannya. Jadi dia mencintai beliau karena faktor kekerabatan. Dan jika dia menginginkan beliau mendapatkan kemenangan, maka hal itu semata-mata karena dengan pembelaannya kepada beliau, dia merasa akan ikut mendapatkan kemuliaan dan kepemimpinan juga. Jadi pangkal kecintaannya adalah kepemimpinan. Oleh karena inilah ketika beliau menawarkan kepadanya agar bersyahadat menjelang kematiannya, dia menganggap bahwa mengakui syahadat akan menyebabkan hilangnya agama yang dia cintai. Jadi agamanya lebih dia cintai dibandingkan keponakannya, sehingga dia pun tidak mau menyatakan syahadat.” [7]
Asy-Syaukany rahimahullah berkata: “Terkadang seseorang tidak mau berbicara yang benar karena dia ingin tetap menjaga apa yang telah dia peroleh berupa harta dan kedudukan dari negara. Juga terkadang seseorang tidak mau berbicara yang benar yang menyelisihi keyakinan manusia, karena dia ingin mendapatkan simpati dari orang-orang awam atau menjaga perasaan mereka dan khawatir mereka lari darinya. Dan terkadang dia tidak mau berbicara yang benar karena ambisi yang dia sangka dan dia harapkan akan bisa diraih dari negara, atau dari seluruh manusia di masa yang akan datang.” [8]
Para ulama juga telah menyebutkan pengalaman mereka bersama orang-orang yang lebih mengutamakan kebathilan dan persaksian terhadap pengakuan mereka bahwa diri mereka dalam kesesatan serta lebih mengutamakannya atas petunjuk.
Diantaranya adalah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: “Saya telah berdiskusi dengan sebagian ulama Nashara hampir seharian penuh. Ketika kebenaran telah jelas baginya, maka dia pun terbungkam. Ketika kami hanya berdua, saya katakan kepadanya: “Sekarang apa yang menghalangimu untuk mengikuti kebenaran?!” Maka dia menjawab: “Jika aku mendatangi keledai-keledai itu –memang demikian yang dia ucapkan– maka mereka membentangkan permadani di bawah kaki hewan tungganganku, mereka menjadikan diriku sebagai hakim ketika muncul persengketaan dalam urusan harta dan wanita mereka, dan mereka tidak pernah melanggar apa yang aku perintahkan kepada mereka. Sementara aku ini tidak bisa bekerja, tidak hafal Al-Qur’an, tidak mengerti ilmu nahwu dan fikih, jadi jika aku masuk Islam niscaya aku akan berkeliling di pasar-pasar untuk mengemis kepada manusia. Maka siapa yang merasa hidupnya akan enak dengan cara semacam ini?!” Maka saya jawab: “Hal ini tidak akan terjadi, bagaimana bisa jika engkau lebih mengutamakan keridhaan-Nya atas hawa nafsumu, engkau menyangka kepada Allah bahwa Dia akan menghinakan dan merendahkan dirimu serta menjadikan dirimu kekurangan?! Anggaplah hal itu akan menimpamu, maka sesungguhnya apa yang engkau peroleh berupa kebenaran dan keselamatan dari adzab neraka serta dari kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya, itu semua jauh lebih sempurna sebagai ganti dari apa yang terluput darimu.” Maka dia menjawab: “Aku akan beriman jika Allah telah mengizinkan.” Maka saya bantah: “Tidak boleh berdalih dengan takdir, seandainya takdir bisa dijadikan alasan, tentu hal itu bisa dijadikan alasan oleh Yahudi untuk mendustakan kerasulan Al-Masih (Isa bin Maryam) dan akan dijadikan dalih pula oleh orang-orang musyrik untuk mendustakan para rasul. Apalagi sebenarnya kalian adalah orang-orang yang mendustakan takdir, maka bagaimana kok bisa engkau menjadikannya sebagai dalih?!” Maka dia pun menjawab: “Sekarang tinggalkanlah kami dari membicarakan hal ini dan cukupkanlah!” [9]
Catatan kaki:
[1] Al-Waadhih Fii Ushuulil Fiqh, I/522.
[2] Majmu’ul Fataawa, X/600.
[3] Al-‘Alamusy Syaamikh Fii Tafdhiilil Haqq ‘Alal Aabaa’i wal Masyayikh, hal. 365.
[4] ‘Uyuunur Rasaa-il, II/650.
[5] Tafsiirul Qur’an, I/72.
[6] Miftaahu Daaris Sa’aadah, I/93.
[7] Al-Fataawaa Al-Kubraa, VI/244.
[8] Adabuth Thalab wa Muntahal Arib, hal. 41.
[9] Hidaayatul Hayaaraa Fii Ajwibatil Yahuudi wan Nashaaraa, hal. 121.

Hal-Hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran – Bagian 5

Hal-hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran5
Asy-Syaikh Hamad bin Ibrahim Al-Utsman hafizhahullah
RASA TAKUT
Tidak diragukan lagi bahwa penindasan dan kekalahan menyebabkan orang-orang yang lemah jiwanya tunduk kepada kebathilan dan terus menetapinya karena ingin selamat dan menyerah kepada orang-orang yang memiliki kekuatan.
Karena inilah para ulama menjelaskan besarnya perkara yang memalingkan dari kebenaran yang satu ini. Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’dy rahimahullah berkata: “Perlawanan musuh dan bantuan kekuatan terhadap kebathilan dengan berbagai upaya menghiasi kebathilan dan menampakkannya sebagai kebenaran serta sikap berpangku tangan orang-orang yang mengetahui kebenaran agama ini dari upaya menegakkan dan membelanya, ini semua telah menghalangi kebanyakan manusia dari memahami hakekat agama ini.” [1]
Perhatikanlah betapa besarnya pengaruh perkara yang memalingkan dari kebenaran yang satu ini bagaimana dia telah memalingkan manusia dari beriman terhadap risalah yang dibawa oleh Musa alaihis salam karena takut terhadap Fir’aun, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah Ta’ala:
فَمَا آمَنَ لِمُوْسَى إِلا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِيْ الأرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ.
“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa kecuali sedikit saja dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut kalau Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Dan sesungguhnya Fir’aun benar-benar orang yang sewenang-wenang di muka bumi dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Yunus: 83)
Oleh karena itulah salah seorang yang beriman kepada Musa dia menyembunyikan keimanannya, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah Ta’ala:
وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيْمَانَهُ أَتَقْتُلُوْنَ رَجُلا أَنْ يَقُوْلَ رَبِّيَ اللهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ يَعِدُكُمْ إِنَّ اللهَ لا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ.
“Dan seorang laki-laki yang beriman yang berasal dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya dia berkata: “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Rabbku adalah Allah.” Padahal dia telah datang kepada kalian dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas dari Rabb kalian. Dan jika dia seorang pendusta maka dia sendirilah yang menanggung kedustaannya itu, namun jika dia seorang yang benar niscaya sebagian adzab yang dia ancamkan akan menimpa kalian. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Ghaafir: 28)
Oleh karena inilah ketika hal yang memalingkan dari kebenaran yang satu ini hilang dan Allah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka manusia pun berbondong-bondong mengikuti kebenaran dan pengikut Musa alaihi salam menjadi banyak. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi was sallam:
عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّوْنَ مَعَهُمُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، حَتَّى رُفِعَ لِيْ سَوَادٌ عَظِيْمٌ، قُلْتُ: مَا هَذَا؟ أُمَّتِيْ هَذِهِ؟ قِيْلَ: بَلْ هَذَا مُوْسَى وَقَوْمُهُ.
“Telah ditampakkan kepadaku umat-umat manusia. Ada seorang dan dua orang nabi yang lewat bersama beberapa orang saja dari kaumnya, dan ada juga nabi yang sama sekali tidak memiliki pengikut. Sampai ditampakkan kepadaku sekelompok besar hingga aku bertanya: “Apa ini, apakah ini umatku?” Maka ada yang menjawab: “Bahkan ini adalah Musa dan kaumnya.” [2]
Demikian juga Heraclius raja Romawi ketika dia mengetahui benarnya kenabian dari nabi kita Muhammad shallallahu alaihi was sallam dan kejujuran beliau, dia mencoba untuk menguji kaumnya bagaimana reaksi mereka jika dia beriman. Maka dia pun memerintahkan para pembesar Romawi agar masuk ke istana khususnya lalu menyuruh agar menutup pintu-pintunya dengan rapat. Kemudian dia berkata: “Wahai bangsa Romawi, maukah kalian semua meraih kemenangan dan petunjuk, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kalian, yaitu dengan cara berbaitlah kalian kepada nabi ini?!” Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, namun mereka mendapati semua pintu telah terkunci. Ketika Heraclius melihat pengingkaran mereka dan dia putus asa terhadap keimanan mereka, dia pun berkata: “Suruhlah mereka kembali menghadapku!” Dan dia mengatakan: “Sesungguhnya aku mengucapkan perkataanku tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan hati kalian di atas agama kalian, sekarang aku telah melihatnya.” [3]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Jadi sebenarnya Heraclius telah mengetahui kebenaran dan ingin masuk Islam, tetapi kaumnya tidak menurutinya sehingga dia takut terhadap keselamatan dirinya. Akhirnya dia pun lebih memilih kekafiran daripada Islam setelah jelas petunjuk kepadanya.” [4]
Telah menyebar luas perkataan Salaf:
إِنَّ اللهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ.
“Sesungguhnya Allah benar-benar menakut-nakuti dengan penguasa yang memberikan pengaruh tidak seperti jika Dia menakut-nakuti dengan Al-Qur’an.” [5]
Khalid bin Duraik [6] rahimahullah pernah mengatakan:
كَانَتْ فِيْ ابْنِ مُحَيْرِيْزٍ خَصْلَتَانِ مَا كَانَتَا فِيْ أَحَدٍ مِمَّنْ أَدْرَكْتُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ: كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ أَنْ يَسْكُتَ عَنْ حَقٍّ بَعْدَ أَنْ يَتَبَيَّنَ لَهُ تَكَلَّمَ فِيْهِ، غَضِبَ فِيهِ مَنْ غَضِبَ، وَرَضِيَ مَنْ رَضِيَ. وَكَانَ مِنْ أَحْرَصِ النَّاسِ أَنْ يَكْتُمَ مِنْ نَفْسِهِ أَحْسَنَ مَا عِنْدَهُ.
“Pada diri Ibnu Muhairiz [7] terdapat dua sifat yang jarang ada pada orang yang saya jumpai dari umat ini, yaitu; beliau orang yang paling jauh dari sikap diam dari kebenaran, jika sesuatu telah jelas sebagai kebenaran maka beliau pasti angkat bicara, yang marah silahkan marah dan yang ridha silahkan ridha, sedangkan sifat kedua adalah beliau termasuk orang yang paling semangat menyampaikan ilmu terbaik yang beliau ketahui tanpa menyembunyikannya.” [8]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
فَإِنَّ الْمَقْصُوْدَ الْوُصُوْلُ إِلَى الصَّوَابِ فَإِذَا ظَهَرَ وُضِعَ مَا عَدَاهُ تَحْتَ الْأَرْجُلِ.
“Karena sesungguhnya tujuan (seorang hamba –pent) adalah sampai kepada kebenaran, sehingga jika kebenaran telah nampak jelas maka selainnya diletakkan di bawah kaki.” [9]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata:
وَغَالِبُ الْخَلْقِ لَا يَنْقَادُوْنَ لِلْحَقِّ إِلَّا بِالْقَهْرِ.
“Mayoritas manusia tidak mau tunduk kepada kebenaran kecuali dengan paksaan.” [10]
Tatkala perkaranya demikian dan banyak jiwa yang tidak mau tunduk kepada kebenaran kecuali dengan paksaan, maka pemilik syari’at (Allah) memerintahkan untuk membunuh para pemimpin kekafiran yang menghalangi manusia untuk tunduk kepada kebenaran. Pemilik syari’at juga memerintahkan untuk memaksa orang yang tidak mau memperhatikan kebenaran, apalagi orang yang tidak mau menerimanya karena lebih menuruti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.
Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata: “Demikian juga paksaan yang dilakukan oleh kaum Muslimin terhadap musuh mereka dengan menjadikan mereka sebagai tawanan, hal itu mendorong mereka untuk mau memperhatikan kebaikan-kebaikan Islam. Jadi rasa harap dan cemas memiliki pengaruh yang besar untuk membantu keyakinan, sebagaimana keyakinan juga memiliki pengaruh besar untuk melakukan (perintah) dan meninggalkan (larangan). Karena masing-masing dari ilmu dan amal serta keyakinan dan kehendak, keduanya saling membantu. Ilmu dan keyakinan mendorong untuk mengamalkan konskwensinya, sedangkan keinginan berupa harap dan cemas serta mengamalkan konskwensi akan menguatkan pandangan dan ilmu yang sesuai dengan keinginan dan amal. Hal ini sebagaimana dikatakan: siapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan memberinya ilmu yang belum dia ketahui.” [11]
Jadi kitab yang memberi hidayah (Al-Qur’an) harus memiliki pedang yang akan menolongnya dan melindunginya. Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan timbangan supaya manusia menjalankan keadilan. Dan Kami telah menciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang dahsyat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka memanfaatkan besi itu) dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong agama-Nya dan para rasul-Nya, padahal dia tidak melihat Allah. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Hadiid: 25)
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Jadi agama yang benar padanya harus ada kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang menolong.” [12]
Terkadang seorang hamba diuji dengan pihak-pihak yang menakut-nakutinya agar dia tidak menyebarkan kebenaran dan tidak mendakwahkannya. Maka ketika itu harus ada upaya memohon perlindungan kepada Allah dan bersabar.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Tidak ada cara lain untuk menempuh jalan ini kecuali dengan dua perkara:
Pertama: Tidak mempedulikan celaan orang yang suka mencela ketika menempuh jalan kebenaran, karena celaan bisa mengejar seorang pasukan penunggang kuda lalu menjatuhkannya dari kudanya dan menjadikannya tersungkur ke tanah.
Kedua: Menganggap dirinya tidak ada harganya di jalan Allah, sehingga ketika itu dia berani melangkah dan tidak takut terhadap berbagai kengerian. Jadi kapan saja jiwanya merasa takut maka dia akan mundur, berhenti, dan tetap di tempat.
Dua perkara ini tidak akan terealisasi kecuali dengan kesabaran. Maka siapa yang mau bersabar sebentar, berbagai kengerian itu akan menjadi angin sejuk baginya yang akan mengantarkannya kepada cita-citanya. Jadi ketika dia takut kepadanya, tiba-tiba hal itu menjadi penolong dan pembantunya terbesar, dan perkara ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang pernah memasukinya.
Adapun kendaraannya adalah kesungguhan dalam memohon perlindungan kepada Allah, berserah diri kepada-Nya secara total, merealisasikan rasa butuh yang sangat kepada-Nya dari semua sisi, merendahkan diri kepada-Nya, jujur dalam bertawakkal kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan pasrah di hadapan-Nya seperti bejana yang pecah dan rusak serta kosong tidak ada isinya sama sekali. Dia penuh harap kepada yang mengurusinya dan pemiliknya agar menambalnya, memperbaikinya, mengulurkan karunia-Nya dan menutupi aibnya. Maka hamba yang seperti inilah yang diharapkan baginya akan mendapatkan hidayah dari Allah, dan disingkapkan untuknya jalan menuju Allah dan tingkatan-tingkatannya yang tidak diketahui oleh selainnya.” [13]
Catatan Kaki:
[1] Taisiirul Lathiifil Mannaan, hal. 269.
[2] HR. Al-Bukhary no. 5705 dan Muslim no. 374 dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.
[3] Fathul Baary, I/42.
[4] Hidaayatul Hayaaraa Fii Ajwibatil Yahuudi wan Nashaaraa, hal. 17.
[5] Lihat: Al-Bidaayah wan Nihaayah, terbitan Hajar, cetakan pertama tahun 1417 H, II/301. (pent)
[6] Di kitab asli tertulis: Duraid. Yang benar adalah yang kami tetapkan. Lihat: Tahdzibut Tahdziib, terbitan Muasassah Ar-Risalah, I/517. (pent)
[7] Di kitab asli tertulis: Kiriz. Yang benar adalah yang kami tetapkan. Lihat: Tahdzibut Tahdziib, terbitan Muasassah Ar-Risalah, I/517.
Beliau adalah Abdullah bin Muhairiz bin Junadah Al-Qurasyi, seorang tabi’in yang mulia. Diantara perkataan beliau yang terkenal adalah ketika beliau ingin membeli pakaian di sebuah toko di daerah Dabiq, ada seseorang yang menunjukkan kepada pemilik toko bahwa beliau adalah Ibnu Muhairiz. Mengetahui bahwa beliau adalah seorang ulama, maka pemilik toko tersebut memberikan pelayanan istimewa. Namun beliau justru marah dan meninggalkan toko itu sambil berkata: “SESUNGGUHNYA SAYA INGIN MEMBELI DENGAN UANG SAYA DAN BUKAN DENGAN AGAMA SAYA.”
Semoga Allah merahmati beliau yang telah memberi teladan agar kita selalu ikhlash dan tidak menjadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih dunia sedikitpun.
Lihat: Siyar A’lamin Nubala’, IV/494 dan Taarikh Dimasyq, XXXIII/19. (pent)
[8] Taarikh Abi Zur’ah Ad-Dimasyqy, I/335 no. 655.
[9] Badaa’iul Fawaaid, II/668.
[10] Dar-u Ta’aarudhil Aqli wan Naql, VII/174.
[11] Jaami’ur Rasaail, tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, I/238.
[12] Minhaajus Sunnah, I/531.
[13] Ar-Risaalah At-Tabuukiyyah, hal. 69-70.

Hal-hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran – Bagian 4

Hal-hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran
MEREMEHKAN UPAYA MENCARI KEBENARAN
Sebagian manusia ada yang meyakini kebathilan dan menganggapnya sebagai agama Allah, tetapi sebenaranya dia mengetahui ada pihak yang menyelisihi apa yang dia yakini dan dia anggap sebagai agama Allah itu, bahkan terkadang sampai kepadanya vonis sesat yang dilontarkan oleh orang yang menyelisihinya tersebut.Walaupun demikian dia tidak berusaha meneliti dan memastikan apa yang mendorongnya lebih cenderung kepada apa yang dia yakini.
Jadi terkadang dia meyakini pendapatnya disebabkan karena dia menjumpai penyebutan sebagian kecil dari sebuah masalah dan hukumnya dalam sebuah kitab tertentu, atau dia menimba ilmunya dari seorang guru tertentu tanpa memastikannya dengan melakukan pembahasan tuntas, mempelajarinya dan menelitinya.
Dia juga tidak mau membandingkan dengan pendapat yang menyelisihinya, tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan dalil-dalil dari masing-masing pendapat beserta sisi pendalilannya, dan juga tidak menyaring dalil-dalil serta menimbangnya dengan timbangan yang adil.
Akhirnya dia pun mengambil sebuah pendapat dalam keadaan penuh cacat dan meremehkan apa yang wajib dia lakukan berupa mengerahkan segenap kemampuan untuk mengklarifikasi pendapat yang benar.
Hal ini seringnya terjadi pada orang yang daya pikirnya lambat Adapun orang yang cepat daya pikirnya maka jika dia mendengar pendapat yang menyalahkan apa yang dia yakini, hal itu akan membangkitkan semangatnya untuk berusaha mengetahui masalah yang dia yakini dan membahasnya hingga tuntas.
Al-Allamah Abdurrahman Al-Mu’allimy rahimahullah berkata: “Seorang ulama yang kokoh ilmunya adalah yang jika dia mendapatkan ilmu yang meyakinkan dalam sebuah masalah maka dia memegangi dengan kuat, dan dia tidak peduli dengan hal-hal yang terkadang menimbulkan keraguan terhadapnya, bahkan dia akan berpaling dari hal-hal yang menimbulkan keraguan tersebut, atau dia akan memperhatikannya dengan seksama berdasarkan apa yang telah dia yakini itu.” [1]
Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah berkata: “Orang yang mengetahui kebenaran hanyalah yang mau mengumpulkan lima sifat, yang terbesar adalah ikhlash, lalu pemahaman, sikap inshaf (adil), yang keempat – INI YANG PALING SEDIKIT DAN SERINGNYA TIDAK ADA - yaitu semangat dalam berusaha mengetahui mana yang benar, dan semangat mendakwahkannya.” [2]
Beliau juga berkata: “Sesungguhnya kebenaran akan senantiasa terjaga, berwibawa, berharga, dan mulia, namun dia tidak akan bisa diraih tanpa mau berusaha mencarinya, tidak tertarik dan tidak ada keinginan untuk mengetahuinya. Kebenaran tidak akan membangkitkan semangat para pengangguran dan orang-orang yang berpaling darinya, dan tidak akan menyeru orang-orang yang sifatnya seperti binatang ternak yang tersesat.” [3]
Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Merupakan perkara yang telah diketahui bahwa tidak akan menerima kebenaran kecuali orang yang memang benar-benar mencarinya dan menginginkannya.” [4]
Ibnul Jauzy rahimahullah berkata: “Musibah terbesar adalah seseorang ridha terhadap dirinya dan merasa puas dengan ilmu yang dia miliki. Ini merupakan bencana yang menimpa mayoritas manusia. Engkau bisa melihat seorang Yahudi atau Nasrani merasa dirinya di atas keyakinan yang benar, sehingga dia tidak mau lagi meneliti dan memperhatikan bukti kenabian yang ada pada nabi kita Muhammad shallallahu alaihi was sallam. Dan jika dia mendengar sesuatu yang akan melembutkan hatinya seperti Al-Qur’an yang penuh mu’jizat, dia justru lari karena memang tidak ingin mendengarnya. Demikian juga setiap orang yang memiliki hawa nafsu yang bercokol pada dirinya, apakah hal itu karena dia mengikuti madzhab ayahnya dan keluarganya, atau karena dia memiliki pandangan tertentu sehingga melihatnya sebagai kebenaran, namun dia tidak mau memperhatikan hal-hal yang menyelisihinya, dan juga tidak berusaha bertanya kepada para ulama agar menjelaskan kesalahannya kepadanya.” [5]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Hanya saja perlu diketahui bahwa mayoritas orang yang tersesat dalam masalah ini atau tidak mampu untuk mengetahui mana yang benar padanya, hal itu hanyalah karena dia meremehkan sikap mengikuti petunjuk yang dibawa oleh Rasul, tidak mau memperhatikan dan tidak pula mencari petunjuk yang bisa menyampaikannya kepada pengetahuan tentangnya. Maka tatkala mereka berpaling dari Kitab Allah, mereka pun tersesat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّيْ هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.
“Jika datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan juga tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia akan merasakan kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha: 123-124)
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: “Allah menjamin siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan benar-benar mengamalkan kandungannya, dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Lalu Ibnu Abbas membaca ayat di atas. [6]
Ibnu Taimiyah juga berkata: “Hanyalah yang itu terjatuh ke dalam bid’ah itu orang yang kurang upayanya untuk mengikuti jalan yang ditempuh oleh para nabi baik secara ilmu maupun dalam pengamalannya.”[7]
Jadi siapa saja yang meremehkan usaha mencari kebenaran dan tidak bersungguh-sungguh mencari dalil, maka tidak layak baginya untuk bersikap yang tidak pantas terhadap orang lain yang menyelisihinya atau tidak menerima alasannya.
Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menutup pembahasan tentang hukum thalaq (cerai) terhadap wanita yang sedang haidh dan membandingkan dua pendapat yang ada serta memilih pendapat yang menyatakan bahwa thalaq dalam keadaan seperti ini tidak jatuh, beliau mengatakan: “Jika seseorang termasuk orang yang langkahnya pendek (meremehkan) dalam usaha mencari ilmu sehingga dia tidak mampu memahami dalil dengan benar dan tangannya menjulur ke tanah sehingga dia tidak mampu memetik buah ilmu, maka hendaklah dia menerima alasan orang lain yang telah mengerahkan segenap usahanya dan selalu berada di sekitar warisan ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, menerapkannya dan berhukum kepadanya dengan semangat jika dia menjumpai perselisihan.” [8]
Catatan Kaki:
[1] Al-Anwaar Al-Kaasyifah, hal. 34.
[2] Qathfut Tsamar Fii Bayaani Aqiidati Ahlil Atsar, hal. 175.
[3] Qathfut Tsamar Fii Bayaani Aqiidati Ahlil Atsar, hal. 175.
[4] Majmuu’atut Tauhiid, risalah pertama, hal. 65.
[5] Shaidul Khaathir, hal. 374.
[6] Majmuu’ul Fataawa, III/314. Lihat juga: Dar-u Ta’aarudhil Aqli wan Naql, I/54.
[7] Al-Jawaab Ash-Shahiih Liman Baddala Diinal Masiih, III/85.
[8] Zaadul Ma’aad, V/240.