Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At Taubah: 100)

Jumat, 19 September 2025

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (11)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

PENGARUH AL-QUR'AN TERHADAP HAMBA-HAMBA YANG SHALIH

Sungguh banyak dari kalangan  orang-orang shalih ketika mendengar ayat ini (Qs. Al-Hadid: 16) dibacakan, mereka terpengaruh oleh ayat ini dengan beragam bentuk. Di antara mereka ada sampai meninggal dunia saat itu juga karena terpecah hatinya, dan di antara mereka ada yang bertaubat dan keluar dari dosa yang ia berada di atasnya.

Dan aku telah menyebutkan kisah-kisah mereka di dalam kitab Al-Istighna bil Qur'an.

Dan Allah ta'ala berfirman,

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Qs. Al-Hasyr: 21

Berkata Abu Imran Al-Jauwni, "Allah telah memaparkan kepada kita yang seandainya hal itu dipaparkan kepada gunung niscaya akan meluluh lantakkannya". 

Malik bin Dinar pernah membaca ayat ini kemudian beliau berkata, "Aku bersumpah kepada kalian, bahwa tidaklah ada seorang hamba yang mengimani Al-Qur'an melainkan akan terpecah hatinya (ketika mendengar ayat ini)".

Diriwayatkan dari Al-Hasan rahimahullah berkata, "Wahai anak Adam! Apabila syaithan menggodamu atau membisiki jiwamu untuk berbuat dosa maka ingat-ingatlah apa yang Allah bebankan kepadamu di dalam kitab-Nya yang bila itu dibebankan kepada gunung-gunung yang tinggi menjulang niscaya akan tunduk dan terpecah belah. Tidakkah kamu mendengar firman-Nya,

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Qs. Al-Hasyr: 21

Sungguh, dibuatkan permisalan ini untukmu agar kamu merenungkannya dan mengambil ibrah dengannya, supaya kamu menahan diri dari bermaksiat kepada Allah.

Kamu wahai anak Adam! Lebih pantas untuk khusyuk mengingat Allah dan apa yang dibebankan kepadamu, serta hikmah-hikmah yang telah diberikan kepadamu, karena kamu akan dihisab, kemudian bagimu surga atau neraka.

#Fawaid_Ibnu_Rajab 
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (10)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti


KHASYYAH MERUPAKAN SIFAT ULAMA

Oleh karena ini, Allah menyifati ulama di dalam kitab-Nya dengan khasyyah (rasa takut yang dibangun di atas ilmu). Sebagaimana Allah berfirman,

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ 

"Sungguh, yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya adalah ulama". Qs. Fathir: 28.

Allah juga berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ 

"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah; "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Qs. Az-Zumar: 9

Dan Allah menyifati ulama ahlul kitab sebelum kita dengan khusyuk. Sebagaimana Allah berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ ۝ وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا ۝ وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩

"Sesungguhnya orang yang telah diberi ilmu sebelumnya, apabila (kitab Allah) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk". Qs. Al-Israa: 107-109

Firman-Nya dalam menyifati orang-orang yang diberi ilmu mereka menyungkurkan wajah, menangis dan bertambah khusyuk adalah sifat bagi siapa yang saat mendengarkan kitab Allah (dibacakan) tumbuh kekhusyukan dalam hati.

Dan Allah berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ۝ اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ

"Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lunak (tenang) kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah." Qs. Az-Zumar: 22-23

Dan lunaknya hati itu dengan hilang kerasnya hati karena tumbuhnya kekhusyukan dan kelembutan padanya. 

Allah mencela siapa yang tidak khusyuk hatinya kala mendengarkan atau merenungi kitab Allah. Allah Ta'ala berfirman,

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ

"Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras". Qs. Al-Hadid: 16

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata, "Jarak antara keislaman kami dengan teguran kepada kami dengan ayat ini adalah empat tahun". HR. Muslim (no. 3027). Imam Nasai juga meriwayatkan atsar ini dengan adanya tambahan, "Maka kaum mukminin (saat itu) saling menegur sebagian mereka kepada sebagian yang lain". 

Ibnu Majah juga meriwayatkan atsar serupa dari Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu'anhu berkata, "Jarak antara keislaman mereka dengan turunnya ayat ini yang Allah menegur mereka dengannya adalah empat tahun".

#Fawaid_Ibnu_Rajab 
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (9)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

ILMU DI LISAN DAN ILMU DI HATI

Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, 

"Ilmu itu ada dua. Ilmu di lisan, dan ilmu di hati. Ilmu di hati itulah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan ilmu yang sebatas di lisan merupakan hujjah Allah atas anak Adam".

Atsar ini diriwayatkan secara mursal dari Al-Hasan dari Nabi ﷺ. Dan diriwayatkan secara marfu' dari beliau dari Jabir radhiyallahu'anhu, juga dari beliau dari Anas radhiyallahu'anhu secara marfu', namun sanad yang bersambung (sampai kepada Nabi ﷺ) tidaklah shahih.

Nabi ﷺ memberitakan bahwa ilmu yang dimiliki oleh Ahul kitab sebelum kita itu ada di tangan-tangan mereka, namun mereka tiada dapat mengambil manfaat sedikitpun darinya ketika mereka kehilangan tujuan daripada ilmu itu, yaitu masuknya ilmu ke dalam hati yang membuat mereka dapat merasakan manisnya iman dan manfaatnya, dengan diperolehnya rasa khasyyah, dan inabah dalam hati mereka. 

Namun, ilmu itu hanya sebatas di lisan mereka sehingga menjadi tegak hujjah atas mereka.

#Fawaid_Ibnu_Rajab 
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (8)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

ILMU YANG BERMANFAAT

Ilmu yang bermanfaat ialah yang merasuk dalam hati sehingga membuahkan sakinah, rasa khasy-yah, merendah diri kepada Allah, rendah hati, dan ketundukan. 

Bila ilmu tidak merasuk dalam hati, melainkan sebatas di lisan saja, maka itu menjadi hujjah Allah atas anak Adam yang ditegakkan atas pemiliknya dan selainnya.

Seperti dikatakan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu, "Sesungguhnya ada beberapa orang yang membaca Al-Qur'an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Padahal, bila itu merasuk dalam hati lalu menetap kokoh padanya niscaya akan bermanfaat bagi pemiliknya.

#Fawaid_Ibnu_Rajab 
#TERJEMAH KITAB

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (7)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

KHUSYUK ADALAH YANG PERTAMA KALI DIANGKAT DARI MANUSIA

Imam An-Nasai meriwayatkan sebuah hadits dari Jubair bin Nufair, dari Auf bin Malik, bahwasannya pada suatu hari Rasulullah ﷺ memandang ke langit lalu bersabda, 

هذا أوان يرفع فيه العلم

"Inilah telah tiba waktunya terangkatnya ilmu padanya". 

Seseorang dari Anshar yang bernama Ziyad bin Labid berkata, "Wahai Rasulullah, apakah ilmu benar-benar akan terangkat, padahal sudah kokoh dan dihafal dalam hati?" 

Rasulullah ﷺ menjawab, "Saya kira kamu termasuk orang Madinah yang paling faqih", lalu beliau menyebutkan kesesatan Yahudi dan Nasrani padahal di tangan mereka ada kitabullah (taurat dan injil). 

Berkata Jubair bin Nufair, 

Saya berjumpa dengan Syaddad bin Aus, lalu saya sampaikan kepadanya hadits Auf bin Malik. Beliau berkata, "Benar Auf. Maukah kamu kuberitahu tentang yang pertama kali terangkat darinya?" 

"Iya" jawabku (Jubair bin Nufair).

Syaddad berkata, "Yaitu Khusyuk, sehingga kamu tidak melihat lagi ada orang yang khusyuk".

Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadits dari Jubair bin Nufair dari Abu Darda. (Jubair berkata); aku memberitahukan kepada beliau (Syaddad bin Aus) apa yang diucapkan Abu Darda. Syaddad berkata, "Benar Abu Darda. Kalau kamu mau, aku beritahukan kepadamu ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia; yaitu khusyuk. Sehingga hampir-hampir saat kamu masuk masjid Jami', kamu tidak melihat ada orang yang khusyuk di dalamnya".

Dikatakan, bahwa riwayatnya Imam Nasai itu yang lebih kuat.

Sa'id bin Basyir meriwayatkan dari Al-Hasan, dari Syaddad bin Aus, dari Nabi ﷺ bersabda,

أول ما يرفع من الناس الخشوع

"Ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia adalah khusyuk."

#TERJEMAH KITAB
#Fawaid_Ibnu_Rajab 

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (6)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

PATAHNYA HATI MENJADI SEBAB DEKAT DENGAN ALLAH

Telah datang dalam hadits shahih yang mempersaksikan akan dekatnya Allah dari hati yang telah patah karena mendapat cobaan, serta sabar akan ketetapan-Nya, dan ridha terhadap hal tersebut.

Yaitu apa yang disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, dari Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat, "Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak menjenguk-Ku?" 

Anak Adam berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Rabb Semesta Alam?"

Allah berfirman, "Bukankah kamu tahu, sesungguhnya hamba-Ku yang bernama fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati-Ku ada di dekatnya?". (HR. Muslim no. 2569).

Abu Nu'aim meriwayatkan dari jalur Dhamrah, dari Ibnu Syu'dzab berkata, 

Allah mewahyukan kepada Musa; "Tahukah kamu, karena apa Aku memilihmu atas manusia untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku?"

Musa menjawab, "Tidak tahu, wahai Rabbku".

Allah berfirman, "Karena tidak ada seorang pun yang rendah hati kepada-Ku semisal rendah hatimu".

Rendah hatinya Musa adalah kekhusyukan. Itulah ilmu yang bermanfaat, dan itu juga ilmu yang pertama kali terangkat.

#TERJEMAH KITAB
#Fawaid_Ibnu_Rajab 

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1

BIMBINGAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT (5)

Judul Asli: الخشوع فى الصلاة | Al-Khusyū'u Fish Shalāti

✍️ Karya: Al-Hafizh Al-Imam Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy Rahimahullah

TINGKATAN KHUSYUK

Khusyuk itu betingkat-tingkat dalam hati sesuai tingkatan pengenalannya terhadap Dzat yang dia Khusyuk kepada-Nya, dan sesuai tingkatan kesaksian hati terhadap sifat-sifat Allah yang membuahkan khusyuk.

Maka ada yang khusyuk karena mengetahui dengan persis akan dekatnya Allah dengan hamba-Nya dan mengetahui apa yang dirahasiakan dan disembunyikan hamba, yang itu membuahkan rasa malu kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya dalam setiap gerak dan diamnya.

Ada yang khusyuk karena mengetahui akan kesempurnaan dan keindahan Allah yang membuatnya tenggelam dalam cinta kepada Allah dan rindu ingin bertemu dan melihat-Nya.

Ada yang khusyuk karena mengetahui akan dahsyatnya siksa, murka, dan hukuman Allah yang membuahkan rasa takut kepada-Nya.

Dan Allah-lah yang akan menguatkan orang-orang yang telah patah hatinya karena takut terhadap keagungan-Nya. 

Dialah Allah yang mendekat kepada siapa yang bermunajat kepada-Nya di dalam shalat, dan meletakkan wajahnya di debu dalam sujud, sebagaimana Dia mendekat kepada orang-orang yang berdoa kepada-Nya, memohon, dan meminta ampunan dari dosa-dosanya pada waktu sahur, Dia mengabulkan doa mereka, dan memberi mereka apa yang dipintakan.

Tiada perkara yang lebih besar untuk menguatkan patahnya hati daripada kedekatan dengan Allah, dan pengkabulan (pintanya).

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dalam kitab Az-Zuhd dari Imran Al-Qashir berkata, 

"Musa 'alaihissalam berkata, "Wahai Rabbku, di manakah aku mencari-Mu?" 

Allah menjawab, "Carilah Aku pada orang-orang yang patah hatinya karena-Ku. Sesungguhnya Aku mendekat kepadanya sejarak satu hasta setiap hari. Kalaulah bukan karena hal itu, tentulah mereka akan binasa".

Ibrahim bin Al-Junaid meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mahabbah dari Ja'far bin Sulaiman, berkata, "Aku mendengar Malik bin Dinar berkata,

"Musa 'alaihissalam berkata, "Tuhanku, di manakah aku mencari-Mu?" 

Lalu Allah mewahyukan kepadanya, "Hai Musa! Carilah Aku pada orang-orang yang patah hatinya karena-Ku. Sesungguhnya Aku mendekat kepadanya sejarak satu hasta setiap hari. Kalaulah bukan karena hal itu, tentulah mereka akan binasa".

Ja'far berkata, "Aku bertanya kepada Malik bin Dinar, "Bagaimana maksudnya orang-orang yang patah hatinya?" 

Malik bin Dinar menjawab, "Aku menanyakan hal itu kepada orang yang membacakannya kepadaku, ia menjawab, aku bertanya kepada Abdullah bin Salam karena apa orang-orang patah hatinya? Ia menjawab, "Yaitu orang-orang yang patah hatinya karena cintanya kepada Allah".

#TERJEMAH KITAB
#Fawaid_Ibnu_Rajab 

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
https://t.me/RaudhatulAnwar1