Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At Taubah: 100)

Sabtu, 11 November 2023

💡🕋 QUNUT NAZILAH UNTUK SAUDARA DI PALESTINA

📝 Apa arti qunut nazilah?

Kita hidup di lingkungan yang sangat mengenal apa itu qunut subuh. Bahkan mungkin ada yang belum mendengar bahwa ada jenis qunut lain selain qunut subuh. Yaitu qunut nazilah.

• Nazilah sendiri adalah situasi ketika musuh menyerang umat Islam; atau ketika ada situasi sulit yang terjadi pada umat Islam atau sebagian umat Islam. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 121-122].

• Adanya qunut nazilah didasari dengan sejumlah dalil. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 123-209]. Ini adalah madzhab Syafi‘i dan Hanbali.

• Qunut nazilah adalah qunut yang dilakukan pada saat terjadi nazilah.

• Hukumnya adalah sunnah. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 236].

• Qunut nazilah dilaksanakan pada shalat lima waktu. Ini madzhab Syafi‘i dan satu riwayat dalam madzhab Hanbali. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 247].

• Qunut nazilah juga bisa dilakukan pada shalat Jum‘at. Sebab shalat Jum‘at juga shalat, maka hukum yang berlaku dalam shalat lainnya juga berlaku untuk shalat Jum‘at.

Ini madzhab Syafi‘i; dipilih juga oleh Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 254].

• Dilakukan pada rakaat terakhir, setelah bangkit dari rukuk.

• Dilakukan oleh orang yang shalat sendiri ataupun shalat berjamaah. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 249].

Merespon atas apa yang sedang terjadi pada saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina yang mengalami penderitaan akibat serangan Israel, melalui Surat Edaran Kementerian Agama Republik Indonesia, Nomor SE 12, tahun 2023, kita umat Islam di Indonesia diimbau untuk melaksanakan qunut nazilah.

Yaitu doa yang dilakukan untuk kebaikan saudara-saudara kita di Palestina dan mendoakan keburukan bagi musuh mereka.

📝 Bagaimana lafazh doa qunut nazilah?

Tidak ada lafazh khusus yang mengikat untuk qunut nazilah. Karena nazilah berkaitan dengan musibah yang terjadi pada suatu waktu tertentu, jadi lafazh doa qunutnya pun menyesuaikan keadaan di saat tersebut.

Maka bisa membaca doa ini dalam qunut nazilah,

اللّهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ.

اللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَمَنْ شَايَعَهُمْ وَأَعَانَهُمْ، يَا عَزِيْزُ يَا جَبَّارُ.

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيِّ يُوْسُفَ.

“Ya Allah, selamatkanlah saudara-saudara kami kaum mukminin yang tertindas di Palestina dan di setiap tempat.

Ya Allah, timpakanlah azab keras-Mu terhadap kaum Yahudi penjajah yang zalim, serta siapa pun yang mendukung dan membantu mereka, wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Mengalahkan.

Ya Allah, jadikanlah azab-Mu atas mereka berupa paceklik berkepanjangan sebagaimana yang terjadi di masa Nabi Yusuf.”

Doa di atas diambil dari makna yang terdapat pada satu doa qunut nazilah dari Rasulullah ﷺ. [H.R. Al-Bukhari (4560) dan Muslim (675)].

Juga bisa menutup doa ini dengan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad ﷺ. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 437-449].

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

📝 Apakah bacaan qunut nazilah dibaca dengan jahr (dikeraskan)? Atau cukup dengan sirr?

Qunut nazilah dibaca dengan jahr, walaupun pada shalat yang sirr.

Hal ini dapat dilihat dalam dalil-dalil tentang qunut nazilah.

Selain itu, tujuan qunut nazilah ialah agar makmum juga turut serta mendoakan dengan cara mengaminkan qunut imam. Dan itu hanya dapat terlaksana jika imam mengeraskan bacaan qunutnya. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 258-260].

📝 Apakah mengangkat tangan ketika melaksanakan qunut?

Doa qunut dilakukan dengan mengangkat tangan. 

Dalilnya ialah hadits Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: demi Allah, aku akan benar-benar memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika gerhana matahari.

فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ قَائِمٌ فِي الصَّلَاةِ رَافِعٌ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يُسَبِّحُ وَيَحْمَدُ وَيُهَلِّلُ وَيُكَبِّرُ وَيَدْعُو حَتَّى حُسِرَ عَنْهَا.

“Lalu aku pun mendatangi beliau, dan ternyata beliau sedang berdiri untuk menunaikan shalat dengan mengangkat kedua tangannya. Beliau membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir serta berdoa hingga matahari bersinar kembali.” [H.R. Muslim (913)]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada dalil bagi ulama madzhab kami yang menyatakan bahwa doa qunut dilakukan dengan mengangkat kedua tangan.” 
Syarah Shahih Muslim (6/307); lihat pula: Raf‘u al-‘Anut, hlm. 369-378. 

Mengangkat tangan ketika qunut juga amalan sejumlah sahabat nabi, seperti Umar bin Khatthab dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 377-378].

Tangan langsung diturunkan ketika selesai dari qunut. Tidak perlu mengusap wajah setelahnya. Karena tidak ada riwayat shahih dari Nabi ﷺ ataupun para sahabatnya tentang mengusap wajah setelah berdoa. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 450-458].

📝 Berapa lama qunut nazilah dilaksanakan? 

Jika qunut nazilah dilakukan karena suatu musibah yang telah terjadi dan selesai, maka dilakukan selama beberapa waktu. Bisa juga satu bulan, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ terkait tragedi terbunuhnya para penghafal Al-Qurʼan dalam jumlah yang banyak. 

Sedangkan jika musibah yang terjadi terus berlangsung, maka qunut nazilah terus dilakukan sampai Allah subhanahu wa ta‘ala menghilangkan musibah itu dari umat Islam. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ saat beliau melakukan qunut untuk keselamatan umat Islam yang tertindas di Makkah sampai Allah menyelamatkan mereka. [Raf‘u al-‘Anut, hlm. 225].

📝 Penutup

Qunut nazilah adalah salah satu sarana kita dalam mendoakan kebaikan untuk saudara-saudara kita yang saat ini sedang terjajah di negerinya sendiri. 

Namun, doa kebaikan tersebut tentu tidak khusus dalam qunut. Mari kita memperbanyak doa kebaikan bagi saudara-saudara kita muslimin seluruhnya, dan terkhusus saudara-saudara kita di Palestina, di tiap waktu doa yang mustajab. Di dalam sujud, setelah shalat, antara adzan dan iqamah, tatkala safar, dan sebagainya. 

Sesungguhnya ini adalah tanda kesempurnaan iman seseorang. Di saat ia turut merasa sakit atas derita yang dirasakan oleh saudaranya muslim yang lain di mana pun berada. 

‎✍ https://t.me/nasehatetam/8509

Kamis, 02 November 2023

Palestina Saksi Keangkuhan Bani Israil



PALESTINA SAKSI KEANGKUHAN BANI ISRAIL

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى

Lembaran sejarah tak pernah sepi dari kesombongan Bani lsrail. Sejarah mereka demikian kelam. Pembunuhan, pembantaian, kezaliman, dan berbagai penodaan Bani lsrail terhadap norma kehidupan terus mengalir melintasi sejarah kehidupan anak manusia. 

Bukan hanya cerita-cerita masa lalu. Hari ini pun mata dunia menyaksikan kekejian mereka, terlebih kepada kaum muslimin. Bahkan saat anda membaca tulisan ini, tangan-tangan Bani lsrail masih berlumuran dengan darah segar kaum muslimin. Baitul Maqdis masih dalam teror Yahudi. Muslimin palestina masih terus dihujani timah-timah panas serdadu syaithan. Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

Saat ini kita dalam keamanan, namun seringkali kita lupa nikmat tersebut, lupa nasib saudara kita yang terus dihantui rasa takut, derai air mata kesedihan pun terus meliputi hari-hari mereka, bersama darah-darah pengorbanan mereka yang tersimbah di Bumi Allah.

Wahai jiwa...., manakah doamu di tengah malam untuk saudara-saudaramu? Wahai jiwa..., manakah uluran tanganmu?

Memang mengherankan perkara Bani lsrail. Banyak anugerah nikmat kepada mereka. Allah banyak mengutus Nabi dan Rasul dari kalangan Bani lsrail, demikian pula kekuasaan dunia. Nabi Musa pernah mengingatkan nikmat-nikmat itu: 

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dan menjadikan kalian orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." [Q.S. AI-Maidah: 20].

Mereka bukan kaum yang pandai bersyukur. Nikmat-nikmat itu justru dibalas dengan kedurhakaan dan kesombongan.

Saudaraku, jangan kau tanya tentang kesombongan mereka kepada manusia! Jangan kau heran mereka membusungkan dada di hadapan dunia! Di hadapan Allah, Rabbul 'alamin saja, mereka menyombongkan diri. Ayat-ayat Allah mereka rubah, mereka pelintirkan. Syariat Allah mereka sembunyikan. Perintah-perintah Allah mereka olok-olok. Nabi-nabi Allah mereka bunuhi. Padahal kenikmatan demikian banyak Allah limpahkan.

Sebelum diutusnya nabi terakhir -  Muhammad bin Abdillah ﷺ- mereka menyangka nabi itu dari Bani lsrail, keturunan Ya’qub bin lshaq bin Ibrahim عليه السلام. Namun, ketika kebenaran terang di hadapan mereka, bahwa Nabi terakhir adalah dari bangsa Arab, keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim عليه السلام, hasad meliputi relung qalbu mereka. Kesombongan menyeruak dalam benak dan tingkah Iaku mereka. Mereka kufuri Khatamul Anbiya wal Mursalin, Muhammad ﷺ penutup para nabi dan rasul. 

Pembaca Qudwah yang saya cintai fillah, dalam surat Al Baqarah dan Al A'raf ada sepenggal peristiwa. Peristiwa yang juga bukti kesombongan Bani lsrail. Allah kisahkan agar dijadikan ibrah. Pada majelis ini, mari kita baca kisah tersebut dengan seksama. Semoga Allah merahmati dan memberkahi kita. Amin, Ya Mujibas Saailin.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ  وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (٥٨) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (٥٩) 

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman, 'Masuklah kalian (yakni Bani Israil-pen) ke negeri ini (Baitul maqdis), dan makanlah dari hasil buminya yang banyak lagi enak, di mana yang kalian sukai. Dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud (kepada Allah), dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa', niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian.

Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik’. Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.

[Q.S. Al-Baqarah: 58-59].

Kisah ini juga Allah سبحانه وتعالى firmankan dalam surat Al-A’raf: 

وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُولُوا حِطَّةٌ وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ  سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (١٦١) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ (١٦٢)

"Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani lsrail), ’Diamlah di negeri ini saja (Baitulmaqdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kalian kehendaki.' Dan katakanlah, ’Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian.‘ Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.

Maka orang-orang yang lalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kelaliman mereka.

[Q.S. AI-A'raf: 161-162].

Untuk lebih memahami kisah dalam ayat-ayat di atas, sejenak kita menengok kembali ke beIakang, merunut sejarah Bani lsrail sebelum terjadinya peristiwa dalam ayat ini. 

BANI ISRAIL DI ZAMAN MUSA DAN HARUN

Bani Israil adalah kaum yang sangat tertindas di bawah cengkeraman Fir'aun. Mereka tertekan dalam kurun waktu yang cukup lama. Kepedihan hidup mereka banyak dikisahkan dalam ayat AI-Quran. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ  إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka,  menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

[Q.S. Al-Qashshash: 4].

Tidak lama kemudian, diutuslah Musa, sebuah anugerah besar mereka rasakan. Allah selamatkan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun. Kisah Musa dan Fir'aun banyak Allah sebutkan dalam Al-Quran. Sejak kelahiran Musa, hingga Allah utus beliau menjadi salah satu ulul azmi dari rasul-rasuI-Nya. 

Laut merah terbelah, jalan terbentang di tengah ombak yang menjulang seperti gunung besar di antara sekian nikmat yang Allah berikan kepada Bani Israil. 

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ  فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar." 

[Q.S. Asy-Syu’ara: 63].

Mereka selamat..., merdeka dari kezaliman Fir'aun. Adapun Fir’aun dan bala tentaranya, Allah tenggelamkan dengan sangat hina di Iaut merah. Nikmat ini Allah ingatkan dalam firman-Nya:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ  وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (٤٩) وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (.٥)

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kalian dari (Fira'un) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepada kalian siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anak kalian yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak kalian yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhan kalian. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untuk kalian, lalu Kami selamatkan kalian dan Kami tenggelamkan (Fira’un) dan pengikut-penglkutnya sedang kalian sendiri menyaksikan.” 

[Q.S. AI-Baqarah: 49-50].

PERINTAH MEMASUKI BAITUL MAQDIS

Setelah keselamatan itu, Allah perintahkan Bani Israil untuk memasuki Baitul Maqdis, sebagai sebab untuk meraih kemenangan yang Allah janjikan. Nabi Musa berseru:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

"Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagi kalian, dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian menjadi orang-orang yang merugi." 

[Q.S. Al-Maidah: 21].

Dalam ayat ini, dengan tegas Allah menjanjikan kemenangan. Ya, Allah janjikan kemenangan jika mereka mau memasuki Baitul Maqdis, berjihad. Dan sungguh janji Allah tidak akan luput. Tetapi, janji itu tidak mereka sambut. Mereka enggan menunaikan perintah jihad. Bahkan dengan seenaknya mereka suruh Nabi Musa untuk berjihad sendiri. Dan Iebih lancang lagi mereka perintah Allah juga untuk berperang!

Allahu Akbar..., di mana akal Bani lsrail? Betapa keji kalimat yang keluar dari mulut  mereka! Bayangkan, Allah memerintahkan mereka berjihad, namun justru perintah itu mereka kembalikan kepada Allah. Perhatikan ucapan mereka sebagaimana Allah سبحانه وتعالى kisahkan: 

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا  فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

"Mereka berkata, "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua (yakni Engkau dan Allah - pen), sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja."

[Q.S. Al Maidah: 24].

Kasar dan sombong! Itulah mereka. Dengan sebab dosa inilah, Allah hukum mereka selama 40 tahun, terlantar di muka bumi.

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ  أَرْبَعِينَ سَنَةً  يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ  فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

"Allah berfirman, '(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." [Q.S. Al Maidah: 26]

PERINTAH BERJIHAD UNTUK MEMBUKA BAITUL MAQDIS TERULANG SEPENINGGAL MUSA

Dimasa Nabi Yusya‘ bin Nun, datang perintah kembali untuk berjihad membuka Baitul Maqdis. Perang berlangsung, di akhir hari Jum'at Allah limpahkan kemenangan atas Bani Israil. Bahkan dalam peperangan itu, Allah tahan Matahari untuk tenggelam di waktunya. Hingga kemenangan diraih Nabi Yusya' bersama Bani Israil.¹

Kemudian Allah perintahkan mereka memasuki Baitul Maqdis dengan tawadhu' kepada Allah, masuk dalam keadaan sujud kepada Allah, dan memohon ampun atas kedurhakaan mereka meninggalkan jihad di zaman Musa.

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ  وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman, "Masuklah kalian ke negeri ini (Baitulmaqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak, di mana yang kalian sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud (kepada Allah), dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa‘, niscaya Kami ampuni kesalahan- kesalahan kalian. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.

[Q.S. Al Baqarah: 58]

Masuklah mereka ke Baitul Maqdis. Namun, rupanya di antara mereka ada kaum yang zalim, yang justru merubah firman Allah. Itulah yang Allah kisahkan dalam firman-Nya:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

"Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.

[Q.S. Al-Baqarah: 59].


Dari firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 59 yang artinya, ”Lalu orang-orang yang Ialim mengganti perintah", dan firman-Nya dalam surat AI A'raf ayat 162 yang artinya, ”Maka orang-orang yang Ialim di antara mereka”, difahami bahwa tidak semua Bani Israil mengingkari perintah Allah itu. Masih ada di antara mereka yang shalih dan menetapi perintah-Nya:

وَمِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

"Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.

[Q.S. Al-A'raf: 159].

Adapun kaum yang zalim, mereka ubah perintah Allah. Sebagaimana Rasulullah ﷺ kisahkan dalam sabda beliau dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه:

قِيلَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ يُغْفَرْ لَكُمْ خَطَايَا كُمْ فَبَدَّلُوا فَدَخَلُوا الْبَابَ يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاھِهِمْ وَقَالُواحَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ

"Datang perintah Allah kepada Bani Israil, ’Masuklah kalian (ke dalam Baitul Maqdis) melalui pintu gerbangnya, sambil bersujud (kepada Allah), dan katakanlah, ’Bebaskanlah kami dari dosa’, pasti Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahan kalian,' (Al Baqarah: 58). Namun mereka memasukinya dengan merangkak menghadapkan pantat-pantat mereka seraya berkata, ’Habbah Fi Sya’rah’." [Muttafaqun ‘Alaihi].

Mereka diperintahkan untuk bersujud, tetapi mereka malah memberikan pantat mereka. Mereka diperintah untuk memohon ampun kepada Allah (dengan lafazh ’hiththah' sebagaimana dalam ayat), tetapi mereka merubah lafazh tersebut dengan 'Habbah Fi Sya'rah' atau dalam sebagian riwayat 'Hinthah' yang maknanya adalah biji gandum.

Tidak lama kemudian turunlah Azab Allah dari langit menimpa kaum yang zalim. Azab yang pedih. 

Mengenai jenis azab, banyak pendapat di kalangan ulama. Sebagian ahli tafsir berkata bahwa azab tersebut adalah kemurkaan dari Allah. lni adalah pendapat Abul Aliyah Ar-Riyahi رحمه الله. Sebagian Iain mengatakan bahwa azab tersebut adalah penyakit Tha'un atau dingin yang sangat. Demikian kata Asy-Sya'bi 'Amir bin Syarahil, berdalil dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam riwayat Imam Muslim dari shahabat Usamah bin Zaid رضي الله عنهما:

إِنَّ ھَذَا الْوَجَعَ رِجْزٌ أَوْ عَذَابْ أَوْيَقِيَّةُ عَذَابٍ عذِّ بَ بِهِ أُنَاسٌ مِنْ قَبْلِكُمْ

"Sesungguhnya penyakit ini -yakni Tha'un- adalah hukuman atau sisa dari azab yang Allah siksa dengan azab tersebut manusia sebelum kalian.

Apapun pendapat ahli Tafsir, tidak diragukan bahwa azab tersebut sangat pedih, setimpal dengan kekejian dan besarnya dosa yang mereka lakukan. Adapun jenis azab tersebut secara pasti hanya Allah yang mengetahui. Allahua'lam bishshawab.

RENUNGAN BEBERAPA FAEDAH KISAH 

1. Kerusakan di muka bumi termasuk berbagai macam penyakit, di antara sebabnya adalah dosa-dosa manusia. Seperti azab yang menimpa Bani lsrail ketika mereka merubah syariat Allah. Sebagaimana pula ditunjukkan dalam sabda Rasulullah ﷺ dalam riwayat Muslim tentang penyakit tha'un yang sebagian ulama mengaitkannya dengan kisah Bani lsrail. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Q.S. Ar-Ruum: 41].

2. Di antara sifat buruk Bani lsrail, mereka adalah kaum yang berani dan suka merubah kalam Allah dan syariat-Nya. 

3. Besarnya dosa orang yang berani merubah kalam Allah, dan akibat buruk atas perbuatan tersebut berupa azab yang pedih. 

4. Kisah ini menunjukkan wajibnya merendahkan diri kepada Allah. Terlebih di saat memperoleh keberhasilan atau kemenangan dalam jihad fi sabilillah. Seringkali seorang ujub terhadap usaha yang dilakukan di saat keberhasilan dan kemenangan menyapa. Dalam kisah di atas, Allah perintahkan Bani Israil untuk memasuki Baitul Maqdis di saat datang kemenangan, dengan sujud kepada Allah dan memohon ampunan. Inilah hakikat ketundukan dan ketawadhuan kepada Allah.

Hal serupa juga Allah perintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ, Allah berfirman dalam Surat An-Nashr (yang maknanya), ”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu Iihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat." 

[Q.S. An-Nashr: 1-3].

Inilah Rasulullah ﷺ, saat kota makkah beliau kuasai, beliau memasukinya dalam keadaan merendahkan diri di hadapan Allah. Tidak seperti layaknya hamba dunia yang memasuki negeri yang dikuasainya dengan kesombongan, memasuki negeri yang ditakIukkan dengan kepala menengadah dan dada yang terbusung. Rasul masuk dengan menundukkan kepala, merendahkan diri di hadapan Allah sampai hampir-hampir dagu beliau menyentuh pelana, seraya berdzikir, membaca kalam ilahi.

5. Dalam ayat-ayat di atas disebutkan beberapa sifat buruk Bani Israil selain merubah kalam Allah dan syariat-Nya. Yaitu, sombong kepada Allah, tidak beradab kepada nabi-nabi Allah, dan enggan untuk berjihad dan mengamalkan ilmu.

6. Apakah ghanimah (harta rampasan perang) halal bagi Bani Israil❓Sebagaimana dimaklumi, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ghanimah hanya dihalalkan untuk ummat Rasulullah ﷺ. Adapun apa yang disebutkan dalam kisah di atas, yang dihalalkan untuk Bani Israil saat menguasai Baitul Maqdis adalah sebagian dari ghanimah berupa makanan. Adapun emas, perak, senjata, dan semisalnya Allah haramkan atas umat terdahulu. Allah Subhanallahu Wa Ta'ala utus api besar untuk membakar ghanimah tersebut setelah dikumpulkan.

Sumber || Majalah Qudwah Edisi 07 || t.me/majalah_qudwah || https://t.me/atsarid/2507

Selasa, 26 September 2023

🚇BENARKAH NABI HADIR DALAM MAJELIS BERZANJI, MAULID, DLL SEHINGGA MEREKA BERDIRI UNTUK MENGHORMATINYA?

▶️ ❶ Tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali berdasarkan berita dari wahyu melalui Rasul-Nya

(Allah) Yang Mengetahui hal ghaib, maka Dia tidak memberitahukan perkara ghaib-Nya kepada seorangpun kecuali kepada yang Dia ridhai dari Rasul. › [QS Al-Jin: 26-27]

Katakanlah (Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib, dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini seorang malaikat. Aku tidaklah mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat? Maka apakah kamu tidak memikirkannya?.” › [QS Al-An’am: 50]


▶️ ❷ Hukum bagi orang yang mengaku-ngaku mengetahui hal ghaib

Hukum bagi orang yang mengaku-ngaku mengetahui akan hal yang ghaib adalah Kafir.

Katakanlah (Muhammad): “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” › [QS An-Naml: 65]

Jika Allah telah memerintahkan Nabinya untuk memerintahkan kepada orang-orang bahwa, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, maka jika ada orang yang mengaku-ngaku mengetahui ilmu ghaib, sungguh dia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya dalam berita ini.


▶️ ❸ Permasalahan Roh / arwah-arwah, termasuk dalam urusan ghaib
 
Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Rabbku.” Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. › [QS Al-Isra: 85]


▶️ ❹ Sekilas Berita-berita tentang Roh

— Roh tidak bisa kembali ke dunia lagi hingga kelak dibangkitkan.

Dan dihadapan mereka ada Barzakh sampai hari mereka dibangkitkan. › [QS Al-Mu’minun: 100]

‹ Barzah adalah alam antara dunia dan akhirat. › Kata Mujahid di dalam Tafsir Ibnu Katsir.

— Roh Nabi Muhammad berada di rafiq al a’la di surga

Hal ini ditunjukkan oleh do’a Beliau menjelang wafatnya: ‹ Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan sampaikan aku pada Rafiq yang tinggi. › [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, lafadz pada Tirmidzi, lihat Silsilah Ash-Shahihah 6/2775 prog. Maktabah Syamilah]


▶️ ❺ Sebuah dugaan atau persangkaan seseorang tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran

(Mereka menduga bahwasanya Allah berkehendak untuk mewujudkan kehadiran Nabi pada majelis-majelis mereka, maka terwujudlah. Dengan alasan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Kun Fayakun).

Merekapun menduga bahwa roh-roh orang yang sudah mati bisa kembali ke dunia meminta dikirimkan bacaan ini dan itu, menangis, tertawa, menampakan wadak halusnya dll dengan alasan serupa.

Persis alasan orang kafir yang menduga bahwasanya Allah berkehendak untuk mewujudkan adanya anak Allah melalui diri Maryam, maka terwujudlah. Dengan alasan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Kuasa Tuhan. Semua itu adalah kedustaan yang besar.

Ingatlah,

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengiluti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. › [QS Al-An’am: 116]

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan. › [QS Yunus: 36]

Dan mereka tidak mempunyai pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. › [QS An-Najm: 28]


▶️ ❻ Jika bukan Roh Nabi yang hadir, Lalu siapakah sebenarnya yang hadir di Majelis mereka itu?

Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. › [Asy-Syu’ara: 221-222]


▶️ ❼ Hukum berdiri di tempat untuk penghormatan bagi orang yang datang dalam keadaan hidup

— Tahukah mereka bahwa Rasulullah [ﷺ] tidak suka dihormati dengan cara berdiri di tempat?

Nabi [ﷺ] bersabda: ‹ Barangsiapa yang menyukai manusia dalam posisi berdiri untuknya, maka persiapkanlah olehnya tempat duduknya dari neraka. › [HR. Ahmad, Shahih]

— Para Shahabat yang Mulia pun tak berdiri di tempat untuk menghormatinya 

Anas bin Malik radhiAllahu ‘anhu berkata: ‹ Tidak ada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah, dan mereka (para Shahabat) bila melihat Beliau tidaklah berdiri untuknya karena mereka tahu bahwa Beliau tidak suka akan hal itu. › [HR. At-Tirmidzi, Shahih]

Janganlah berdiri di tempat untuk menghormat, agar engkau tidak menjadi penolong setan

Dan jangan kalian menjadi penolong bagi setan untuk mencelakakan saudara kalian. › [HR. Al-Bukhari] 

Sungguh orang-orang yang berdiri di tempat guna menghormat tersebut telah menjadi penolong setan agar menumbuhkan rasa kecintaan terhadap sikap berdiri bagi orang yang datang.

Ini keadaan hukum yang diberlakukan bagi orang yang datang dalam keadaan hidup, lalu bagaimana jadinya jika ternyata yang diperlakukan demikian itu adalah orang yang datang ternyata sudah mati, dengan sekedar menduga Rohnya telah datang secara ghaib? Atau menyangka roh+jasadnya yang hadir secara ghaib?


▶️ ❽ Sebagian Contoh Fatwa Ulama

Hukum Berkumpul untuk acara Maulid dan Pengakuan bahwa Nabi [ﷺ] hadir dalam majelis

Soal 5:

Apa hukum berkumpulnya orang-orang untuk acara Maulid dengan pengakuan mereka bahwasanya Nabi [ﷺ] menghadiri majelis-majelis mereka? Dan apakah perkumpulan ini sah secara syari’at? Dan apa yang sepantasnya bagi kita untuk melakukannya pada hari kelahiran Nabi [ﷺ], dan kapan Beliau dilahirkan? Pada hari apa? Bulan apa? Tahun berapa? Dan apakah Nabi [ﷺ] hidup di dalam kuburnya sekarang ataukah tidak?

Jawab 5:

Berkumpulnya orang-orang untuk menghidupkan malam kelahiran/Maulid dan membaca sejarahnya adalah tidak disyari’atkan. Bahkan itu adalah bid’ah yang diada-adakan. Sedangkan pengakuan mereka; bahwasanya Nabi [ﷺ] menghadiri majelis-majelis mereka adalah kedustaan.

Padahal Nabi [ﷺ] hidup di dalam kuburnya dengan kehidupan alam barzakh, merasakan kesenangan didalamnya dengan kenikmatan Jannah/Surga, dan bukan seperti kehidupan di dalam dunia. Sebab sesungguhnya Beliau telah wafat, dimandikan, dikafani, dan dishalati dengan shalat jenazah dan juga sudah dikubur sebagaimana yang lain. Dan Beliau orang yang pertama kali nanti dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat.

Dan sungguh Allah ta’ala telah berfirman mengajak bicara kepadanya: ‹ Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). › Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Rabbmu. › [QS Az-Zumar:30-31]

Dan Dia subhanahu berfirman: ‹ Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. › [QS Al-Mukminun: 15-16]

Wabillahi taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wasallam.

Al-Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsil ilmiyah wal ifta
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil ketua: Abdurrazaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud


▶️ ❾ Kesimpulan

Nabi [ﷺ] tidak hadir di majelis-majelis siapapun dan di manapun, orang yang menyatakan perihal kehadiran beliau adalah dusta dan atau pendusta. Keyakinan demikian adalah salah, sesat lagi menyesatkan. Sehingga roh Nabi tidak bisa dipanggil ke dunia ini dengan ritual pembacaan Berzanji ataupun yang lainnya. Tentu lebih tidak akan bisa dipanggil roh-roh orang yang lebih rendah kedudukannya di bawah beliau baik dari kalangan Aulia’/para wali, orang-orang shalih, syaikh, mursyid, kiyai, habaib, dll. Wallahu ‘alam bishowab.

Url: http://bit.ly/Fw410514
📮••••|Edisi| t.me/s/ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

✍🏻__ t.me/s/salafykawungantenAsy-Syu’ara: 221-222]


Jumat, 15 September 2023

Nafkah Untuk Kedua Orang Tua Adalah Kebaktian Yang Besar




Islam memberikan bimbingan agar kedua orang tua dihormati. Sosok yang harus mendapatkan pemuliaan dan perhatian dari anak-anak mereka. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sady mengungkapkan faedah penting dari menafkahi kedua orang tua.

Beliau rahimahullah mengatakan,

ومن أعظم برهما، النفقة عليهما، ومن أعظم العقوق، ترك الإنفاق عليهما

Termasuk sebesar-besar kebaikan kepada kedua orang tua adalah menafkahi keduanya
Dan termasuk sebesar-besar kedurhakaan adalah tidak memberi nafkah kepada keduanya. [Tafsir as-Sa’di 2:215]

Anak berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada orang tua. Apabila orang tua membutuhkan nafkah dan sang anak berkecukupan serta mampu memberikan nafkah.

Kedua orang tua telah memberikan nafkah, cinta, dan perhatian kepada anak-anak selama bertahun-tahun, dan saat mereka membutuhkan bantuan di masa tua, Islam mendorong anak-anak untuk membalas kebaikan tersebut dengan memberikan nafkah kepada mereka.

Ketika anak berkecukupan dan mampu namun tidak memberi nafkah kepada kedua orang tua, maka itu dianggap sebagai kedurhakaan yang besar dalam Islam.

Dengan demikian, menafkahi kedua orang tua bukan hanya tugas dan kewajiban tetapi juga kebaktian yang besar dalam agama Islam.

Semoga kita semua dapat melaksanakan kewajiban ini dengan ikhlas dan penuh kasih sayang kepada kedua orang tua kita, sehingga kita dapat mencapai kebahagiaan dalam dunia dan akhirat.

Lihat selengkapnya di: 
https://salafytemanggung.com/nafkah-untuk-kedua-orang-tua-adalah-kebaktian-yang-besar/

Selasa, 29 Agustus 2023

Bermata Tapi Buta, Mati Padahal Berhati

Walau hanya obrolan ringan, beberapa pertanyaan yang saya sampaikan kepada Abu Irsyad -sahabat yang mendampingi perjalanan mobil-, dijawabnya dengan lengkap. Sekian tahun menetap di Amsterdam Belanda, Abu Irsyad sangat lancar bercerita tentang kehidupan orang-orang di sana.

“Makan, minum, bekerja, dan berlibur”, Abu Irsyad menyimpulkan singkat tentang aktivitas dan pola pikir orang-orang kafir.

Apa bedanya dengan kehidupan binatang?

Maha benar Allah yang berfirman ; 

 وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّيَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّيُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لاَّيَسْمَعُونَ بِهَآ أُوْلَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)

Allah juga berfirman ;

 وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ اْلأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ 

Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. (QS. 47:12)

Dalam Fathul Qadir (5/32) Al Imam Asy Syaukani menjelaskan,  “Mereka bersenang-senang dengan kepuasan-kepuasan dunia seolah-olah binatang. Tidak ada yang dipikirkan kecuali urusan perut dan seksual. Mereka lalai dari pertanggungjawaban. Mereka tenggelam dalam buaian dunia”

Demikianlah! Kehidupan orang-orang kafir tak ubahnya seperti kehidupan binatang. 

Apa yang mereka pikirkan? Makan, minum, seksual, liburan, tidur, dan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya. Tak terpikir oleh mereka, bahwa hidup di dunia bukan hanya bagaimana bisa bertahan hidup? Tidak sebatas memenangkan kompetisi. Bukan untuk tetap survive di tengah-tengah persaingan global. Hal itu tidak masuk dalam agenda hidup mereka.

Sangat berbeda! Bahkan ibarat timur dan barat, orang yang beriman itu. 

Hidup di dunia sifatnya sementara. Bagai seorang perantau di negeri orang yang ada saatnya pulang ke kampung halaman. Ibarat musafir yang singgah sebentar di teduhnya bayang-bayang pohon yang mau tak mau harus melanjutkan perjalanan.

Hidup di dunia ada tujuannya, yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala. Harus menggunakan fasilitas-fasilitas dunia untuk mencari kebahagiaan akhirat. Ia yakin adanya hari kebangkitan, hari perhitungan amal, hari pertanggungjawaban, dan hari pembalasan. Sekecil apapun yang ia perbuat, ada catatannya. Tak ada yang terluput.

Masih lebih baik lagi binatang! Sebab, binatang-binatang tetap bertasbih; memuji-muji Allah Ta'ala, walau kita tidak bisa memahami bagaimana bentuk tasbih mereka.

Di dalam sahih Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad menjelaskan tentang semut-semut sebagai bangsa yang selalu bertasbih kepada Allah.

Bahkan di dalam Al Quran, ada 4 ayat menyebutkan burung-burung pun selalu bertasbih kepada Allah.

Kembali kepada dirimu, anak muda!

Bagaimanakah hidup engkau jalani selama ini? Apa yang engkau pikirkan untuk hari esok? Janganlah hidup seperti binatang! Punya mata namun buta dari kebesaran Allah. Ada telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar firman-firman-Nya. Diberi akal, lalu akal itu dipakai untuk apa? Hatimu yang harusnya menjadi sumber kehidupan, kenapa justru mati?

Janganlah hidup seperti binatang! Kerjamu hanya bagaimana bisa makan, minum, tidur, bermain, dan bersenang-senang. Jangan dan jangan seperti itu! Cukuplah dan berhentilah dari orientasi-orientasi dunia! Apakah belum tiba saatnya hati ini khusyuk tunduk kepada Allah? Kalau tidak dari sekarang, mau kapan lagi dimulai?

Sumber:
https://t.me/anakmudadansalaf/441

Kamis, 01 Juni 2023

🍃🍄 AWAS MENGGHIBAH


وعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قالَ: «أتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟»
قالُوا: اللَّهُ ورَسُولُهُ أعْلَمُ.
قالَ: «ذِكْرُكَ أخاكَ بِما يَكْرَهُ».
قِيلَ: أرَأيْتَ إنْ كانَ فِي أخِي ما أقُولُ؟
قالَ: «إنْ كانَ فِيهِ ما تَقُولُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتَّهُ». أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, 

Tahukah kalian apa ghibah itu?” 

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” 

Beliau menjawab, “Ghibah adalah kamu menyebut-nyebut tentang saudaramu yang tidak dia sukai.” 

Beliau pun ditanya, “Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?” 

Beliau menjawab, “Jika sesuai yang kamu katakan, maka kamu telah mengghibahnya; jika tidak ada pada diri saudaramu, maka kamu telah membuat kebohongan atasnya.” 

H.R. Muslim [2589].
————————————————————————
📖 Petikan Pelajaran dari Hadits

1. Ghibah adalah akhlak tercela. 

Seorang muslim harus sungguh-sungguh menjaga diri darinya. Sebab wujud ghibah kadang tertutupi oleh keseruan obrolan. 

Syaikh al-Fauzan hafizhahullah mengingatkan, “Banyak orang tidak hati-hati dalam permasalahan ghibah. Yang ada, sangat banyak obrolan yang penuh dengan ghibah dan orang-orangnya bersenang-senang dengan menjatuhkan kehormatan manusia. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Inilah realita ghibah dan bukti bahayanya.” 
Ithaful Kiram, hlm. 173.

2. Hukum ghibah adalah haram bahkan dosa besar, karena itu, tidak boleh mendengarkan atau membiarkannya. Wajib menegur pelaku ghibah, atau jika tidak mampu, maka ia pergi meninggalkan majelis tersebut. [Fiqhu Bulugh al-Maram (5/127)]

Namun, tindakan ghibah diizinkan pada keadaan tertentu saat ada maslahat yang lebih kuat berdasarkan petunjuk syariat, di antara keadaan yang boleh:

A. Melakukan pengaduan atas tindakan kezaliman. 
B. Menyampaikan suatu aib dalam rangka meminta fatwa atau bimbingan dari seorang alim. 
C. Untuk mengingatkan manusia dari bahaya orang tertentu. 
D. Dalam ilmu hadits; yaitu mencela rawi tertentu yang terindikasi atau bahkan terbukti memiliki hafalan buruk atau tidak jujur. [Ithaful Kiram, hlm. 174-175]
E. Untuk memastikan orang tertentu dengan menyebutkan ciri fisiknya. 

3. Perkara ghibah benar-benar serius. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ mengawali kalimat penjelasan tentang ghibah dengan melemparkan pertanyaan, “Tahukah kalian apa ghibah itu?” [Syarah Kitab al-Jamiʼ li Abdil Muhsin al-Qasim, hlm. 113] 

Hal ini untuk lebih menarik perhatian para sahabat. 

4. Sabda Rasulullah ﷺ tentang arti ghibah, “menyebut-nyebut tentang saudaramu” termasuk dalam kalimat ini: anak-anak kecil. Jadi anak-anak pun tidak boleh dighibah. [Syarah Kitab al-Jamiʼ li Abdil Muhsin al-Qasim, hlm. 114]

5. Sabda beliau ﷺ, “tentang saudaramu yang tidak dia sukai”: jadi ghibah adalah kalimat yang isinya celaan kepada orang yang dibicarakan. 

Konteks ghibah ini luas. At-Tahanawi rahimahullah menerangkan, “Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu jika dia mengetahuinya. Baik itu menyebutkan kekurangan dalam tubuhnya, pakaiannya, sifatnya, tindakannya, ucapannya, agamanya, dunianya, anak-anaknya, busananya, rumahnya, atau hewan peliharaannya.” 
Kasyaf Ishthilahat al-Funun wal-‘Ulum, 2/1256.

‎Sumber:
https://t.me/nasehatetam/7539

📡 Turut Menyebarkan:
https://t.me/faedahilmusunnah
https://twitter.com/f_ilmusunnah
https://faedahilmusunnah.blogspot.com
https://youtube.com/@faedahilmusunnah
🌑🌒🌓🌔🌕🌖🌗🌘🌑

Minggu, 14 Mei 2023

MENYEBARKAN SALAM


Salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat muslim adalah menyebarkan salam. Dengannya, akan tumbuh rasa saling cinta di antara mereka, biarpun tidak saling mengenal.

Betapa banyak kita temui anjuran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada kita untuk menyebarkan salam. Abu Hurairah radhiallahu anhu menyampaikan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.”

Beliau ditanya, “Apa saja, wahai Rasulullah?”

Jawab beliau, “Jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam kepadanya. Jika dia memanggilmu, penuhi panggilannya. Apabila dia meminta nasihat kepadamu, berikan nasihat kepadanya. Jika dia bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia[1]. Jika dia sakit, jenguklah dia; dan jika dia meninggal, iringilah jenazahnya.” (HR. al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)


Abu Hurairah radhiallahu anhu juga menyampaikan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Sementara itu, tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjuki kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin, baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Beliau juga menjelaskan bahwa ucapan salam merupakan pintu pertama kerukunan dan kunci pembuka yang membawa rasa cinta. Dengan menyebarkan salam, semakin kokoh kedekatan di antara kaum muslimin. Akan tampak pula syiar mereka yang berbeda dengan para pemeluk agama lain. Di samping itu, menyebarkan salam juga akan melatih jiwa untuk senantiasa berendah hati dan mengagungkan kehormatan kaum muslimin yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Al-Bara bin Azib radhiallahu anhu menukilkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

أَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوا

Sebarkanlah salam, niscaya kalian akan selamat.” (HR. Ahmad. Syaikh al-Albani rahimahullah menilai hadits ini hasan dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 604)

Maksud hadits di atas, kalian akan selamat dari sikap saling menjauh dan pemutusan hubungan. Selain itu, rasa saling cinta di antara kalian akan langgeng. Hati kalian pun akan bersatu dan permusuhan serta pertikaian akan hilang. (Faidhul Qadir, 2/22)

Abdullah bin Amr radhiallahu'anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَأَفْشُوا السَّلاَمَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِالسَّلاَمِ

Ibadahilah ar-Rahman, berikan makanan, dan sebarkan salam, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR. at-Tirmidzi no. 1855. Syaikh al-Albani rahimahullah menilai hadits ini sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Banyak nukilan ucapan para salafus saleh yang menunjukkan keutamaan mengucapkan salam. Di antaranya ialah ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu,

إِنَّ السَّلاَمَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ وَضَعَهُ اللهُ فِي الْأَرْضِ، فَأَفْشُوهُ بَيْنَكُمْ، إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا سَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ فَرَدُّوا عَلَيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ، لِأَنَّهُ ذَكَّرَهُمُ السَّلاَمَ، وَإِنْ لَمْ يُرَدَّ عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَأَطْيَبُ

“Sesungguhnya, as-Salam adalah salah satu nama Allah yang Allah letakkan di bumi. Maka dari itu, sebarkanlah salam di antara kalian. Sesungguhnya, apabila seseorang mengucapkan salam kepada suatu kaum lalu mereka menjawab salamnya, dia memiliki keutamaan derajat di atas mereka karena dia telah mengingatkan mereka dengan salam. Apabila salamnya tidak dijawab, akan dijawab oleh makhluk yang lebih baik darinya.” (Riwayat al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 793 mengatakan bahwa riwayat ini sahih secara mauquf dan sahih secara marfu’)

Abu Hurairah radhiallahu anhu pernah mengatakan,

أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلاَمِ

“Orang yang paling bakhil adalah yang bakhil mengucapkan salam.” (Riwayat al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 795 bahwa riwayat ini sahih secara mauquf dan sahih secara marfu’)


Setelah mengetahui keutamaan dan penting amalan ini dalam kehidupan masyarakat muslimin, tentu tak layak apabila kita remehkan. Lebih-lebih, berkaitan dengan pendidikan anak-anak kita. Sejak dini, mestinya mereka dikenalkan dan dibiasakan dengan ucapan salam sebagaimana yang diajarkan oleh syariat ini.

Bagaimana mungkin akan kita biarkan anak-anak kita saling mengucapkan salam atau melontarkan sapaan dengan ucapan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Atau, bahkan mengadopsi dari kebiasaan orang-orang kafir? Betapa banyak kaum muslimin yang masih membiasakan anak-anak mereka ketika berpisah melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daaah!” Atau, ketika bertemu dengan anak-anaknya dia menyapa, “Halo, Sayang!” Begitu pula si anak akan menjawab, “Halo, Papa! Halo, Mama!”

Betapa banyak hal itu terjadi. Masih banyak pula gambaran yang lain. Sementara itu, contoh yang begitu gamblang kita dapatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau biasa menyapa dan menyampaikan salam kepada anak-anak para sahabat.

Anas bin Malik radhiallahu anhu—pelayan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menghabiskan masa kecilnya dalam bimbingan beliau—menceritakan,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bertemu dengan anak-anak kecil, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.” (HR. Muslim no. 2168)

Peristiwa yang disaksikan oleh Anas bin Malik radhiallahu anhu ini membekas dalam dirinya sehingga Anas pun melakukannya. Tsabit al-Bunani rahimahullah meriwayatkan bahwa dia pernah berjalan bersama Anas bin Malik radhiallahu anhu melewati anak-anak kecil. Anas lalu mengucapkan salam kepada mereka dan mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu biasa melakukannya.” (HR. al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)

Perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini diikuti pula oleh sahabat yang lainnya. Anbasah bin Ammar rahimahullah menceritakan,

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ فِي الكُتَّابِ

“Aku pernah melihat Ibnu Umar memberi salam kepada anak-anak kecil di kuttab[2].” (Riwayat al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakan dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 797 bahwa sanadnya sahih)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu di atas, “Hadits ini menunjukkan disenanginya memberi salam kepada anak-anak yang berusia tamyiz.” (Syarh Shahih Muslim, 14/148)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan penjelasan Ibnu Baththal rahimahullah, “Memberi salam kepada anak-anak mengandung pendidikan terhadap adab-adab syariat. Di dalamnya terkandung pula sikap menjauhi kesombongan pada diri orang-orang yang besar, perilaku tawadhu, dan lemah-lembut kepada orang-orang di sekitar.” (Fathul Bari, 11/40—41)

Memperdengarkan Ucapan Salam

Ketika menyampaikan salam, hendaknya seseorang memperdengarkan ucapan salamnya. Tsabit bin Ubaid rahimahullah meriwayatkan,

أَتَيْتُ مَجْلِسًا فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: إِذَا سَلَّمْتَ فَأَسْمِعْ، فَإِنَّهَا تَحِيَّةٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةٌ طَيِّبَةٌ

Aku pernah mendatangi suatu majelis yang di situ ada Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma. Beliau berkata, “Apabila engkau mengucapkan salam, perdengarkan ucapanmu. Sebab, ucapan salam adalah penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan.” (Riwayat al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 769 mengatakan bahwa sanadnya sahih)

Ucapan Salam ketika Datang dan Pergi

Anak-anak sudah semestinya dibiasakan untuk mengucapkan salam ketika datang dan pergi. Mereka juga perlu mengetahui ucapan salam yang lebih utama. Seseorang yang mengucapkan salam dengan sempurna tentu memiliki keutamaan.

Abu Hurairah radhiallahu anhu menceritakan,

إِنَّ رَجُلاً مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي مَجْلِسٍ، فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَقَالَ: عَشْرَ حَسَنَاتٍ. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَقَالَ: عِشْرُوْنَ حَسَنَةً. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ: ثَلاَثُونَ حَسَنَةً. فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ وَلَمْ يُسَلِّمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ: مَا أَوْشَكَ مَا نَسِيَ صَاحِبُكُمْ، إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ، مَا الْأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ الْآخِرَةِ

Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang saat itu sedang berada di suatu majelis. Orang itu berkata, “Assalamu alaikum.”

Beliau pun bersabda, “Dia mendapat sepuluh kebaikan.”

Datang lagi seorang yang lain, lalu berkata, “Assalamu alaikum warahmatullahi.”

Beliau bersabda, “Dia mendapat dua puluh kebaikan.”

Ada seorang lagi yang datang, lalu mengatakan, “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Beliau pun bersabda, “Dia mendapat tiga puluh kebaikan.”

Kemudian, ada seseorang yang bangkit meninggalkan majelis tanpa mengucapkan salam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun mengatakan, “Betapa cepatnya teman kalian itu lupa. Jika salah seorang di antara kalian mendatangi suatu majelis, hendaknya dia mengucapkan salam. Apabila ingin duduk, hendaknya dia duduk. Apabila dia pergi meninggalkan majelis, hendaknya mengucapkan salam. Tidaklah salam yang pertama lebih utama daripada salam yang akhir.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 757 menilainya sahih)

Yang Muda Memberi Salam kepada yang Lebih Tua

Hendaknya anak-anak diajari pula agar memberi salam kepada orang yang lebih tua. Demikian yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Abu Hurairah radhiallahu anhu menukilkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ

Yang kecil memberi salam kepada yang besar, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR. al-Bukhari no.6234 dan Muslim no. 2160)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan ucapan Ibnu Baththal rahimahullah, “Pemberian salam orang yang lebih muda (kepada yang lebih tua, –pent.) disebabkan hak orang yang lebih tua. Karena itu, orang yang lebih muda diperintahkan untuk memuliakannya dan bersikap rendah hati kepadanya.” (Fathul Bari, 11/22)

Mengucapkan Salam ketika Masuk Rumah

Hal yang tak patut ketinggalan dalam pembiasaan salam adalah mengucapkan salam ketika masuk rumah. Allah azza wa jalla berfirman,

فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ تَحِيَّةً مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةًۚ

Apabila kalian memasuki rumah, ucapkanlah salam bagi diri kalian sebagai penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan.” (an-Nur: 61)

Makna ayat di atas mencakup rumah miliknya dan rumah orang lain, baik di rumah itu ada orang maupun tidak.

Makna firman Allah subhanahu wa ta’ala, “… ucapkanlah salam bagi diri kalian,” ialah seseorang hendaknya mengucapkan salam kepada yang lain. Sebab, kaum muslimin itu bagaikan satu individu, dari sisi saling cinta dan saling menyayangi serta mengasihi di antara mereka. Jadi, ucapan salam disyariatkan ketika memasuki semua rumah, tanpa dibedakan rumah yang satu dengan yang lain. (Taisirul Karimir Rahman, hlm. 575)

Mujahid dan Qatadah menjelaskan, “Apabila engkau masuk rumah untuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam kepada mereka. Apabila engkau masuk rumah yang tak berpenghuni, ucapkanlah,

السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

ASSALAAMU’ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/431)


Ini perlu dibiasakan pada anak-anak. Sebab, orang yang masuk rumah dengan mengucapkan salam memiliki keutamaan. Abu Umamah al-Bahili radhiallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ  … (مِنْهَا) وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلاَمٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Ada tiga orang yang mendapat jaminan dari Allah azza wa jalla, … (di antaranya) seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, dia mendapatkan jaminan dari Allah azza wa jalla.” (HR. Abu Dawud no. 2494. Syaikh al-Albani rahimahullah menilainya sahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Menjawab Salam dengan yang Lebih Baik

Anak-anak perlu diajari pula cara menjawab salam sesuai dengan tuntunan syariat. Allah azza wa jalla memerintahkan,

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ

Dan apabila kalian diucapkan salam penghormatan, balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa) ….” (an-Nisa: 86)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian, balaslah dengan ucapan salam yang lebih utama daripada yang dia ucapkan, atau balaslah sebagaimana yang dia ucapkan. Jadi, membalas salam dengan menambah ucapan salam hukumnya sunnah, sedangkan membalas dengan ucapan yang sama hukumnya wajib.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/269)

Demikian yang semestinya dilakukan oleh setiap orang tua dalam menanamkan kebiasaan ini. Begitu pula hendaknya yang ditempuh oleh pengajar yang mendidik anak-anak. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu memberikan nasihat, “Apabila seorang pengajar memasuki kelas, hendaknya dia mengucapkan salam dengan mengatakan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hendaknya pula dia mengetahui bahwa ini adalah perilaku Islami yang agung, yang memperkuat ikatan cinta dan kepercayaan di antara murid, serta antara pengajar dan muridnya.”

Beliau menambahkan, “Tidak sepantasnya mengucapkan salam dengan kalimat ‘selamat pagi’ atau ‘selamat sore’. Namun, tidak mengapa, setelah memberikan salam, dia mengucapkan perkataan itu dengan sedikit perubahan. Misalnya, ‘Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu pagi ini,’ sehingga ucapan itu mengandung makna doa ….” (Nida` ilal Murabbiyin wal Murabbiyat, hlm. 17)


Inilah tuntunan Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan di antara kaum muslimin. Tentu saja, kita harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sebagai gantinya, kita menghidupkan sunnah yang sedemikian benderang ini dalam kehidupan kita dan anak-anak kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki

[1] Dengan mengucapkan yarhamukallah.

[2] Kuttab adalah tempat anak-anak belajar membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur’an.

Sumber: 
🌏 https://asysyariah.com/menyebarkan-salam/

Rabu, 03 Mei 2023

💰💸 KAYA TIDAK MESTI TERCELA

Sahabat 'Abdurrahman Bin 'Auf radhiyallahu 'anhu berkata,

يَا حَبَّذَا المَالُ؛ أَصُونُ بِهِ عِرْضِي ، و أُرْضِي به رَبِّي.

"Duhai bagusnya Harta itu! 

Dengannya aku bisa menjaga kehormatanku¹, dan dengannya pula aku bisa membuat ridha Rabbku²."

[Adabu ad-Dunyā Wa ad-Dīn : 1/329, melalui Mawā'izh ash-Shahābah]

Cat. :
¹ Menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta.

²Membuat ridha Allah dengan harta adalah seseorang menyalurkan harta kekayaannya di jalan-jalan kebenaran.
Seperti : bersedekah, membayar zakat, menafkahi keluarga, waqaf, untuk bekal haji & umrah, membangun masjid, berjihad, membangun pondok pesantren, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, serta amal-amal kebajikan yang semisalnya.

Sumber:
https://t.me/ahlussunnahmalang/3505

📡 Turut Menyebarkan:
https://t.me/faedahilmusunnah
https://twitter.com/f_ilmusunnah
https://faedahilmusunnah.blogspot.com
https://youtube.com/@faedahilmusunnah
🌑🌒🌓🌔🌕🌖🌗🌘🌑

Selasa, 18 April 2023

FENOMENA-FENOMENA JELEK YANG MENYEDIHKAN

Asy-Syaikh Ali bin Husain Al-Adeni Asy-Syarafi hafizhahullah

Di sana ada fenomena-fenomena yang jelek terjadi di tengah-tengah masyarakat. Padahal fenomena-fenomena yang jelek ini berdampak negatif yang besar terhadap tatanan kehidupan, serta banyak madharatnya.

Sebagian orang melakukannya; entah karena tidak tahu madharatnya, atau sebenernya mengetahui tapi meremehkannya.

Di antara fenomena jelek tersebut;

1. Mendoakan kejelekan untuk anak.

Terkadang seorang anak melakukan sedikit dari kesalahan, kemudian ibu atau bapaknya mendoakan kejelekan untuknya. 

Sehingga dampak dari doa itu sangat menyakitkan dan menyedihkan. 

Terkadang membuat si anak tertimpa sesuatu yang menyebabkan kematiannya, atau terkena cacat fisik permanen, atau juga si anak memiliki sikap-sikap (tidak baik) yang meresahkan (misal, menjadi anak nakal, pent) sehingga membuat gelisah kedua orangtuanya.

Kecemasan dan kesedihan pun menyelimuti kedua orantuanya. Dan yang merasakan sakit karena kematiannya, atau cacat fisik permanennya itu orangtua itu sendiri.

Jadi, janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian, tapi doakanlah mereka dengan kebaikan !

Disebutkan dalam sebuah hadits;

 لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ 

"Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri kalian sendiri, janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian, dan janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk harta-harta kalian, sehingga kalian tidak menepati suatu waktu yang bila Allah dimintai sesuatu padanya, Dia akan mengabulkannya bagi kalian". HR. Muslim.

Anak adalah bagian dari orangtua, sebagaimana Nabi sabdakan, "Sesungguhnya Fathimah itu termasuk bagian dariku". Jadi, kalau orangtua mendoakan kejelekan untuk anaknya sendiri, maka seakan-akan dia sedang mendoakan kejelekan untuk dirinya sendiri. Tentulah jelas hal ini merupakan fenomena yang jelek.

Mendidik anak itu ada tiga metode:
1. Memberi bimbingan dan pengajaran.
2. Pemberian contoh dari kedua orangtua.
3. Memberi pukulan yang ringan bila memang dibutuhkan.

Adapun mendoakan kejelekan untuk anak-anak maka ini tidak ada kebaikan padanya. Bukan pendidikan yang benar.

Yang wajib bagi seorang adalah mendoakan kebaikan. Mendoakan kebaikan buat anak, seperti: "Semoga Allah memperbaiki keadaanmu", atau "semoga Allah memberi hidayah kepadamu", atau semisal dengannya dari doa-doa yang baik. Karena buah hasil dari doa seperti ini adalah kebaikan.

2. Mengabaikan anak-anak yang masih kecil dan membiarkan mereka berada di luar rumah dalam waktu yang lama.

Terlebih dia dibiarkan (bermain) bersama orang-orang yang tidak bisa dipercayai. Atau (dibiarkan di luar) di waktu-waktu yang kebanyakan manusia sedang di rumah. 

Dan di waktu-waktu yang kebanyakan manusia sedang di rumahnya, maka tidak ada seorang yang akan memerhatikan keberadaan anak tersebut. Bisa jadi dia diperlakukan tidak senonoh oleh orang dewasa, sehingga menyesallah kedua orangtuanya.

3. Menelantarkan anak-anak usia remaja, tidak memperhatikan keadaannya, tidak menanyainya, dan tidak mendekatinya.

Seharusnya bagi orangtua mengetahui ke mana anak-anaknya pergi, dan dengan siapa berteman. Terlebih kalau dia sering tidak ada (di rumah).

Kebanyakan anak-anak remaja yang selalu berbuat ulah -hadaahumullah- mereka tidak tahu apa yang mendatangkan maslahat buat mereka dan apa yang merusak mereka. Mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang merusak. 

Barangkali dia berteman dengan anak seusia mereka kemudian mengajarinya narkoba, Qat, atau sesuatu yang dapat merusak akhlak mereka seperti aliran kebebasan (punk).

Kemudian anak tersebut kecanduan dengan hal-hal yang diajarkan kepadanya, dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun sehingga sulit bagi orangtuanya untuk memperbaiki anaknya itu.

Dan jika menelantarkan para remaja itu membahayakan, tentulah lebih membayahakan lagi bila menelantarkan para remaji (putri).

4. Memberikan handphone (HP) kepada anak-anak kecil.

Hal ini akan merusak akal anak-anak, merusak ahklak mereka, dan merusak tabiat mereka. Bisa menjadikan si anak kecanduan dengan handphone.

Demikian pula memberikan kepada mereka remote televisi (TV). 

Ini kejelekan yang besar !

Karena dengan itu, anak-anak bisa mengganti chanel-chanel tayangan, hingga barangkali dia masuk pada chanel yang padanya terdapat kerusakan.

Sehingga tertambat pada benaknya gambar-gambar (tidak senonoh), lalu ia sulit terlepas darinya semasa hidupnya.

Maka bertakwalah kepada Allah terhadap pendidikan anak-anak kalian, dan semangatlah untuk mendidik mereka dengan pendidikan yang baik !

📑Diringkas dari khutbah Syaikh Ali yang berjudul: Zhawahir Sayyiah

Sumber: 
https://t.me/RaudhatulAnwar1/831

📡 Turut Menyebarkan:
https://t.me/faedahilmusunnah
https://twitter.com/f_ilmusunnah
https://faedahilmusunnah.blogspot.com
https://youtube.com/@faedahilmusunnah
🌑🌒🌓🌔🌕🌖🌗🌘🌑

Kamis, 13 April 2023

Hakekat Kehidupan Dunia


🍚🍲HIDANGAN PERTAMA AHLUL JANAH



Hidangan pertama ahlul janah adalah hati ikan. Kemudian ‎disembelihkan sapi janah untuk mereka. Mereka minum dari mata air ‎salsabil. ‎
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,‎

وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوتِ

‎“Adapun hidangan pertama yang dimakan penduduk surga adalah ‎bagian terlezat dari hati ikan.”‎
HR. al-Bukhari No. 3938‌‏ ‏

Seorang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dia ‎mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak mungkin ada yang bisa ‎menjawabnya selain seorang nabi. Dia berkata,‎

فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: زِيَادَةُ كَبِدِ النُّونِ. قَالَ: فَمَا غَذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا؟ قَالَ: ‏يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا. قَالَ: فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ: مِنْ عَيْنٍ فِيهَا ‏تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا

‎“Suguhan apakah yang diberikan kepada penduduk janah ketika ‎memasukinya?” Beliau menjawab, “Bagian terlezat dari hati ikan.”‎
Si Yahudi bertanya lagi, “Hidangan apakah yang diberikan setelahnya?” ‎Rasul menjawab, “Disembelihkan untuk mereka sapi janah yang ‎mencari makan di tepi-tepi janah.”‎
Si Yahudi berkata, “Apakah minuman mereka?”‎
‎“Dari mata air bernama Salsabil.” ‎
‎(HR. Muslim, dari Tsauban radhiyallahu anhu maula ‎Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam)‎

Sumber:‎
https://asysyariah.com/surga-kenikmatan-abadi-yang-telah-ada/‎

📡 Turut Menyebarkan:‎
https://t.me/faedahilmusunnah
https://twitter.com/f_ilmusunnah
https://faedahilmusunnah.blogspot.com
https://youtube.com/@faedahilmusunnah
🌑🌒🌓🌔🌕🌖🌗🌘🌑

Rabu, 08 Maret 2023

🍭🍡 NASEHAT SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA



🤲 Berkata Ibu rahimahallah kepadaku:

"Hendaknya engkau menjadi orang yang cukup (qona'ah) dan tidak menjadi orang yang kaya (tamak)"

Penjelasan:
Nasehat ini insya Allah didukung oleh dalil-dalil syariat, diantaranya adalah:

1️⃣ Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

(وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ)

Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

2️⃣ Dan juga sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim didalam kitab shahihnya, dari Abdullah bin Amr rodhiyallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

«قد أفلح من أسلم، ورُزِق كِفافًا، وقنَّعه الله» (رواه مسلم: [1054]).

Artinya:
"Sungguh beruntung orang yang berislam, diberikan rizki secukupnya dan merasa puas dengan apa yang Allah berikan"
📚HR Muslim  no 1054
@uimusy

3️⃣ Serta penjelasan dari Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahu tentang sifat qona'ah:

"Diantara nikmat Allah atas seorang hamba, Allah berikan taufik kepada hamba tersebut untuk memiliki sifat qonaah (merasa cukup atas pemberian Allah ta'ala).

Baik itu pada tempat tinggalnya, pakaiannya, kendaraannya, atau pada anak-anaknya, pada istrinya atau yang selain itu.

Maka apabila seorang hamba diberikan sikap qonaah dari apa yang Allah berikan kepadanya, maka ia akan menjadi orang merasa kaya.

Sebaliknya apabila dicabut sifat qonaah dari hatinya, maka ia akan merasa miskin dari apa yang miliki, baik itu berupa harta ataupun yang lainnya.

📚Fathu Dzil Jalali wal Ikram (6/272).
@ForumSalafyPurbalingga

اللهم اغفر لأمنا وارحمها وعافها واعف عنها

آمين يا مجيب السائلين


📡 Gabung di Channel:
https://t.me/faedahilmusunnah
Twitter: https://twitter.com/f_ilmusunnah
🌑🌒🌓🌔🌕🌖🌗🌘🌑