Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At Taubah: 100)

Rabu, 01 April 2015

SILSILAH: Agamaku Mengajarkanku… (Seri ke 12)

Silsilah bagian12
Bersama: DR. Muhammad bin Umar Bazemul حفظه الله تعالى
Agamaku mengajarkanku: Bahwa orang kafir mu’ahad (yang terikat dalam perjanjian, pent) tidak boleh dibunuh dan tidak boleh diganggu; penjelasannya ialah: bahwa orang kafir yang selain harbiy maka tidak akan keluar kondisinya dari seorang kafir dzimmiy yaitu seorang kafir mu’ahad dari kalangan yahudi dan nashrani serta selain mereka dari orang-orang kafir yang tinggal di negeri Islam, dan mereka tetap bertahan dengan kekufuran mereka dengan syarat menunaikan jizyah (pembayaran) dan harus mengikuti hukum-hukum Islam secara duniawiyah (al-mawsu’ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah (7/120-121,141)).
Atau dia seorang musta’man (pemohon suaka, pent), yaitu orang yang meminta kepada kita keamanan (suaka) agar dapat masuk ke negeri kita untuk suatu keperluan yang dia butuhkan, maka apabila penguasa memberikan suaka kepadanya jadilah dia musta’man, sekalipun antara kita dengan negerinya sedang terjadi peperangan, atau dia seorang mu’ahad yaitu orang yang antara kita dengan negerinya sedang berlangsungnya perjanjian, perdamaian dan gencatan senjata, dan di sana ada orang kafir yang antara kita dengannya ada dakwah yang belum sampai sebelumnya hingga terjadinya peperangan, Alloh Ta’ala berfirman:
(وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ) [سورة التوبة : 6]
“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” [Qs. At-Taubah: 6]
Dan dakwah kepada Islam ini sebelum (dikobarkannya) jihad; dimana didakwahkan kepada Islam atau jizyah dan jika menolak itu semua maka kita perangi dia, atau dia termasuk dari utusan para raja, maka mereka tidak dibunuh, telah shahih yang demikian dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Dan dalil atas haramnya darah seorang mu’ahad dan dzimmiy serta musta’man ialah riwayat yang berasal dari Abdulloh bin ‘Amr rodhiallohu ‘anhuma dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
«مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
“Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad maka dia tidak akan mencium aroma surga, dan sesungguhnya aroma surga dapat tercium dari jarak perjalanan 40 tahun”. [1]
Dari Shofwan bin Sulaim dari beberapa orang dari putra sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dari ayah-ayah mereka dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
«أَلآ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ -فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَومَ القِيَامَةِ»
“Ketahuilah, barangsiapa berbuat aniaya kepada seorang mu’ahad atau mengurangi (hak) nya, atau membebaninya (dengan jizyah, pent) di luar kadar kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu tanpa kelapangan hati -maka aku adalah lawan debatnya di hari kiamat (nanti). “ [2]
~~~~~❃❃❃~~~~~
Catatan Kaki:
[1]  Dikeluarkan oleh Bukhori di dalam kitab al-jizyah, bab: dosa atas orang yang membunuh mu’ahad tanpa kejahatan, hadits nomer: (3166).
[2]  Dikeluarkan oleh Abu Daud di dalam kitab: al-Khoroj wal imaroh wal fai, bab tentang sikap dengan ahli dzimmah apabila berselisih dalam jual beli, hadits nomer:    (3052). Dan jahalah (tidak dikenal) yang ada di dalam sanad tidak merusak (nilai hadits), adapun jahalah pada sahabat maka jelas (yakni tidak berpengaruh, pent) adapun jahalah pada anak-anak sahabat maka mereka sekumpulan orang (banyak), dan periwayatan majhul (orang yang tdk dikenal) apabila jumlahnya banyak maka menjadi kuat, dan mereka adalah para putra sahabat maka ini lebih kuat lagi dalam masalah ‘adalah (keotentikan) mereka, sehingga hadits tersebut Hasan insya Alloh.
❃ ❃ ❃
Silsilah ‘Allamani Dieniy, DR. Muhammad Umar Bazemul hal. 16-18

SILSILAH: Agamaku Mengajarkanku… (Seri ke 11)

Bersama: DR. Muhammad bin Umar Bazemul حفظه الله تعالى
Bagian ke 11:
Agamaku Mengajarkanku: Menjaga pendapat orang banyak dalam perkara yang tidak menyelisihi syari’at Alloh Ta’ala; tidakkah Anda lihat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang telah meninggalkan memerangi kaum munafikin dan menerima prilaku lahiriah mereka, sehingga tidak dikatakan: Muhammad telah memerangi para sahabatnya. Dari Jabir rodhiallohu ‘anhu beliau mengatakan: “Kami berperang bersama nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang telah berkumpul bersamanya dari kalangan Muhajirin hingga mereka menjadi banyak dan dikala itu dari kalangan Muhajirin ada seseorang yang suka bercanda, kemudian dia pun mengusir seorang dari kaum Anshor, maka Anshor itu pun marah dengan kemarahan yang hebat hingga mereka saling memanggil, dan berkatalah Anshor: wahai kaum Anshor  dan berkata pula Muhajir tersebut: wahai kaum Muhajirin. Maka keluar lah nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan bersabda:
مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الجَاهِلِيَّةِ. ثم قال: مَا شَأْنُهُمْ؟
Mengapa kalian memanggil dengan panggilan jahiliyah. Kemudian beliau bertanya: ada apa dengan mereka?
Maka beliau pun diberitakan dengan kejadian pengusiran atas seorang Muhajir yang dilakukan oleh seorang Anshor, Jabir mengatakan: maka nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعُوهَا؛ فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ.
Tinggalkan panggilan seperti itu; karena panggilan seperti itu adalah buruk.
Dan berkatalah Abdulloh bin ubay bin salul:
Bukankah kalian sudah mengajak bertikai dengan kami, sungguh jika kami telah kembali ke kota Madinah tentulah orang-orang yang mulia akan mengusir orang-orang yang rendah! Maka Umar pun berkata: apakah tidak kita bunuh wahai Rosululloh si busuk ini -kepada Abdulloh-? Maka Nabi shollallohu ‘alihi wa sallam bersabda:
لا يتحدث الناس أنه كان يقتل أصحابه.
“Jangan, nanti orang-orang akan mengatakan bahwa dia (Nabi) membunuh sahabatnya”. [HR. Bukhori di dalam kitab al-manaqib, bab: larangan dari seruan jahiliyah hadits nomer: (351), Muslim di dalam kitab al-Birr was shilah wal adab, bab: menolong saudara baik yang menganiaya maupun yang dianiaya, hadits nomer: (2584)]
Dan hukum munafik ialah dibunuh; karena Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam membenarkan (sikap) Umar Ibnul Khotthob rodhiallohu ‘anhu akan tetapi Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam (memilih) meninggalkan membunuh munafik ini; karena mengkhawatirkan madhorot dari perbuatan tersebut, dan menerima darinya apa yang ditampakkannya, dan ini merupakan siasat yang mengandung keridhoan dengan mengambil perkara yang teringan dari dua madhorot.
DAN PADA KEJADIAN INI ADA SUATU HAL YANG PENTINGyaitu menjaga pendapat keumuman orang, maka apa pendapat Anda tentang dunia yang di hari ini sudah menjadi seperti sebuah dusun kecil, dan apa yang dihasilkan oleh sebagian perbuatan kaum muslimin dari perbuatan yang mencoreng akan gambaran Islam dan muslimin!
❃ ❃ ❃
Kitab Silsilah ‘Allamani Dieniy, DR. Muhammad Umar Bazemul. Hal. 14-16

Rekaman Kajian Menganti-Cerme Gresik CD-06



01. Kitab Tauhid (Rasulullah menyayangi umatnya) Ustad Agus Su'aidi Assidawy
02. Kitab Tauhid (Sebagian umat ada yg terjatuh dalam kesyirikan) Ustad Agus Su'aidi
03. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 29 Ustad Abul Hasan Assidawy
04. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 30-33 Ustad Abul Hasan Assidawy
05. Al Minzhaar (Qosidah2 Syirik) Ustad Abul Hasan Assidawy
06. Al Minzhaar (Larangan membangun kuburan) Ustad Muhammad Irfan Jombang
07. Al Minzhaar (Kesalahan2 dalam thaharah) Ustad Muhammad Irfan Jombang
08. Ushulus Sunnah (Iman dg adanya adzab kubur) Ustad Abu Sufyan Al Musy
09. Ushulus Sunnah (Iman dg adanya syafaat)Ustad Abu Sufyan Al Musy
10. Ushulus Sunnah (Iman dg adanya dajjal) Ustad Abu Sufyan Al Musy
11. Adabul Mufrod (Durhaka kepada kedua orang tua) Ustad Abul Hasan Assidawy
12. Adabul Mufrod (Durhaka kepada kedua orang tua)_2 Ustad Abul Hasan Assidawy
13. Adabul Muford (Durhaka kepada kedua orang tua)_3 Ustad Abul Hasan Assidawy
14. Minhajus Salikin (Bab Nafkah) Ustad Abu Sufyan Al Musy
15. Minhajus Salikin (Hak asuh anak) Ustad Abu Sufyan Al Musy
16. Minhajus Salikin (Kitab puasa) Ustad Abu Sufyan Al Musy
17. Durusul Muhimmah (Iman dg kitab2 Allah) Ustad Abdul Latif Surabaya
18. Durusul Muhimmah (Iman kepada Rasul2 Allah) Ustad Abdul Latif Surabaya
19. Durusul Muhimmah (Iman kepada Hari Akhir) Ustad Abdul Latif Surabaya
20. Durusul Muhimmah (Iman kpd Takdir)_01 Ustad Abdul Latif Surabaya
21. Durusul Muhimmah (Iman kpd Takdir)_02 Ustad Abdul Latif Surabaya
22. Tausyiah Jelang Ramadhan Ustad Abu Amr Assidawy
23. Tausyiah Ramadhan Ustad Abu Amr Assidawy

Selasa, 31 Maret 2015

PERKATAAN ‘SAYA MENGIKUTI MANHAJ SALAF’ BUKANLAH KESOMBONGAN DAN BERBANGGA DIRI

Di tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Seorang yang mengatakan: “Saya seorang Salafy” atau “Saya adalah pengikut Manhaj Salaf” bukanlah artinya ia meninggikan dirinya dan mengklaim dialah yang paling benar dalam segalanya. Sesungguhnya pernyataan tersebut menunjukkan cita-cita dan harapannya ingin sebenar-benarnya mengikuti teladan para Salafus Sholih dengan sebaik-baiknya pada seluruh sendi Dien.
Sebagaimana seorang yang mengatakan: “Saya muslim”. Apakah orang yang mengatakan demikian telah mengklaim dirinya adalah orang yang telah menjalankan syariat Islam secara sempurna? Jelas tidak. Ia mengatakan demikian dengan pengakuan dalam hati akan kekurangan pada dirinya. Ia bercita-cita ingin menjadi muslim yang menjalankan syariat Islam dengan baik dan terus memperbaiki dirinya.
Sehingga, ketika seorang menyatakan: Saya adalah pengikut Salaf, seakan-akan ia berkata: “Mari bersatu dalam Islam ini dengan menjadikan Salaf sebagai panutan kita. Jika antum mengetahui ada ajaran Salaf yang belum saya ketahui, sampaikan pada saya, karena saya sangat ingin meneladani para Salafus Sholih itu dengan baik. Namun, kami tegaskan bahwa jangan sekali-kali mengajak kami pada hal-hal yang sudah jelas bertentangan dengan manhaj Salaf, karena kami hanya mau mengikuti manhaj Salaf dalam Dien ini. Kamipun mengajak antum semua untuk mengikuti manhaj Salaf, karena sesungguhnya manhaj Salaf itu adalah Islam yang murni”.
Seorang pengikut manhaj Salaf yang haq tidak akan pernah mengklaim bahwa ia dan orang-orang yang sekarang bersamanya pasti akan masuk Jannah (Surga). Karena tidak ada yang tahu akhir kehidupan seseorang kecuali Allah. Ia tidak akan pernah tahu apakah ia akan terus menjadi pengikut manhaj Salaf hingga akhir hayatnya atau justru berakhir menjadi pengikut hawa nafsu, wal iyaadzu billah.
Ia juga tidak akan pernah tahu apakah rekan-rekan yang sekarang bersamanya, menuntut ilmu bersamanya, bahkan gurunya sendiri yang masih hidup akan terus di atas manhaj Salaf hingga akhir hayatnya. Ia juga tidak akan pernah tahu apakah amal yang ia lakukan ini diterima oleh Allah, atau justru ia adalah orang yang munafik, mengaku mengikuti manhaj Salaf secara lahiriah, namun secara batin membencinya, wal iyaadzu billah. Ia tidak bisa menjamin apakah amalnya bersih dari riya’ atau tidak. Ia sendiri bahkan tidak bisa mengklaim bahwa satu saja amal ibadah yang telah ia lakukan sudah diterima oleh Allah atau tidak.
Ia hanya bisa memastikan secara umum bahwa siapapun saja yang mengikuti manhaj Salaf dengan baik hingga akhir hayatnya, pasti masuk Jannah (Surga), sebagaimana dalil-dalil yang sedemikian banyak menunjukkan demikian. Karena manhaj Salaf pada hakikatnya adalah Islam yang sebenarnya. Adapun untuk orang perseorangan atau individu, ia tidak berani menyatakan bahwa fulaan pasti masuk surga dan fulaan pasti masuk neraka, kecuali orang-orang tertentu yang telah dipastikan oleh Allah dan RasulNya pasti masuk Surga dan Neraka.
Ia hanya bisa selalu berdoa memohon hidayah kepada Allah dan dikokohkan di atas manhaj Salaf, dan diberi akhir kehidupan yang baik. Ia akan berusaha memilih rujukan dalam bacaan, ataupun mendengarkan kajian-kajian dari orang yang sudah jelas keilmuannya dalam manhaj Salaf berdasarkan rekomendasi dari orang-orang yang terpercaya. Ia akan selektif memilih sumber ilmu dalam Dien ini, sebagai bentuk penjagaan terhadap manhaj yang sangat berharga bagi dirinya. Seorang pengikut manhaj Salaf akan selalu mengikuti dalil al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman Ulama Salaf, dengan bimbingan para Ulama yang nyata-nyata bermanhaj Salaf yang masih hidup sejaman dengannya.
Ia akan berusaha dan bersemangat menuntut ilmu yang shahih, berusaha mengamalkan, berusaha mendakwahkan sesuai kemampuannya, dan bersabar di atas manhaj yang haq ini.
Ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim sebagaimana ia suka kebaikan itu terjadi untuk dirinya. Karena itu ia bersemangat untuk mendakwahkan Ilmu Sunnah yang telah diketahuinya. Ia juga peringatkan saudaranya kaum muslimin dari bahaya kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan karena cinta dan sayangnya pada kaum muslimin.
Kadang dalam mendakwahkan manhaj Salaf ini ia dicela dan bahkan dikafirkan oleh saudaranya sesama muslim, namun ia tidak akan membalas mengkafirkan saudaranya itu, selama memang ia masih muslim.
Dakwah Salaf adalah ajakan kepada Sunnah, sehingga pada dasarnya pengikut manhaj Salaf adalah Ahlussunnah. Dakwah Salaf bukanlah ajakan pada pribadi atau kelompok maupun golongan tertentu secara ashobiyyah (fanatik buta). Telah disampaikan di atas bahwa penamaan ‘Salaf’ bukanlah penamaan yang mengada-ada, tapi sesungguhnya berasal dari ucapan Nabi, Sahabat beliau, dan para Ulama Ahlussunnah setelahnya.
Jika di masa Nabi, cukup seorang mengatakan: Saya muslim. Karena di masa itu hanya ada kafir dan muslim secara dhahir. Tidak ada kebid’ahan atau hal-hal baru yang diada-adakan di masa Nabi. Cukup seorang mengatakan : Saya muslim sebagai pembeda dengan orang-orang kafir.
Namun, saat mulai muncul kebid’ahan, maka para Sahabat mulai memberikan pembeda antara ajaran Islam yang murni dengan ajaran Islam yang sudah mulai terkontaminasi dengan kebid’ahan. Sebagaimana Ibnu Abbas memisahkan antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah dalam salah satu penafsirannya.
Saat orang-orang mulai banyak yang senang memahami dalil al-Quran dan dalil Sunnah Nabi dengan pikirannya sendiri, atau pemikiran para tokoh-tokoh kelompoknya, atau thoriqoh yang dipilihnya, maka saat itulah perlu pembeda antara pengikut manhaj Salaf dengan yang bukan. Perlu pembeda antara orang-orang yang memunculkan hal-hal baru dalam Dien ini dengan orang-orang yang masih istiqomah tetap mengikuti ajaran Islam yang murni terdahulu.

Rabu, 03 Desember 2014

Penjelasan Syahussunnah Lil Muzani ( Bag.10.b)

books_on_a_shelf_6763
Ditulis Oleh Ustadz Abu Utsman Kharisman
SIFAT-SIFAT ALLAH
Allah Tidak Sama dengan MakhlukNya
Al-Muzani menyatakan: Maha Mulya SifatNya dari keserupaan dengan sifat-sifat makhluk
Allah tidak sama dan serupa dengan makhlukNya.
…لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada yang semisal dengan-Nya suatu apapun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S asy-Syuura:11)
Para Ulama’ menjelaskan bahwa ada 2 hal yang tidak boleh dilakukan terkait dengan keyakinan ini, yaitu:
1. Menyerupakan Allah dengan makhluk, seperti menyatakan bahwa Tangan Allah seperti tangan makhluk, Wajah Allah seperti wajah makhluk, dan sebagainya. Ini adalah penyimpangan dalam Tauhid Asma’ WasSifaat yaitu tasybiih. Pelakunya disebut musyabbihah, dan ucapan itu adalah ucapan kekufuran.
Nu’aim bin Hammad (seorang guru al-Muzani dan al-Bukhari) menyatakan:
مَنْ شَبَّهَ اللهَ بِخَلْقِهِ، فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَنْكَرَ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ، فَقَدْ كَفَرَ، وَلَيْسَ فِي مَا وَصَفَ اللهُ بِهِ نَفْسَهُ وَلاَ رَسُوْلُهُ تَشْبِيْهٌ
Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya maka dia kafir. Barangsiapa yang mengingkari hal-hal yang Allah Sifatkan pada DiriNya maka dia kafir. Segala hal yang Allah Sifatkan DiriNya dan yang disifatkan oleh RasulNya tidaklah mengandung tasybih (penyerupaan) (diriwayatkan oleh adz-Dzahaby dalam Siyar A’lamin Nubalaa’ (10/610)).
Ishaq bin Rahawaih (salah seorang guru Imam al-Bukhari juga) menyatakan:
إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا
Tasybih adalah jika seseorang berkata Tangan (Allah) seperti tangan (makhluk), Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk). Jika seseorang menyatakan: Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka ini adalah tasybih (penyerupaan). Namun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah: Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan dia tidak menyatakan ‘bagaimana’, tidak juga menyamakan Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka ini bukanlah tasybih. Itu adalah seperti yang disabdakan Allah Ta’ala dalam KitabNya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang semisal denganNya, sedangkan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S asy-Syuuro:11)(Sunan atTirmidzi no riwayat 598 (3/71)).
2. Menyerupakan suatu makhluk dengan Allah baik dalam Uluhiyyah, Rububiyyah, maupun Asma’ WasSifaat. Ini adalah kesyirikan.
Misalnya, meyakini bahwa ada seseorang selain Allah yang mengetahui takdir para makhluk di Lauhul Mahfudz. Keyakinan tersebut adalah keyakinan kafir karena hanya Allah saja yang tahu.
Larangan Takyiif
al-Muzani menyatakan: Kecerdasan pikiran makhluk tidak mampu mensifatkanNya (secara menyeluruh dan mendetail)
Secerdas apapun suatu makhluk, tidak akan mampu akalnya menjangkau kaifiyat Sifat Allah. Ucapan al-Muzani tersebut di atas menunjukkan larangan menanyakan atau memikirkan kaifiyat (seperti apa atau bagaimana) Sifat-Sifat Allah.
Di dalam suatu hadits dinyatakan:
تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوا فِى اللهِ
Berpikirlah tentang makhluk Allah, janganlah berfikir tentang (kaifiyat Dzat atau Sifat) Allah (H.R arRofi’i, dihasankan Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’)
Kadangkala bisikan Syaithan akan berhembus dalam hati seseorang, sehingga ia memikirkan sesuatu yang batil dan sangat bertentangan dengan keimanannya. Lalu, bagaimana cara mengatasinya jika terjadi was-was syaithan semacam itu yang menyelimuti hati kita?
Langkah-langkahnya telah dibimbing oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam:
1. Berkata: Aamantu billaahi wa rosuulihi (Aku beriman kepada Allah dan Rasul-RasulNya). Atau berkata: Allahu Ahad, Allaahus Shomad, Lam Yalid wa lam Yuulad wa lam yakun lahu kufwan ahad.
2. Berta’awwudz (memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan) dengan mengucapkan :A’udzu billahi minasy syaithoonir rojiim
3. Sedikit meludah pada arah kirinya 3 kali.
4. Berhenti dari memikirkan hal itu.
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian kemudian berkata: Siapa yang menciptakan ini..siapa yang menciptakan ini.. sampai ia berkata: Siapa yang menciptakan Tuhanmu. Jika telah sampai hal itu, berlindunglah kepada Allah (taawudz) dan berhentilah (H.R alBukhari no 3034 dan Muslim no 191)
يَأْتِي الشَّيْطَانُ الْإِنْسَانَ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فَيَقُولُ اللَّهُ حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَإِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ ذَلِكَ فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
Syaithan mendatangi manusia kemudian berkata: Siapa yang menciptakan langit? Ia berkata: Allah. Kemudian (syaithan) berkata: Siapa yang menciptakan bumi. Ia berkata Allah. Sampai (Syaithan) berkata: Siapa yang menciptakan Allah. Jika salah seorang dari kalian mengalami hal itu, ucapkanlah: Aamantu billahi wa rosuulihi (Aku beriman kepada Allah dan RasulNya) (H.R Ahmad dan atThobarony, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’)
يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ بَيْنَهُمْ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ، فَقُولُوا: {اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ} ، ثُمَّ لْيَتْفُلْ أَحَدُكُمْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
Hampir-hampir saja manusia akan saling bertanya satu sama lain, hingga ada yang berkata: Allah menciptakan makhluk. Siapakah yang menciptakan Allah Azza wa Jalla? Jika mereka berkata demikian ucapkanlah: Allahu Ahad, Allaahus shomad, lam yalid walam yuulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad. Kemudian (sedikit) meludahlah ke kiri 3 kali dan bertaawwudz (memohon perlindungan kepada Allah) dari syaithan (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnussunni, Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany).
Allah Dekat Mengabulkan Permintaan
Al-Muzani menyatakan: Dia dekat mengabulkan permintaan
Pada saat perjalanan perang Khaibar, sebagian Sahabat mengeraskan dzikir takbirnya dengan mengucapkan: Allaahu Akbar Allaahu Akbar laa Ilaaha Illallah. Nabi yang mengetahui hal itu bersabda:
ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ
Rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli atau tidak ada, sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar Maha Dekat, dan Dia bersama kalian (H.R alBukhari no 3883 dan Muslim no 4873).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika dia berdoa kepadaKu, maka penuhilah seruanKu, dan berimanlah kepadaKu agar mereka mendapatkan petunjuk (Q.S al-Baqoroh:186).
Allah Jauh dengan Kemulyaan
al-Muzani menyatakan:… Dia (Allah) jauh dengan kemulyaan sehingga tidak bisa dijangkau oleh upaya buruk terhadapNya
Hal ini sebagaimana hadits Qudsi:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa menyampaikan kemudharatan kepadaKu…(H.R Muslim)
Allah Tinggi di Atas ‘Arsy Terpisah dari MakhlukNya
Al-Muzani menyatakan: (Dia) Tinggi di atas Arsy-Nya terpisah dari makhlukNya. Dia ada, bukan tidak ada atau hilang
Dalam kalimat ini al-Muzani menjelaskan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhlukNya. Tidak seperti persangkaan batil bahwa Allah berada di mana-mana, atau Allah bersatu dengan hambaNya. Maha Suci Allah atas segala persangkaan batil tersebut.
Jika disebutkan bahwa Allah dekat dalam ayat maupun hadits, itu menunjukkan bahwa Allah senantiasa mengetahui segala yang dilakukan hambaNya, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu terhadap seluruh makhlukNya di manapun mereka berada.
Kaidah Iman terhadap Nama dan Sifat-Sifat Allah Secara Umum
Banyak riwayat-riwayat hadits yang shahih tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah. Sikap Ahlussunnah terhadap hadits-hadits yang shahih itu adalah beriman dan menetapkan (itsbat) sesuai dengan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan tidak memikirkan atau menanyakan tentang kaifiyatnya (‘seperti apa’ atau ‘bagaimana’), karena kaifiyatnya hanya Allah saja yang tahu. Tidak juga menyamakan dengan sifat-sifat pada makhluk. Tidak boleh kita tolak kemudian kita cari-cari alasan bahwa ‘maksudnya bukan begitu’. Janganlah menolaknya, karena hal itu adalah bagian dari iman kepada hal-hal yang ghaib. Sedangkan salah satu ciri orang yang beriman dalam surat al-Baqoroh ayat 3 adalah beriman terhadap hal yang ghaib.
Sebagai contoh, jika dalam ayat-ayat al-Quran maupun dalam hadits-hadits yang shahih dinyatakan bahwa Allah memiliki Tangan, kita beriman bahwa Allah memiliki Tangan secara hakiki sesuai dengan kesempurnaan dan kemulyaanNya. Tangan tersebut tidak sama dengan tangan makhluk manapun. Kita juga tidak boleh memikirkan atau menanyakan seperti apa atau bagaimana Tangan Allah itu. Tidak boleh kita cari-cari makna lain untuk menolak penetapan Tangan tersebut, kemudian menganggap bahwa maksud dari ‘Tangan’ dalam ayat atau hadits itu adalah ‘kekuatan’ bukan tangan yang sebenarnya.
Mari kita simak akidah dari Ulama’ Ahlul Hadits, sebagai contoh al-Imam atTirmidzi (salah seorang murid al-Imam al-Bukhari). Beliau meriwayatkan hadits berikut dalam kitab Sunan atTirmidzi no 598:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ حَتَّى إِنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ } وَ { يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ }
Sesungguhnya Allah menerima shodaqoh dengan Tangan Kanannya kemudian Allah tumbuhkan untuk salah seorang dari kalian sebagaimana kalian memelihara kuda kecil (hingga menjadi besar). Sampai-sampai (shodaqoh) sesuap (makanan) akan terus membesar hingga sebesar gunung Uhud. Bukti pembenaran hal itu dalam al-Quran adalah :
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ
Tidakkah kalian tahu bahwasanya Allah menerima taubat dari hambaNya dan mengambil shodaqoh-shodaqoh (Q.S atTaubah:104).
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
Allah membinasakan riba dan menumbuhkan shodaqoh-shodaqoh (Q.S al-Baqoroh: 276).
(H.R atTirmidzi no 598)
Selanjutnya, al-Imam atTirmidzi menyatakan:
وَقَدْ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُ هَذَا مِنْ الرِّوَايَاتِ مِنْ الصِّفَاتِ وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالُوا قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِي هَذَا وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا يُتَوَهَّمُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابهِ الْيَدَ وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ فَتَأَوَّلَتْ الْجَهْمِيَّةُ هَذِهِ الْآيَاتِ فَفَسَّرُوهَا عَلَى غَيْرِ مَا فَسَّرَ أَهْلُ الْعِلْمِ وَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ آدَمَ بِيَدِهِ وَقَالُوا إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ هَاهُنَا الْقُوَّةُ و قَالَ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابهِ { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }
Lebih dari 1 Ulama menyikapi hadits ini maupun hadits lain yang semisal dengan ini berupa periwayatan tentang Sifat-Sifat dan Turunnya Allah Ta’ala pada tiap malam ke langit dunia, mereka berkata: Riwayat-riwayat tentang ini adalah sah, wajib diimani, tidak boleh dipersangkakan atau dikatakan : ‘Bagaimana?’. Demikianlah yang diriwayatkan dari Malik, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin alMubarok, bahwasanya mereka menyatakan tentang hadits-hadits semacam ini: Tetapkanlah tanpa bertanya ‘bagaimana’. Demikian juga ucapan para Ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Adapun al-Jahmiyyah, mereka mengingkari riwayat-riwayat ini dan berkata: Ini adalah tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk). Padahal Allah telah menyebutkan tidak hanya di satu tempat dalam KitabNya (tentang) Tangan, Pendengaran, Penglihatan. Al-Jahmiyyah menakwilkan ayat-ayat ini kemudian menafsirkan dengan penafsiran yang berbeda dengan penafsiran para Ulama. Mereka (al-Jahmiyyah) berkata: Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan Adam dengan TanganNya. Mereka (al-Jahmiyyah) berkata: Sesungguhnya makna ‘tangan’ di sini adalah ‘kekuatan’. Ishaq bin Ibrahim (salah seorang guru al-Bukhari) menyatakan: Tasybih adalah jika seseorang berkata Tangan (Allah) seperti tangan (makhluk), Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk). Jika seseorang menyatakan: Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka ini adalah tasybih (penyerupaan). Namun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah: Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan dia tidak menyatakan ‘bagaimana’, tidak juga menyamakan Pendengaran (Alla) seperti pendengaran (makhluk), maka ini bukanlah tasybih. Itu adalah seperti yang disabdakan Allah Ta’ala dalam KitabNya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang semisal denganNya, sedangkan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S asy-Syuuro:11)(Sunan atTirmidzi no riwayat 598 (3/71)).
Al-Imam Malik pernah ditanya oleh seseorang tentang bagaimana/ seperti apa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy. Maka al-Imam Malik menyatakan:
الاستواء منه معلوم، والكيف منه غير معقول، والسؤال عن هذا بدعة، والايمان به واجب
Al-Istiwa’ (maknanya) sudah diketahui, kaifiyatnya adalah sesuatu yang tidak di terjangkau akal, bertanya tentangnya adalah bid’ah, dan beriman terhadapnya adalah wajib (Siyar A’lamin Nubalaa’ karya adz-Dzahaby (8/106-107))
Perkataan al-Imam Malik tersebut menunjukkan bahwa makna ayat tentang Sifat Allah itu sudah jelas. Kaifiyatnya ada namun tidaklah diketahui kecuali oleh Allah. Sehingga tidak diperbolehkan bagi kita untuk menanyakan ‘seperti apa’ atau ‘bagaimana’. Beriman terhadap apa yang dikabarkan oleh Allah adalah wajib.

KENISCAYAAN SENANTIASA MENGHISAB JIWA

pohon
Ditulis Oleh Al Ustadz Marwan
Adalah suatu keniscayaan setiap individu kita untuk senantiasa menghisab jiwa-jiwa kita, sebelum semua perkara yang telah dilakukan jiwa manusia ditampakkan di hari di mana tiada suatu apapun yang tersembunyi. Yaitu hari penghisaban pada hari kiamat kelak. Dan sungguh seorang yang senantiasa merenungi, menghitung-hitung amalan dirinya, hingga kemudian ia bertaubat dari berbagai kesalahan dan segera kembali kepada Allah Ta’aala.
Semua konsekwensi dari tindakannya tersebut masih lebih ringan dibandingkan dengan penghisaban nanti di hari akhir, sedangkan penghisaban di hari akhir adalah suatu kepastian adanya, sementara kematian senantiasa berada di belakang mengikuti setiap individu, pada saatnya yang telah ditetapkan Allah jalla Jalaaluhu, kematian itu akan memberhentikan langkah anda, karena ia telah mendapati anda.
Umar bin Khaththab –radhiallahu ‘anhu- memperingatkan di dalam sebuah penuturannya :
Hisablah jiwa-jiwa kalian sebelum kalian dihisab (di hari kiamat). Dan timbanglah jiwa-jiwa kalian sebelum kalian ditimbang di hari kiamat, sungguh yang demiikian itu lebih ringan atas kalian dibanding penghisaban kelak di hari kiamat dan timbanglah jiwa-jiwa kalian untuk menghadapi hari yang sangat besar (hari kiamat), firman Allah Ta’aala :
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ
Artinya : Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).(al-Haaqah : 18)
Berkata al-Hasan al-Basri –rahimahullah- : Hanya sanya akan ringan hisab seseorang pada hari kiamat kelak yaitu atas kaum yang senantiasa menghisab jiwa-jiwa mereka di dunia, dan sungguh akan mengalami keberatan hisab pada hari kiamat atas suatu kaum yang tidak menghisab jiwa-jiwa mereka di dunia ini.
 KEHARUSAN MENJUAL JIWA DISETIAP MASUK WAKTU PAGI, BERUNTUNG ATAU MERUGI.
Saudaraku rahimakumullah.
Sebagaimana ternukil dari sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, riwayat Muslim dari hadits Abu Malik al-Haritsi bin ‘Ashim al-As’ari –radhiallahu’anhu- Rasululllah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أو مُوبِقُهَا
Setiap pagi manusia menjual jiwanya, apakah ia memerdekakan jiwanya atau membinasakannya.
Ditunjukkan di dalam hadits ini, bahwa setiap individu manusia di setiap waktu pagi menjadi keharusan baginya untuk melakukan suatu tindakan dan upaya, dan tindakan serta upaya yang dilakukan setiap usai bangun mengawali harinya tersebut hanya terdapat dua kemungkinan, apakah upaya yang dilakukan tersebut adalah tindakan yang membinasakan jiwanya ataukah sebaliknya yaitu membebaskan jiwanya. Dimaksudkan bahwa ketika seseorang berlaku amalan ketaatan semenjak bangun di pagi harinya sungguh ia telah membebaskan jiwanya dari ancaman adzab Allah Ta’aala, namun sebaliknya jika ia di pagi harinya tersebut memulai dengan perbuatan kemaksiatan sungguh ia telah menjual jiwanya dengan kebinasaan yang menjadikan konsekwensi adzab Allah Ta’aala.
Al-Hasan Al-Basri rahimahullahu menuturkan : Wahai sekalian manusia, sungguh anda masuk waktu pagi semua kemudian bertindak untuk melakukan suatu aktifitas dalam rangka mencari keberuntungan. Maka titik beratkan perhatian besar anda adalah terkait keberuntungan jiwa anda, karena sungguh tidaklah ada keberuntungan yang paling besar selamanya kecuali keberuntungan yang diraih oleh jiwa manusia.
Kesimpulannya bahwa orang-orang yang beriman sajalah mereka pada setiap bangun di pagi pada hari-harinya senantiasa menjual jiwanya untuk Allah Ta’aala dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan Jannah. Firman Allah Ta’aala :
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (at-taubah : 111).
Dan firman Allah Ta’aala :
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (al-Baqarah : 207).
Muhammad ibnu al-Hanafiyah –rahimahullah- mengatakan : Sesungguhnya Allah Ta’aala menjadikan jannah (surga) sebuah nilai ( yang sangat besar) untuk jiwa-jiwa kalian, maka janganlah kalian menjual jiwa-jiwa kalian dengan nilai yang lain selain jannah, sungguh seorang yang merugi itu adalah seorang yang merugikan dirinya sendiri dan menjual jiwanya dengan sekedar perkara dunia yang akan binasa, firman Allah Ta’aala :
إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (az-Zumar : 15).
Wallahu Ta’aala a’lam.

Senin, 01 Desember 2014

Penjelasan Syahussunnah Lil Muzani ( Bag.10.a)

Ditulis Oleh Ustadz Abu Utsman Kharisman
SIFAT-SIFAT ALLAH

Al-Muzani rahimahullah menyatakan:
وَكَلِمَاتُ اللهِ وَقُدْرَةُ اللهِ وَنَعْتُهُ وَصِفَاتُهُ كَامِلاَتٌ غَيْرُ مَخْلُوْقَاتٍ دَائِمَاتٌ أَزَلِيَّاتٌ وَلَيْسَتْ بِمُحْدَثاَتٍ فَتَبِيْد وَلاَ كَانَ رَبُّنَا نَاقِصًا فَيَزِيْد جَلَّتْ صِفَاتُهُ عَنْ شِبْهِ صِفَاتِ الْمَخْلُوْقِيْنَ وَقَصُرَتْ عَنْهُ فِطَنُ الْوَاصِفِيْنَ قَرِيْبٌ بِالْإِجَابَةِ عِنْدَ السُّؤَالِ بَعِيْدٌ بِالتَّعَزُّزِ لاَ يُناَلُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ مَوْجُوْدٌ وَ لَيْسَ بِمَعْدُوْمٍ وَلاَ بِمَفْقُوْدٍ
Kalimat-kalimat Allah, Kekuasaan Allah, dan Sifat-sifatNya adalah sempurna, bukan makhluk. (Sifat-sifat) itu selalu ada (abadi) dan azali (tidak bermula dari ketiadaan), tidaklah merupakan hal-hal yang baru sehingga bisa lenyap. Tuhan kita juga tidaklah mengandung kekurangan hingga butuh penambahan. Maha Mulya SifatNya dari keserupaan dengan sifat-sifat makhluk. Kecerdasan pikiran makhluk tidak mampu mensifatkanNya (secara menyeluruh dan mendetail). Dia dekat mengabulkan permintaan, jauh dengan kemulyaan sehingga tidak bisa dijangkau oleh upaya buruk terhadapNya. Tinggi di atas Arsy-Nya terpisah dari makhlukNya. Dia ada, bukan tidak ada atau hilang

PENJELASAN:
Pada bagian ini akan dijelaskan tentang:
  1. Sifat Allah Sempurna dan Bukan Makhluk.
  2. Sifat-Sifat Allah Abadi dan Azali.
  3. Allah Tersucikan dari Kekurangan
  4. Allah Tidak Sama dengan MakhlukNya.
  5. Larangan Takyiif.
  6. Allah Dekat Mengabulkan Permintaan.
  7. Allah Jauh dengan Kemulyaan
  8. Tinggi Di Atas Arsy Terpisah dari MakhlukNya.
  9. Kaidah Iman terhadap Nama-Nama dan Sifat Allah Secara Umum

Sifat Allah Sempurna dan Bukan Makhluk
Al-Muzani menyatakan: Kalimat-kalimat Allah, Kekuasaan Allah, dan Sifat-sifatNya adalah sempurna, bukan makhluk

Kalimat-Kalimat Allah seluruhnya sempurna.
وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا…
dan telah sempurna Kalimat Tuhanmu dalam kebenaran (kejujuran) dan keadilan… (Q.S al-An’aam:115)
Para Ulama menjelaskan bahwa Kalimat Allah terbagi menjadi 2 macam, yaitu Kauniyyah dan Syar’iyyah. Kalimat Kauniyyah adalah segala yang Allah takdirkan terjadi di dunia ini dengan ucapan: Kun (jadilah), maka terjadilah yang Allah kehendaki. Sedangkan kalimat syar’iyyah adalah segala aturan syariat yang telah Allah tetapkan, berupa perintah dan larangan. Semua jenis Kalimat Allah tersebut adalah sempurna dalam kebenaran dan keadilan.
Segala yang telah Allah takdirkan adalah adil dan benar (tidak meleset sedikitpun dari yang telah dituliskan).
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menyatakan dalam salah satu doanya:
…عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ…
…Sungguh adil ketetapanMu terhadapku…(H.R Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)
Segala Kalimat Allah dalam al-Quran adalah penuh dengan kejujuran dan keadilan. Jujur, artinya khabar-khabarnya benar, pasti terjadi, tidak dusta. Adil artinya: perintah dan larangan Allah sangat tepat dan sesuai untuk diterapkan, tidak bisa digantikan oleh aturan lainnya. Adil, tidak mengandung unsur kedzhaliman.
Seluruh Sifat Allah adalah sempurna.
…وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَى…
… dan untuk Allahlah Sifat yang sempurna…(Q.S anNahl:60).
Sebagaimana Dzat Allah adalah sempurna, Sifat-SifatNya juga sempurna.
Demikian juga, seluruh Nama-Nama Allah adalah baik
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
Dan Allah memiliki Nama-Nama yang baik… (Q.S al-A’raaf:180)
Setiap Nama mengandung Sifat yang sempurna.
Seluruh Sifat Allah adalah sempurna, dan bukan makhluk
Sifat Allah adalah Abadi dan Azali

Al-Muzani menyatakan: Sifat-sifat) itu selalu ada (abadi) dan azali (tidak bermula dari ketiadaan)

Abadi artinya tidak akan pernah berakhir atau binasa, akan selalu ada. Sedangkan Azali artinya tidak bermula dari ketiadaan.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ
 Ya Allah, Engkaulah al-Awwal yang tidak ada sesuatupun sebelumMu, dan Engkau adalah al-Aakhir yang tidak ada sesuatupun setelahMu…..(H.R Muslim no 4888)
Ahlussunnah meyakini bahwa Allah memiliki Sifat Dzatiyyah dan Fi’liyyah. Sifat Dzatiyyah adalah Sifat-Sifat yang senantiasa melekat dan ada pada Allah, seperti Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan semisalnya. Sedangkan Sifat Fi’liyyah adalah Sifat yang terkait dengan kehendak Allah. Allah berbuat sesuai dengan yang dikehendakiNya. Seperti Mencintai, Merahmati, atau Murka, Berbicara, dan sebagainya.
Sebagian Ahlul Bid’ah menetapkan Sifat Dzatiyyah saja dan menolak Sifat-Sifat Fi’liyyah.
Allah Tersucikan dari Segala Kekurangan
Al-Muzani menyatakan : Tuhan kita juga tidaklah mengandung kekurangan hingga butuh penambahan
Allah tersucikan dari segala macam aib, cela, dan kekurangan. Dalam al-Quran, kadang Allah sebutkan pensucian untuk DiriNya secara umum, seperti :
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai kemulyaan dari apa yang mereka katakan (Q.S as-Shoffaat:180).
Kadangkala Allah sebutkan peniadaan sifat kekurangan tertentu pada diriNya. Contohnya sifat lemah, lupa, lalai, mengantuk, tidur, dan capek.
  وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي اْلأَرْضِ (فاطر : 44)
“ Dan tidak ada suatu pun bagi Allah yang dapat melemahkanNya di langit maupun di bumi “(Q.S Faathir : 44)
وَماَ كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ( مريم : 64)
Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan lupa …”(Q.S Maryam : 64)
وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ( البقرة : 74)
Dan Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kalian perbuat “(Q.S AlBaqoroh : 74)
لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ (البقرة :255)
“ Dan tidaklah menghinggapiNya mengantuk maupun tidur (Q.S AlBaqoroh : 255)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَّمَا مَسَّنَا مِنْ لُّغُوْبٍ ( ق : 38)
“ Dan sungguh telah Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan di antara keduanya dalam enam hari dan tidaklah menghinggapi Kami perasaan capek “ (Q.S Qoof : 38)
Namun, para Ulama’ menjelaskan bahwa dalam al-Quran jauh lebih banyak penetapan Sifat-Sifat Yang Sempurna bagi Allah dibandingkan peniadaan sifat-sifat kekurangan tertentu.

sumber: http://salafy.or.id/blog/2013/12/21/penjelasan-syahussunnah-lil-muzani-bag-10-a/