Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At Taubah: 100)

Selasa, 07 Mei 2024

DAHSYATNYA NERAKA



Iman tentang adanya surga dan neraka adalah satu prinsip dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Surga dan neraka adalah dua makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang telah diciptakan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

دَخَلْتُ الْجنَّةَ فَرَأَيْتُ قَصْرًا وَرَأَيْتُ الْكَوْثَرَ وَاطَّلَعْتُ فِي الْجنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلَهَا كَذَا، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ كَذَا وَكَذَا

Aku masuk ke surga, aku pun melihat istana di sana. Aku juga melihat al-Kautsar. Aku melihat ke surga, ternyata kebanyakan penduduk surga adalah demikian (yakni orang-orang fakir). Aku juga melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah demikian (yakni wanita –pent.).”

Barang siapa menganggap keduanya belum ada saat ini, berarti dia telah mendustakan Al-Qur’an. Saya menduga, orang tersebut tidaklah mengimani adanya surga dan neraka.” (Lihat Ushulus Sunnah)

Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Surga dan neraka adalah dua makhluk yang telah diciptakan, tidak akan punah, dan tidak akan hancur.” (al-’Aqidah ath-Thahawiyah)

Ibnu Abil Izzi rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang telah ada sekarang.” (Syarah al-’Aqidah ath-Thahawiyah)

Dalil-Dalil Adanya Surga & Neraka

Dalil-dalil masalah ini dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sangatlah banyak. Di antaranya:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang neraka,

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ

Jika kalian tidak dapat membuat(nya), dan pasti kalian tidak akan dapat membuat(nya), jagalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 24)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ١٣ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ١٤ عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ١٥

Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (an-Najm: 13—15)

Adapun dalam Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, banyak hadits yang menerangkan masalah ini. Di antaranya:
Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

Aku melihat surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah fuqara. Aku pun melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 3241 dan Muslim no. 2738)

Dari Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَبْرِدُوا بِالظُّهْرِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

Tundalah pelaksanaan shalat Zuhur hingga cuaca dingin, karena panas yang sangat terik adalah panas dari neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3259)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا. قَالُوا: مَا رَأَيْتَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ

Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Para sahabat berkata, “Apa yang engkau lihat, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Aku telah melihat surga dan neraka.” (HR. Muslim no. 426)

Dalam tulisan ini, kami hanyalah membahas tentang neraka. Kita akan mencoba mengilmui sebagian pembahasan tentang neraka: sifat-sifatnya, macam-macam siksa di dalamnya, dan cara menyelamatkan diri dari neraka.

Sifat-Sifat Neraka

Telah banyak nas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan sifat-sifat neraka. Kami hanya akan menyampaikan sebagian kecilnya, mudah-mudahan menjadi nasihat bagi kita semua.

Neraka memiliki tujuh pintu
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنۡهُمۡ جُزۡءٌ مَّقۡسُومٌ

Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (al-Hijr: 44)

Malaikat penjaga neraka
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Dalam ayat lain,

وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ

Mereka berseru, ‘Wahai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (az-Zukhruf: 77)

Besarnya neraka
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زَمَامٍ، مَعَ كُلِّ زَمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا

Didatangkan neraka di hari itu, dalam keadaan ia memiliki 70.000 tali kekang. Setiap tali kekang diseret oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Panas neraka
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ

Katakanlah, “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya),” jika mereka mengetahui. (at-Taubah: 81)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

Api kalian, yang dinyalakan bani Adam, adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843)

Kedalaman neraka
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang bersama sahabatnya, tiba-tiba mereka mendengar suara. Beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata,

تَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا

Tahukah kalian, apakah itu?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau berkata, “Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam Jahanam sejak tujuh puluh musim yang lalu. Sekarang baru sampai dasarnya.” (HR. Muslim no. 2844)

Makanan dan minuman penduduk neraka
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ثُمَّ إِنَّكُمۡ أَيُّهَا ٱلضَّآلُّونَ ٱلۡمُكَذِّبُونَ ٥١ لَأٓكِلُونَ مِن شَجَرٍ مِّن زَقُّومٍ ٥٢ فَمَالِ‍ُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ٥٣ فَشَٰرِبُونَ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡحَمِيمِ ٥٤ فَشَٰرِبُونَ شُرۡبَ ٱلۡهِيمِ ٥٥ هَٰذَا نُزُلُهُمۡ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ٥٦

Kemudian sesungguhnya kalian, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, yang akan memenuhi perut kalian. Sesudah itu, kalian akan meminum air yang sangat panas. Maka kalian minum seperti unta yang sangat haus. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.” (al-Waqi’ah: 51—56)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ، فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ؟

Seandainya satu tetes zaqqum menetes di dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia. Bagaimana (kira-kira pengaruhnya) bagi orang yang memakannya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasai, lihat Shahih al-Jami’ no. 5126)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٍ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا

Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مِّن وَرَآئِهِۦ جَهَنَّمُ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٍ صَدِيدٍ

Di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah.” (Ibrahim: 16)

Sifat dan Keadaan Penghuni Neraka
Tubuh penduduk neraka akan dijadikan besar oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tebal kulitnya
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ غِلَظَ جِلْدِ الكَافِرِ اثْنَتَانِ وَأَرْبَعُونَ ذِرَاعًا بِذِرَاعِ الْجَبَّارِ، وَإِنَّ ضِرْسَهُ مِثْلُ أُحُدٍ، وَإِنَّ مَجْلِسَهُ مِنْ جَهَنَّمَ كَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَالمَدِينَةِ

Sesungguhnya, tebal kulit seorang kafir (di neraka) ialah 42 hasta ukuran orang kuat yang besar. Giginya sebesar Gunung Uhud, dan sungguh tempat duduknya dia di Jahannam seluas Makkah dan Madinah.” (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim. Lihat Shahihul Jami’ no. 2110)

Namun, karena dahsyatnya neraka, kulit tersebut matang ketika terbakar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 56)

Gigi penghuni neraka
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata (yang artinya),
Gigi orang kafir (di neraka) atau gigi taringnya seperti Gunung Uhud.” (HR. al-Bazzar. Lihat Shahihul Jami’ no. 3784)

Macam-Macam Azab di Neraka
Azab yang terjadi di neraka bermacam-macam. Kami akan menyebutkan beberapa hal yang sering kita dengar.

Orang yang paling dahsyat siksanya
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Orang yang paling dahsyat siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk bernyawa).” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’ no. 1559)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu juga, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata (yang artinya),
Sesungguhnya orang yang paling dahsyat siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang membunuh nabi atau dibunuh oleh nabi, dan seseorang yang membuat berhala.” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’ no. 1011)

Dari Khalid bin Walid radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا لِلنَّاسِ فِي الدُّنْيَا

Manusia yang paling dahsyat siksanya adalah orang yang paling bengis ketika menyiksa manusia di dunia.” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’ no. 1009)

Tangisan penduduk neraka
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ

Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.” (al-Anbiya: 100)

Dari Abdullah bin Qais radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ لَيَبْكُونَ فِي النَّارِ حَتَّى لَوْ أُجْرِيَتِ السُّفُنُ فِي دُمُوعِهِمْ لَجَرَتْ، ثُمَّ إِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ الدَّمَ بَعْدَ الدُّمُوعِ وَبِمِثْلِ مَا هُمْ فِيهِ

Sungguh, penduduk neraka akan menangis di neraka. Seandainya perahu dijalankan di genangan air mata mereka, niscaya perahu tersebut akan berjalan. Kemudian mereka akan menangis darah sebagai ganti air mata mereka.” (HR. Ibnu Majah, lihat ash-Shahihah no. 1679)

Lolongan penghuni neraka
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu anhu, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ، فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ، فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا، فَقَالَا: اصْعَدْ. فَقُلْتُ: إِنِّي لَا أُطِيقُهُ. فَقَالَا: إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ. فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ، قُلْتُ: مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟ قَالُوا: هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ

Datang dua orang laki-laki, lalu memegang kedua lenganku dan membawaku ke gunung yang susah dilalui. Keduanya berkata, ‘Naiklah.’ Aku jawab, ‘Aku tidak bisa.’ Keduanya berkata, ‘Kami akan mempermudahmu.’ Aku pun naik. Ternyata aku di dataran gunung. Tiba-tiba aku mendengar suara yang keras. Aku katakan, ‘Suara apa itu?’ Keduanya berkata, ‘Itu adalah lolongan penduduk neraka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dinyatakan sahih pula oleh Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

Azab bagi orang yang berbuka di bulan Ramadhan sebelum waktunya
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

ثُمَّ انْطُلِقَ بِي، فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ، تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

Kemudian keduanya membawaku. Ternyata ada satu kaum yang digantung dalam keadaan kaki di atas dan mulut mereka robek-robek. Darah mengalir dari mulut mereka. Aku berkata, ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah orang yang berbuka di bulan puasa sebelum dihalalkan berbuka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dinyatakan sahih juga Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

Azab bagi pezina
Masih hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا بِقَوْمٍ أَشَدِّ شَيْءٍ انْتِفَاخًا وَأَنْتَنِهِ رِيحًا وَأَسْوَئِهِ مَنْظَرًا, فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قِيلَ: الزَّانُونَ وَالزَّوَانِي

Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, bau tubuhnya sangat busuk, paling jelek dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran (comberan). Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dinyatakan sahih pula oleh Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

Azab bagi wanita yang tidak mau menyusui anaknya
Pada lanjutan hadits Abu Umamah al-Bahili radhiallahu anhu di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ. قُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ قِيلَ: هَؤُلَاءِ اللَّاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ

… Kemudian keduanya berangkat membawaku, ternyata ada wanita-wanita yang puting susu mereka digigit ular. Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah wanita yang tidak mau memberikan air susu mereka kepada anak-anak mereka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

Ular dan kalajengking neraka
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitakan bahwa jika ular di neraka menyengat satu gigitan, akan menyebabkan panas demam selama empat puluh musim. Demikian juga kalajengking di neraka, apabila menggigit satu gigitan akan menyebabkan panas demam selama empat puluh musim. (HR. al-Baihaqi, lihat ash-Shahihah no. 3429)

Penduduk neraka yang paling ringan azabnya
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ مُتَنَعِّلٌ بِنَعْلَيْنِ مَنْ نَارٍ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang dipakaikan kepadanya dua sandal dari api neraka, lantas mendidih otaknya karenanya.” (HR. Ahmad dan al-Hakim, lihat ash-Shahihah no. 1680)

Penutup
Sebagai penutup, penulis ingin mengingatkan bahwa iman kepada neraka mestinya mengharuskan kita memperbanyak amal saleh yang merupakan sebab selamatnya seseorang dari api neraka.
Di antara amalan terpenting yang mesti kita lakukan adalah memperkuat tauhid. Tauhid adalah faktor utama yang menjadi sebab selamatnya seseorang dari api neraka.

Dari Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الجَنَّةَ

Barang siapa berjumpa dengan Allah (meninggal) dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 152)

Dari Itban radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

Allah mengharamkan neraka dari seseorang yang mengucapkan, ‘La ilaha illallah,’ dalam keadaan mengharapkan wajah Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Setelah itu, hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah meninggalkan perkara-perkara bid’ah dengan cara senantiasa mengikuti jejak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu anhum.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan: 72 golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jamaah.”
Dalam satu riwayat, “Yaitu orang-orang yang mengikuti jalanku dan jalan sahabatku sekarang ini.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)

Tidak kalah pentingnya, selain beramal, seseorang juga hendaknya mengiringinya dengan banyak berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Di antaranya adalah berdoa minta dimasukkan ke surga dan dilindungi dari neraka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثًا، قَالَتِ الْجَنَّةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ اسْتَعَاذَ بِاللهِ مِنَ النَّارِ ثَلَاثًا، قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنَ النَّارُِ

Barang siapa meminta surga kepada Allah tiga kali, surga akan berkata, ‘Ya Allah, masukkanlah dia ke surga.’ Barang siapa meminta perlindungan dari neraka kepada Allah tiga kali, neraka akan berkata, ‘Ya Allah, lindungilah dia dari neraka.’ (Shahihul Jami’ no. 6151)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari dahsyatnya api neraka dan memasukkan kita dengan rahmat-Nya ke dalam surga-Nya yang abadi.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, kami memohon surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka.”
 
Ditulis oleh Ustadz Abdurrahman Mubarak

Sumber:
https://asysyariah.com/dahsyatnya-neraka/

Selasa, 05 Maret 2024

CAHAYA TERANG NAN MENENTRAMKAN ITU.. KAMU BERADA DI DALAMNYA, RASAKANLAH JANGAN COBA TINGGALKAN

Allah ta'ala berfirman;

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى ۝ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا

"Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit" [QS. Thahaa: 123-124]

----------------

Sejauh apa orang akan lari. Sekuat apa dia mencoba terus lari menjauh, menghindar dari petunjuk Allah yang terang, pada akhirnya dia menyadari ketenangan itu ada pada iman dan takwa. Maka kembalilah orang yang mendapat taufik. Namun, tak sedikit dari mereka yang malu untuk kembali atau bahkan angkuh untuk mengakui.

Ibaratnya dia sedang berada di dalam benteng megah dan kokoh yang terang benderang oleh lentera yang menyala dalam setiap sudut dan lorongnya saat malam hari. Sejuk dirasa saat siang hari. Di dalamnya telah tercukupi apa yang dibutuhkan olehnya dan teman-temannya. Di dalamnya dia juga hidup dengan aman, terhindar dari mara-bahaya yang mengancam di luar benteng. Namun, dia merasa terbatasi hidupnya. Tidak bebas dan tidak tenang yang ia rasakan. Merasa terkekang oleh tembok batas yang mengitarinya. Selalu ia berharap bisa keluar dari benteng tersebut menuju kebebasan hidup di luar tanpa mengerti beragam rintangan dan mara bahaya yang menghadang.

Kemudian, dia melihat sebias cahaya dari nyala lilin yang kecil di luar benteng nan jauh di tengah kegelapan malam. Dia pun keluar dari benteng, mencoba mendatangi dan mengambil lilin itu dengan beribu harapan bisa dijadikan penerang jalannya menuju kebebasan yang ia dambakan. Dia tinggalkan benteng tersebut, lalu menerobos kegelapan malam dengan segala resiko yang didapatnya. Dalam anggapannya, kehidupan di luar benteng lebih bebas dan menyenangkan. 

Tetapi, batang lilin itu ternyata habis. Api padam dan cahaya yang sedari dia lihat menghilang. Tinggallah dia dalam kegelapan. Bingung dan risau tak mengerti arah jalan. Rentan dan terancam binasa. Apakah tejatuh ke dalam jurang, menjadi mangsa binatang buas, atau tertangkap oleh musuh kemudian dibunuh atau dijadikan tawanan.

Saat itulah dia menyadari bahwa kehidupan yang aman dan tenang itu ada di benteng yang sebelumnya ia tinggal di sana. Hati pun berkecamuk antara kembali ke benteng tersebut atau bersikukuh memilih hidup di luar benteng dengan kesengsaraan dan kebingungan. Sedih dan menyesal. Kadang terbesit untuk kembali namun rasa malu menghentikannya. Terkadang juga bertekad untuk kembali namun masih ingin melangkah lebih jauh lagi. Padahal, seandainya dia kembali ke benteng ia akan disambut dengan baik oleh teman-temannya.

Demikianlah ibarat orang yang meninggalkan iman dan takwa dan memilih dosa dan maksiat. Dia anggap perintah dan larangan agama sebagai aturan-aturan yang mengekang. Dia anggap dengan meninggalkan itu dia akan lebih bebas dan leluasa. Dia beralih menuju dosa dan maksiat dengan anggapan di situ dia akan merasakan kebahagiaan dan kesenangan yang bebas tanpa kekangan. Namun, yang dia dapat justru sebaliknya. Kebahagian dan kesenangan yang ia temukan tenyata semu. Kemudian berubah menjadi kesedihan, kesengsaraan, kegersangan, kegelapan, keputus-asaan dan penyesalan.

Dia pun sadar, ketenangan sebenarnya itu ada pada iman dan takwa. ketentraman itu ada pada ketaatan, meski seakan terkekang tapi hakekatnya bukan kekangan. Karena keangkuhan dan hawanafsu yang diperturuti itulah yang menyebabkan dia merasa terkekang.

Saat inilah dia mulai merenung dan berfikir antara kembali atau terus tenggelam dalam dosa dan maksiat, larut dalam keputus-asaan. Dalam hati dia mengerti akan ketenangan itu, namun keangkuhan menghalangi untuk kembali. Rasa malu juga terkadang membuatnya ragu untuk kembali. Padahal, dengan dia kembali niscaya hilanglah kerisauan dan kegudahannya itu. Begitulah, terkadang seorang malu untuk bertaubat. Sudah terlanjur, anggapnya. Padahal, Allah sangat gembira dengan taubatnya seorang hamba. Teman-temannya pun sedia menyambut bahkan sangat berharap dia kembali.

Maka kawan, tetap tinggallah di dalam benteng. Jangan coba keluar. Jangan tertipu dengan cahaya kecil menipu yang akhirnya redup kemudian menyisakan kegelapan. Tetaplah kokoh di atas iman dan takwa. Jangan terlena dengan kesenangan semu dan akan sirna. Jangan coba meniggalkan iman dan takwa lalu beralih menuju dosa dan maksiat. Iman dan takwa terang menyinar nan menenangkan sedangkan dosa dan maksiat itu kegelapan dan kegersangan. Kegelapan itu membutakan dan kegersangan itu pedih.

Dan kau yang sudah jauh melangkah, jangan ragulah untuk kembali. Bukankah berteduh lebih baik daripada terus sengsara di bawah terik mentari? Bukankah tinggal dengan aman lebih baik daripada terus terancam bahaya? Bukankah bermalam dengan tenang dan tentram lebih baik daripada kebingungan di tengah gelapnya malam? Lalu, apa yang membuatmu enggan untuk kembali? Kawan, akhir kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.

Sumber:
https://t.me/RaudhatulAnwar1/1048

Selasa, 16 Januari 2024

📚🖊💎 TATA CARA BERSUCI ORANG YANG SAKIT

1️⃣ Orang yang sakit wajib bersuci menggunakan air dengan berwudhu untuk hadas kecil dan mandi untuk hadas besar.

2️⃣ Apabila dia tidak dapat bersuci dengan air karena:

▪️ tidak mampu (sakit atau lemah, -pent.), atau
▪️ khawatir sakitnya akan bertambah parah, atau
▪️ khawatir (apabila terkena air mengakibatkan) sembuhnya bertambah lama;

hendaknya dia bertayamum.

3️⃣ Tata cara bertayamum:

▪️ menepuk tanah/debu yang suci dengan kedua telapak tangan sebanyak satu kali,
▪️ kemudian diusapkan ke seluruh wajah,
▪️ setelah itu tangan yang satu mengusap tangan yang lain (kedua tangan saling mengusap, baik telapak tangan maupun punggungnya sebatas sampai pergelangan tangan, -pent.)

4️⃣ Apabila orang yang sakit tidak bisa bersuci sendiri, dapat diwudhukan atau ditayamumkan oleh orang lain.

5️⃣ Apabila pada sebagian anggota wudhu terdapat luka:

▪️ (jika memungkinkan/tidak memudaratkan, tetap) dibasuh dengan air.
▪️ jika basuhan dengan air tersebut memudaratkan/membahayakan, cukup diusap dengan tangan yang telah dibasahi dengan disapukan sekali usapan.
▪️ apabila usapan (dengan tangan yang telah dibasahi) tersebut juga memudaratkan/membahayakan, cukup ditayamumkan. (Yakni berwudhu seperti biasa dengan meninggalkan bagian yang luka tersebut, lalu setelah wudhunya selesai, bertayamum; -pent.)

6️⃣ Apabila pada bagian anggota badan ada yang patah sehingga dibalut dengan kain perban atau gips, bagian tersebut cukup diusap dengan air (yang menempel membasahi tangan, -pent.) sebagai ganti membasuhnya.

Dalam keadaan ini, tidak perlu tayamum. Sebab, usapan tersebut adalah pengganti dari basuhan.

7️⃣ Boleh bertayamum pada tembok, atau apa saja yang suci dan berdebu.

Apabila tembok tersebut dilapisi sesuatu yang terbuat bukan dari komponen tanah—misalnya (tembok tersebut dilapisi) cat—, tidak boleh dijadikan sebagai media tayamum, kecuali jika tembok (yang berlapis cat tersebut) berdebu.

8️⃣ Jika tidak memungkinkan bertayamum dengan tanah, tembok, atau apa pun yang berdebu; boleh mengambil tanah lalu ditempatkan dalam wadah atau sapu tangan, lalu digunakan untuk bertayamum.

9️⃣ Apabila seseorang bertayamum untuk shalat dan dia masih tetap suci (tidak batal) sampai (tiba) waktu shalat berikutnya, dia shalat dengan tayamumnya tadi.

Dia tidak perlu mengulangi tayamum lagi untuk shalat yang kedua. Sebab, dia masih dalam keadaan suci (dari hadas) dan tidak ada yang membatalkan tayamumnya.

🔟 Orang yang sakit diwajibkan membersihkan badannya dari najis.

Apabila tidak mampu, hendaknya dia tetap shalat dalam keadaan apa adanya. Shalatnya tetap sah dan tidak perlu mengulanginya.

1️⃣1️⃣ Orang yang sakit diwajibkan shalat dengan pakaian yang suci.

Apabila pakaiannya terkena najis, pakaian tersebut wajib dicuci atau diganti dengan pakaian yang suci. Namun, apabila tidak mampu, hendaknya dia tetap shalat dalam keadaan apa adanya. Shalatnya tetap sah dan tidak perlu mengulanginya.

1️⃣2️⃣ Orang yang sakit diwajibkan shalat di atas tempat yang suci.

Apabila tempatnya terkena najis, tempat shalat tersebut wajib dicuci atau diganti dengan tempat lain yang suci. Atau bisa juga dengan diberi alas dengan sesuatu yang suci. Namun, jika semua itu tidak memungkinkan, hendaknya dia tetap shalat dalam keadaan apa adanya. Shalatnya tetap sah dan tidak perlu mengulanginya.

1️⃣3️⃣ Orang yang sakit tidak boleh mengakhirkan shalat (sampai keluar) dari waktunya hanya karena tidak mampu bersuci.

Ia harus bersuci sesuai dengan kemampuannya, kemudian shalat pada waktunya; walaupun pada badan, pakaian, atau tempatnya terdapat najis yang tidak bisa dihilangkan.

Sumber:
Kaifa Yatathahhar al-Mariidh wa Yushallii dari Risaalah fii al-Wudhuu` wa al-Ghusl wa ash-Shalaah, hlm. 12—16 karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Sumber
t.me/asysyariah/1311

🏘🌻⚖️ SEORANG YANG SAKIT TETAP WAJIB SHALAT, BERIKUT TATACARA SHALAT BAGI ORANG YANG SAKIT

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah :

1️⃣ Wajib atas orang sakit untuk tetap shalat fardhu sambil berdiri, walaupun sambil membungkuk, atau bersandar di dinding atau tongkat, jika memang diperlukan bersandar kepadanya.

2️⃣  Kalau tidak bisa shalat berdiri, maka bisa sambil duduk. Dan yang afdhal dilakukan dengan duduk bersila untuk menggantikan posisi berdiri dan rukuk.

3️⃣ Jika tidak bisa shalat sambil duduk, maka shalat sambil berbaring miring, yang afdhal di pinggang kanan sambil menghadap kiblat. Jika tidak bisa menghadap kiblat maka bisa menghadap mana saja dan shalatnya tetap sah tidak perlu diulang.

4️⃣ Kalau tidak bisa shalat miring di pinggang, maka boleh shalat terlentang dua kakinya menghadap kiblat dan afdhalnya kepalanya diangkat sedikit agar menghadap kiblat. Kalau kakinya tidak bisa di arah kiblat, maka shalat dengan semampunya dan shalatnya sah tidak perlu diulang.

5️⃣  Wajib bagi orang yang sakit untuk rukuk dan sujud dalam shalatnya. Kalau tidak mampu maka berisyarat dengan kepalanya. Hendaknya dia menjadikan sujudnya lebih rendah dari rukuknya.
Jika dia mampunya rukuk saja, maka dia melakukan rukuk dan untuk sujudnya berisyarat dengan kepalanya.
Dan jika dia mampunya sujud saja, maka hendaknya saat sujud dia bersujud dan rukuknya berisyarat.

6️⃣ Jika dia tidak mampu berisyarat dengan kepala dalam rukuk dan sujud maka hendaknya dia berisyarat dengan matanya. Maka dia memejamkan matanya sedikit untuk rukuk, dan memejamkan mata lebih rapat untuk sujud.
Adapun isyarat dengan tangan sebagaimana yang dilakukan sebagian orang sakit, maka itu tidak dibenarkan. Kami tidak mengetahui dasarnya dari Alkitab dan As-Sunnah ataupun ucapan para ulama.

7️⃣ Kalau tidak bisa berisyarat dengan kepala atau dengan mata, maka mengerjakan shalat dengan hati. Maka dia bertakbir, dan membaca Al-Fatihah, lalu dia berniat rukuk, sujud, berdiri dan duduk dengan hatinya. Setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya.

8️⃣ Setiap orang sakit mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Dan dia melakukan segala apa yang dia mampu lakukan dari perkara ynag wajib.
Jika dia kesulitan melakukan tiap shalat pada waktunya, maka dia bisa menjamak shalat zhuhur dan ashar serta maghrib dan isya.

Bisa dilakukan jamak taqdiim, yaitu ashar dimajukan di waktu zhuhur, isya’ dimajukan dikerjakan di waktu maghrib. Atau jamak ta’khir, yaitu zhuhur dan ashar dikerjakan di waktu ashar, dan maghrib dan isya’ dikerjakan di waktu Isya’. Sesuai mana yang mudah baginya. Adapun shubuh, maka tidak bisa dijamak dengan sebelumnya atau sesudahnya.

9️⃣ Jika si sakit sedang safar, dalam artian dia berobat di luar daerahnya, maka sesungguhnya dia mengqashar shalatnya yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Maka dia mengerjakan shalat zhuhur, ashar dan isya’ dua-dua rakaat, sampai dia pulang ke daerahnya, sama saja apakah masa safarnya lama ataukah sebentar.

Allah semata tempat memohon taufiq..

📑 Fatawa Arkan Al-Islam 379

Sumber:
t.me/ahlussunnahposo/12716

Sabtu, 11 November 2023

💡🕋 QUNUT NAZILAH UNTUK SAUDARA DI PALESTINA

📝 Apa arti qunut nazilah?

Kita hidup di lingkungan yang sangat mengenal apa itu qunut subuh. Bahkan mungkin ada yang belum mendengar bahwa ada jenis qunut lain selain qunut subuh. Yaitu qunut nazilah.

• Nazilah sendiri adalah situasi ketika musuh menyerang umat Islam; atau ketika ada situasi sulit yang terjadi pada umat Islam atau sebagian umat Islam. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 121-122].

• Adanya qunut nazilah didasari dengan sejumlah dalil. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 123-209]. Ini adalah madzhab Syafi‘i dan Hanbali.

• Qunut nazilah adalah qunut yang dilakukan pada saat terjadi nazilah.

• Hukumnya adalah sunnah. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 236].

• Qunut nazilah dilaksanakan pada shalat lima waktu. Ini madzhab Syafi‘i dan satu riwayat dalam madzhab Hanbali. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 247].

• Qunut nazilah juga bisa dilakukan pada shalat Jum‘at. Sebab shalat Jum‘at juga shalat, maka hukum yang berlaku dalam shalat lainnya juga berlaku untuk shalat Jum‘at.

Ini madzhab Syafi‘i; dipilih juga oleh Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 254].

• Dilakukan pada rakaat terakhir, setelah bangkit dari rukuk.

• Dilakukan oleh orang yang shalat sendiri ataupun shalat berjamaah. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 249].

Merespon atas apa yang sedang terjadi pada saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina yang mengalami penderitaan akibat serangan Israel, melalui Surat Edaran Kementerian Agama Republik Indonesia, Nomor SE 12, tahun 2023, kita umat Islam di Indonesia diimbau untuk melaksanakan qunut nazilah.

Yaitu doa yang dilakukan untuk kebaikan saudara-saudara kita di Palestina dan mendoakan keburukan bagi musuh mereka.

📝 Bagaimana lafazh doa qunut nazilah?

Tidak ada lafazh khusus yang mengikat untuk qunut nazilah. Karena nazilah berkaitan dengan musibah yang terjadi pada suatu waktu tertentu, jadi lafazh doa qunutnya pun menyesuaikan keadaan di saat tersebut.

Maka bisa membaca doa ini dalam qunut nazilah,

اللّهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ.

اللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَمَنْ شَايَعَهُمْ وَأَعَانَهُمْ، يَا عَزِيْزُ يَا جَبَّارُ.

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيِّ يُوْسُفَ.

“Ya Allah, selamatkanlah saudara-saudara kami kaum mukminin yang tertindas di Palestina dan di setiap tempat.

Ya Allah, timpakanlah azab keras-Mu terhadap kaum Yahudi penjajah yang zalim, serta siapa pun yang mendukung dan membantu mereka, wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Mengalahkan.

Ya Allah, jadikanlah azab-Mu atas mereka berupa paceklik berkepanjangan sebagaimana yang terjadi di masa Nabi Yusuf.”

Doa di atas diambil dari makna yang terdapat pada satu doa qunut nazilah dari Rasulullah ﷺ. [H.R. Al-Bukhari (4560) dan Muslim (675)].

Juga bisa menutup doa ini dengan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad ﷺ. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 437-449].

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

📝 Apakah bacaan qunut nazilah dibaca dengan jahr (dikeraskan)? Atau cukup dengan sirr?

Qunut nazilah dibaca dengan jahr, walaupun pada shalat yang sirr.

Hal ini dapat dilihat dalam dalil-dalil tentang qunut nazilah.

Selain itu, tujuan qunut nazilah ialah agar makmum juga turut serta mendoakan dengan cara mengaminkan qunut imam. Dan itu hanya dapat terlaksana jika imam mengeraskan bacaan qunutnya. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 258-260].

📝 Apakah mengangkat tangan ketika melaksanakan qunut?

Doa qunut dilakukan dengan mengangkat tangan. 

Dalilnya ialah hadits Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: demi Allah, aku akan benar-benar memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika gerhana matahari.

فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ قَائِمٌ فِي الصَّلَاةِ رَافِعٌ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يُسَبِّحُ وَيَحْمَدُ وَيُهَلِّلُ وَيُكَبِّرُ وَيَدْعُو حَتَّى حُسِرَ عَنْهَا.

“Lalu aku pun mendatangi beliau, dan ternyata beliau sedang berdiri untuk menunaikan shalat dengan mengangkat kedua tangannya. Beliau membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir serta berdoa hingga matahari bersinar kembali.” [H.R. Muslim (913)]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada dalil bagi ulama madzhab kami yang menyatakan bahwa doa qunut dilakukan dengan mengangkat kedua tangan.” 
Syarah Shahih Muslim (6/307); lihat pula: Raf‘u al-‘Anut, hlm. 369-378. 

Mengangkat tangan ketika qunut juga amalan sejumlah sahabat nabi, seperti Umar bin Khatthab dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 377-378].

Tangan langsung diturunkan ketika selesai dari qunut. Tidak perlu mengusap wajah setelahnya. Karena tidak ada riwayat shahih dari Nabi ﷺ ataupun para sahabatnya tentang mengusap wajah setelah berdoa. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 450-458].

📝 Berapa lama qunut nazilah dilaksanakan? 

Jika qunut nazilah dilakukan karena suatu musibah yang telah terjadi dan selesai, maka dilakukan selama beberapa waktu. Bisa juga satu bulan, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ terkait tragedi terbunuhnya para penghafal Al-Qurʼan dalam jumlah yang banyak. 

Sedangkan jika musibah yang terjadi terus berlangsung, maka qunut nazilah terus dilakukan sampai Allah subhanahu wa ta‘ala menghilangkan musibah itu dari umat Islam. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ saat beliau melakukan qunut untuk keselamatan umat Islam yang tertindas di Makkah sampai Allah menyelamatkan mereka. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 225].

📝 Penutup

Qunut nazilah adalah salah satu sarana kita dalam mendoakan kebaikan untuk saudara-saudara kita yang saat ini sedang terjajah di negerinya sendiri. 

Namun, doa kebaikan tersebut tentu tidak khusus dalam qunut. Mari kita memperbanyak doa kebaikan bagi saudara-saudara kita muslimin seluruhnya, dan terkhusus saudara-saudara kita di Palestina, di tiap waktu doa yang mustajab. Di dalam sujud, setelah shalat, antara adzan dan iqamah, tatkala safar, dan sebagainya. 

Sesungguhnya ini adalah tanda kesempurnaan iman seseorang. Di saat ia turut merasa sakit atas derita yang dirasakan oleh saudaranya muslim yang lain di mana pun berada. 

‎✍ https://t.me/nasehatetam/8509

Kamis, 02 November 2023

Palestina Saksi Keangkuhan Bani Israil



PALESTINA SAKSI KEANGKUHAN BANI ISRAIL

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى

Lembaran sejarah tak pernah sepi dari kesombongan Bani lsrail. Sejarah mereka demikian kelam. Pembunuhan, pembantaian, kezaliman, dan berbagai penodaan Bani lsrail terhadap norma kehidupan terus mengalir melintasi sejarah kehidupan anak manusia. 

Bukan hanya cerita-cerita masa lalu. Hari ini pun mata dunia menyaksikan kekejian mereka, terlebih kepada kaum muslimin. Bahkan saat anda membaca tulisan ini, tangan-tangan Bani lsrail masih berlumuran dengan darah segar kaum muslimin. Baitul Maqdis masih dalam teror Yahudi. Muslimin palestina masih terus dihujani timah-timah panas serdadu syaithan. Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

Saat ini kita dalam keamanan, namun seringkali kita lupa nikmat tersebut, lupa nasib saudara kita yang terus dihantui rasa takut, derai air mata kesedihan pun terus meliputi hari-hari mereka, bersama darah-darah pengorbanan mereka yang tersimbah di Bumi Allah.

Wahai jiwa...., manakah doamu di tengah malam untuk saudara-saudaramu? Wahai jiwa..., manakah uluran tanganmu?

Memang mengherankan perkara Bani lsrail. Banyak anugerah nikmat kepada mereka. Allah banyak mengutus Nabi dan Rasul dari kalangan Bani lsrail, demikian pula kekuasaan dunia. Nabi Musa pernah mengingatkan nikmat-nikmat itu: 

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dan menjadikan kalian orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." [Q.S. AI-Maidah: 20].

Mereka bukan kaum yang pandai bersyukur. Nikmat-nikmat itu justru dibalas dengan kedurhakaan dan kesombongan.

Saudaraku, jangan kau tanya tentang kesombongan mereka kepada manusia! Jangan kau heran mereka membusungkan dada di hadapan dunia! Di hadapan Allah, Rabbul 'alamin saja, mereka menyombongkan diri. Ayat-ayat Allah mereka rubah, mereka pelintirkan. Syariat Allah mereka sembunyikan. Perintah-perintah Allah mereka olok-olok. Nabi-nabi Allah mereka bunuhi. Padahal kenikmatan demikian banyak Allah limpahkan.

Sebelum diutusnya nabi terakhir -  Muhammad bin Abdillah ﷺ- mereka menyangka nabi itu dari Bani lsrail, keturunan Ya’qub bin lshaq bin Ibrahim عليه السلام. Namun, ketika kebenaran terang di hadapan mereka, bahwa Nabi terakhir adalah dari bangsa Arab, keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim عليه السلام, hasad meliputi relung qalbu mereka. Kesombongan menyeruak dalam benak dan tingkah Iaku mereka. Mereka kufuri Khatamul Anbiya wal Mursalin, Muhammad ﷺ penutup para nabi dan rasul. 

Pembaca Qudwah yang saya cintai fillah, dalam surat Al Baqarah dan Al A'raf ada sepenggal peristiwa. Peristiwa yang juga bukti kesombongan Bani lsrail. Allah kisahkan agar dijadikan ibrah. Pada majelis ini, mari kita baca kisah tersebut dengan seksama. Semoga Allah merahmati dan memberkahi kita. Amin, Ya Mujibas Saailin.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ  وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (٥٨) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (٥٩) 

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman, 'Masuklah kalian (yakni Bani Israil-pen) ke negeri ini (Baitul maqdis), dan makanlah dari hasil buminya yang banyak lagi enak, di mana yang kalian sukai. Dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud (kepada Allah), dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa', niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian.

Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik’. Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.

[Q.S. Al-Baqarah: 58-59].

Kisah ini juga Allah سبحانه وتعالى firmankan dalam surat Al-A’raf: 

وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُولُوا حِطَّةٌ وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ  سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (١٦١) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ (١٦٢)

"Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani lsrail), ’Diamlah di negeri ini saja (Baitulmaqdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kalian kehendaki.' Dan katakanlah, ’Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian.‘ Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.

Maka orang-orang yang lalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kelaliman mereka.

[Q.S. AI-A'raf: 161-162].

Untuk lebih memahami kisah dalam ayat-ayat di atas, sejenak kita menengok kembali ke beIakang, merunut sejarah Bani lsrail sebelum terjadinya peristiwa dalam ayat ini. 

BANI ISRAIL DI ZAMAN MUSA DAN HARUN

Bani Israil adalah kaum yang sangat tertindas di bawah cengkeraman Fir'aun. Mereka tertekan dalam kurun waktu yang cukup lama. Kepedihan hidup mereka banyak dikisahkan dalam ayat AI-Quran. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ  إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka,  menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

[Q.S. Al-Qashshash: 4].

Tidak lama kemudian, diutuslah Musa, sebuah anugerah besar mereka rasakan. Allah selamatkan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun. Kisah Musa dan Fir'aun banyak Allah sebutkan dalam Al-Quran. Sejak kelahiran Musa, hingga Allah utus beliau menjadi salah satu ulul azmi dari rasul-rasuI-Nya. 

Laut merah terbelah, jalan terbentang di tengah ombak yang menjulang seperti gunung besar di antara sekian nikmat yang Allah berikan kepada Bani Israil. 

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ  فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar." 

[Q.S. Asy-Syu’ara: 63].

Mereka selamat..., merdeka dari kezaliman Fir'aun. Adapun Fir’aun dan bala tentaranya, Allah tenggelamkan dengan sangat hina di Iaut merah. Nikmat ini Allah ingatkan dalam firman-Nya:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ  وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (٤٩) وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (.٥)

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kalian dari (Fira'un) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepada kalian siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anak kalian yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak kalian yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhan kalian. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untuk kalian, lalu Kami selamatkan kalian dan Kami tenggelamkan (Fira’un) dan pengikut-penglkutnya sedang kalian sendiri menyaksikan.” 

[Q.S. AI-Baqarah: 49-50].

PERINTAH MEMASUKI BAITUL MAQDIS

Setelah keselamatan itu, Allah perintahkan Bani Israil untuk memasuki Baitul Maqdis, sebagai sebab untuk meraih kemenangan yang Allah janjikan. Nabi Musa berseru:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

"Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagi kalian, dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian menjadi orang-orang yang merugi." 

[Q.S. Al-Maidah: 21].

Dalam ayat ini, dengan tegas Allah menjanjikan kemenangan. Ya, Allah janjikan kemenangan jika mereka mau memasuki Baitul Maqdis, berjihad. Dan sungguh janji Allah tidak akan luput. Tetapi, janji itu tidak mereka sambut. Mereka enggan menunaikan perintah jihad. Bahkan dengan seenaknya mereka suruh Nabi Musa untuk berjihad sendiri. Dan Iebih lancang lagi mereka perintah Allah juga untuk berperang!

Allahu Akbar..., di mana akal Bani lsrail? Betapa keji kalimat yang keluar dari mulut  mereka! Bayangkan, Allah memerintahkan mereka berjihad, namun justru perintah itu mereka kembalikan kepada Allah. Perhatikan ucapan mereka sebagaimana Allah سبحانه وتعالى kisahkan: 

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا  فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

"Mereka berkata, "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua (yakni Engkau dan Allah - pen), sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja."

[Q.S. Al Maidah: 24].

Kasar dan sombong! Itulah mereka. Dengan sebab dosa inilah, Allah hukum mereka selama 40 tahun, terlantar di muka bumi.

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ  أَرْبَعِينَ سَنَةً  يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ  فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

"Allah berfirman, '(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." [Q.S. Al Maidah: 26]

PERINTAH BERJIHAD UNTUK MEMBUKA BAITUL MAQDIS TERULANG SEPENINGGAL MUSA

Dimasa Nabi Yusya‘ bin Nun, datang perintah kembali untuk berjihad membuka Baitul Maqdis. Perang berlangsung, di akhir hari Jum'at Allah limpahkan kemenangan atas Bani Israil. Bahkan dalam peperangan itu, Allah tahan Matahari untuk tenggelam di waktunya. Hingga kemenangan diraih Nabi Yusya' bersama Bani Israil.¹

Kemudian Allah perintahkan mereka memasuki Baitul Maqdis dengan tawadhu' kepada Allah, masuk dalam keadaan sujud kepada Allah, dan memohon ampun atas kedurhakaan mereka meninggalkan jihad di zaman Musa.

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ  وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman, "Masuklah kalian ke negeri ini (Baitulmaqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak, di mana yang kalian sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud (kepada Allah), dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa‘, niscaya Kami ampuni kesalahan- kesalahan kalian. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.

[Q.S. Al Baqarah: 58]

Masuklah mereka ke Baitul Maqdis. Namun, rupanya di antara mereka ada kaum yang zalim, yang justru merubah firman Allah. Itulah yang Allah kisahkan dalam firman-Nya:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

"Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.

[Q.S. Al-Baqarah: 59].


Dari firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 59 yang artinya, ”Lalu orang-orang yang Ialim mengganti perintah", dan firman-Nya dalam surat AI A'raf ayat 162 yang artinya, ”Maka orang-orang yang Ialim di antara mereka”, difahami bahwa tidak semua Bani Israil mengingkari perintah Allah itu. Masih ada di antara mereka yang shalih dan menetapi perintah-Nya:

وَمِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

"Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.

[Q.S. Al-A'raf: 159].

Adapun kaum yang zalim, mereka ubah perintah Allah. Sebagaimana Rasulullah ﷺ kisahkan dalam sabda beliau dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه:

قِيلَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ يُغْفَرْ لَكُمْ خَطَايَا كُمْ فَبَدَّلُوا فَدَخَلُوا الْبَابَ يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاھِهِمْ وَقَالُواحَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ

"Datang perintah Allah kepada Bani Israil, ’Masuklah kalian (ke dalam Baitul Maqdis) melalui pintu gerbangnya, sambil bersujud (kepada Allah), dan katakanlah, ’Bebaskanlah kami dari dosa’, pasti Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahan kalian,' (Al Baqarah: 58). Namun mereka memasukinya dengan merangkak menghadapkan pantat-pantat mereka seraya berkata, ’Habbah Fi Sya’rah’." [Muttafaqun ‘Alaihi].

Mereka diperintahkan untuk bersujud, tetapi mereka malah memberikan pantat mereka. Mereka diperintah untuk memohon ampun kepada Allah (dengan lafazh ’hiththah' sebagaimana dalam ayat), tetapi mereka merubah lafazh tersebut dengan 'Habbah Fi Sya'rah' atau dalam sebagian riwayat 'Hinthah' yang maknanya adalah biji gandum.

Tidak lama kemudian turunlah Azab Allah dari langit menimpa kaum yang zalim. Azab yang pedih. 

Mengenai jenis azab, banyak pendapat di kalangan ulama. Sebagian ahli tafsir berkata bahwa azab tersebut adalah kemurkaan dari Allah. lni adalah pendapat Abul Aliyah Ar-Riyahi رحمه الله. Sebagian Iain mengatakan bahwa azab tersebut adalah penyakit Tha'un atau dingin yang sangat. Demikian kata Asy-Sya'bi 'Amir bin Syarahil, berdalil dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam riwayat Imam Muslim dari shahabat Usamah bin Zaid رضي الله عنهما:

إِنَّ ھَذَا الْوَجَعَ رِجْزٌ أَوْ عَذَابْ أَوْيَقِيَّةُ عَذَابٍ عذِّ بَ بِهِ أُنَاسٌ مِنْ قَبْلِكُمْ

"Sesungguhnya penyakit ini -yakni Tha'un- adalah hukuman atau sisa dari azab yang Allah siksa dengan azab tersebut manusia sebelum kalian.

Apapun pendapat ahli Tafsir, tidak diragukan bahwa azab tersebut sangat pedih, setimpal dengan kekejian dan besarnya dosa yang mereka lakukan. Adapun jenis azab tersebut secara pasti hanya Allah yang mengetahui. Allahua'lam bishshawab.

RENUNGAN BEBERAPA FAEDAH KISAH 

1. Kerusakan di muka bumi termasuk berbagai macam penyakit, di antara sebabnya adalah dosa-dosa manusia. Seperti azab yang menimpa Bani lsrail ketika mereka merubah syariat Allah. Sebagaimana pula ditunjukkan dalam sabda Rasulullah ﷺ dalam riwayat Muslim tentang penyakit tha'un yang sebagian ulama mengaitkannya dengan kisah Bani lsrail. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Q.S. Ar-Ruum: 41].

2. Di antara sifat buruk Bani lsrail, mereka adalah kaum yang berani dan suka merubah kalam Allah dan syariat-Nya. 

3. Besarnya dosa orang yang berani merubah kalam Allah, dan akibat buruk atas perbuatan tersebut berupa azab yang pedih. 

4. Kisah ini menunjukkan wajibnya merendahkan diri kepada Allah. Terlebih di saat memperoleh keberhasilan atau kemenangan dalam jihad fi sabilillah. Seringkali seorang ujub terhadap usaha yang dilakukan di saat keberhasilan dan kemenangan menyapa. Dalam kisah di atas, Allah perintahkan Bani Israil untuk memasuki Baitul Maqdis di saat datang kemenangan, dengan sujud kepada Allah dan memohon ampunan. Inilah hakikat ketundukan dan ketawadhuan kepada Allah.

Hal serupa juga Allah perintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ, Allah berfirman dalam Surat An-Nashr (yang maknanya), ”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu Iihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat." 

[Q.S. An-Nashr: 1-3].

Inilah Rasulullah ﷺ, saat kota makkah beliau kuasai, beliau memasukinya dalam keadaan merendahkan diri di hadapan Allah. Tidak seperti layaknya hamba dunia yang memasuki negeri yang dikuasainya dengan kesombongan, memasuki negeri yang ditakIukkan dengan kepala menengadah dan dada yang terbusung. Rasul masuk dengan menundukkan kepala, merendahkan diri di hadapan Allah sampai hampir-hampir dagu beliau menyentuh pelana, seraya berdzikir, membaca kalam ilahi.

5. Dalam ayat-ayat di atas disebutkan beberapa sifat buruk Bani Israil selain merubah kalam Allah dan syariat-Nya. Yaitu, sombong kepada Allah, tidak beradab kepada nabi-nabi Allah, dan enggan untuk berjihad dan mengamalkan ilmu.

6. Apakah ghanimah (harta rampasan perang) halal bagi Bani Israil❓Sebagaimana dimaklumi, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ghanimah hanya dihalalkan untuk ummat Rasulullah ﷺ. Adapun apa yang disebutkan dalam kisah di atas, yang dihalalkan untuk Bani Israil saat menguasai Baitul Maqdis adalah sebagian dari ghanimah berupa makanan. Adapun emas, perak, senjata, dan semisalnya Allah haramkan atas umat terdahulu. Allah Subhanallahu Wa Ta'ala utus api besar untuk membakar ghanimah tersebut setelah dikumpulkan.

Sumber || Majalah Qudwah Edisi 07 || t.me/majalah_qudwah || https://t.me/atsarid/2507